Senin, 02 Juli 2018

Ganjar Akui Strategi Yang Diterapkan Sudirman-Ida di Pilgub Jateng 2018 Berhasil

Cagub Ganjar Pranowo mengakui strategi yang dilakukan Sudirman dan
Ida di Pilgub Jateng 2018 cukup bagus. 
Semarang-Meskipun bisa dikatakan menang dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018 lewat hitung cepat, Calon Gubernur (Cagub) Ganjar Pranowo tidak menunjukkan kegembiraan yang berlebihan. Bahkan, Ganjar mengakui jika strategi yang diterapkan pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah di pilkada bisa dibilang berhasil.

Menurutnya, suara yang diraih Sudirman-Ida begitu besar itu sudah diprediksi sebelumnya. Karena, dari survei internal diperkirakan ada beberapa daerah yang bakal mengalami penurunan suara.

Ganjar menjelaskan, penurunan suara itu terjadi di Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kebumen. Sehingga, perkiraan itu yang kemudian menjadi nyata tidak terlalu mengejutkan.

"Saya mengakui pihak Pak Dirman dan Mbak Ida strateginya jitu, bagus. Kita kalahlah di situ, tak akui. Karena dari hasil survei, kita sedikit meleset dan sudah kita prediksi itu," kata Ganjar di Semarang.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, dari hasil hitung cepat suara Sudirman-Ida di atas 40 persen dan merupakan capaian luar biasa.

Namun demikian, ia menepis anggapan jka Jateng tidak lagi didominasi PDI Perjuangan. 

Menurut Ganjar, perolehan suara itu merupakan dinamika politik yang berkembang di Jateng. 

"Strateginya Pak Dirman dan Mbak Ida ini jelang pencoblosan sangat bagus," pungkasnya. (K-08)

Sudirman: KPU Jangan Main-main Dengan Sistem Nanti Rakyat Marah

Cagub Sudirman Said (dua dari kiri) meminta KPU Jateng agar bekerja
sesuai dengan prosedur. 
Semarang-Calon Gubernur (Cagub) Sudirman Said mengatakan raihan suara yang saat ini muncul sebesar 40 persenan itu, merupakan angka yang tidak pernah diduga sebelumnya. Sehingga, angka ini dipandang cukup besar jumlahnya dan patut mendapat apresisasi.

Menurutnya, hasil yang itu tidak lepas dari kerja para relawan dan seluruh partai pendukung serta pengusung dalam menyosialisasikan kepada masyarakat.

Sudirman menjelaskan, untuk saat ini yang masuk tahapan penghitungan suara di tingkat kecamatan, diharapkan semua pihak bisa menjalankan tugasnya. Terutama adalah penyelenggara pilkada, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah.

Oleh karena itu, lanjut mantan menteri ESDM tersebut, penyelenggara pemilu jangan menyakiti hati rakyat di dalam menjalankan tugas amanat rakyat di pesta demokrasi.

"Sekarang ini tinggal beberapa hari yang sangat menentukan. Apakah suara rakyat itu akan nyampe pada keputusan yang benar atau tidak. Tolong jangan main-main, nanti rakyat marah. Jangan main-main dengan sistem, jangan main-main dengan prosedur. Saksi diberikan hak untuk memberikan keterangan yang baik. Minta tolong KPU dan seluruh penyelenggara yang akan memutuskan ujung itu. Jika keputusan obyektif, rakyat pasti menerima dengan tenang. Tapi kalau keputusan dibumbui, saya khawatir marah. Dan 40 persen itu besar, bukan jumlah yang kecil," kata Sudirman di Hotel Grasia, kemarin.

Lebih lanjut Sudirman menjelaskan, sebenarnya ada pihak-pihak yang tidak rela jika ia dan Ida Fauziyah meraih suara hingga 40 persen. Sehingga, ia mengklaim ada pihak yang berupaya menciderai demokrasi di Jateng. 

"Saya bukannya tidak dalam posisi tidak mau menerima kekalahan. Kami siap menempuh jalur hukum jika memang ditemukan hal-hal yang tidak benar," pungkasnya. (K-08)

Tarif Angkutan Lebaran Sebabkan Jateng Inflasi 0,70 Persen

Kepala BPS Jateng Margo Yuwono menyebutkan, tiket angkutan men-
jadi pemicu terjadinya inflasi pada Juni 2018. 
Semarang-Jawa Tengah pada Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 0,70 persen, dan hampir merata di setiap kota di provinsi ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Margo Yuwono mengatakan inflasi yang cukup tinggi di provinsi itu, tidak lepas karena sebelumnya terjadi deflasi. Sehingga, karena berdekatan dengan masa Lebaran, menyebabkan Juni terjadi inflasi yang cukup tinggi.

Menurutnya, pola tersebut sebenarnya dianggap cukup wajar dan biasa terjadi ketika momentum perayaan agama dengan permintaan masyarakat yang meningkat.

Margo menjelaskan, pemicu dari inflasi di Jateng itu adalah kelompok transportasi. Terutama tiket bus Lebaran dan tiket pesawat. Khusus tiket bus antarkota antarprovinsi paling tinggi, karena memang permintaan dari masyarakat juga tinggi. 

Selain harga tiket angkutan Lebaran, jelas Margo, pemicu inflasi lainnya adalah harga daging ayam ras, kacang panjang dan udang basah.

Namun demikian, masih ada komoditas yang menahan laju inflasi Jateng, yakni turunnya harga telur ayam ras, beras, cabai merah dan nangka muda.

"Andilnya itu disebabkan angkutan antarkota memberikan andil 0,1294 persen dari inflasi. Kalau dipilah lagi ke dalam, penyebabnya itu karena angkutan kota antarprovinsi harganya ditentukan mekanisme pasar. Kalau pemerintah itu hanya mengatur tarif angkutan kota dalam provinsi dan tidak memberikan kontribusi yang besar," kata Margo usai menyampaikan rilis di kantornya, Senin (2/7).

Lebih lanjut Margo menjelaskan, untuk di Jateng dua wilayah yang mengalami inflasi tinggi berada di Purwokerto dan Kota Tegal. Masing-masing sebesar 0,97 persen. Sedangkan Kota Semarang mengalami inflasi sebesar 0,64 persen. (K-08)

Dinas Pendidikan Jateng Tetap Minta Sekolah Tampung Siswa Miskin Minimal 20 Persen

Semarang-Pendaftaran siswa baru untuk tahun ajaran 2018/2019 sudah dimulai, dan setiap sekolah diminta agar memerhatikan daya tampung bagi siswa tidak mampu.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Gatot Bambang Hastowo mengatakan aturan kuota minimal dalam pendaftaran sekolah adalah 20 persen, sedangkan batasan maksimalnya diatur.

Menurutnya, dalam peraturan yang ada hanya disebutkan batasan minimal untuk menampung siswa tidak mampu saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Gatot menjelaskan, kuota siswa kurang mampu sebesar minimal 20 persen juga harus memerhatikan jarak rumah siswa dengan sekolah. Sehingga, akan membantu dari segi transportasi. 

Selain nilai dan prestasi, lanjut Gatot, nantinya setiap siswa kurang mampu bersaing dengan zonasi. Sehingga, pemerataan siswa bisa tercapai.

"Kuota siswa miskin minimal 20 persen, sehingga maksimalnya tidak diatur. Jadi, bisa saja nanti satu sekolah itu siswa miskinnya 35 persen. Ini pemerintah hadir dalam rangka mengurangi angka kemiskinan, lewat dunia pendidikan. Kalau anak guru kita fasilitasi diterima di tempat orang tuanya mengajar," kata Gatot.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan, dengan semakin banyak siswa kurang mampu diterima di sekolah negeri, maka pemerintah hadir untuk mengurangi angka kemiskinan di provinsi ini.

Sementara itu, Gatot meminta kepada pihak sekolah agar melaksanakan PPDB dengan prinsip obyektif, transparan, akuntabel, tidak diskriminatif dan tidak membedakan suku atau agama serta lainnya. (K-08)

DKP Jateng Serahkan 4 Ekor Alligator Fish ke BKIPM Semarang

Dua pegawai BKIPM Kota Semarang mengangkat kantong plastik yang
berisi alligator fish, hasil penyerahan dari Dinas Kelautan dan Perikanan
Jateng, Senin (2/7).
Semarang-Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah Lalu M. Syafriadi menyerahkan empat ekor alligator fish, yang sebelumnya menghias ruangan di kantor dinasnya selama setahun.

Lalu mengatakan empat ekor alligator fish sebelumnya ditemukan di pasar ikan hias, dan kemudian dipelihara di kantor sebagai binatang peliharaan. Saat diserahkan, ukuran ikan tersebut panjangnya mencapai 30 sentimeter.

Menurutnya, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pelarangan Memasukkan Jenis ikan Yang Membahayakan Masuk Wilayah NKRI, maka alligator fish masuk kategori ikan berbahaya dan buas.

Oleh karena itu, jelas Lalu, keempat ekor ikan tersebut kemudian diserahkan ke kantor Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kota Semarang, Senin (2/7).

"Yang dulu ini kan masuk ikan hias. Nah, sekarang bagaimana dengan gerakan ini betul-betul masyarakat sadar bahwa pengendalian ekosistem dan kelestarian sumber daya ikan wajib untuk dilindungi. Ikan buas itu akan menghabiskan jenis ikan lokal. Sebab, ikan buas itu bersifat kanibal, sangat rakus," kata Lalu.

Sementara itu, Kepala BKIPM Kota Semarang Gatot R. Perdana menyambut baik langkah yang dilakukan DKP Jateng menyerahkan ikan buas jenis alligator fish.

Menurutnya, dari hasil pantuan memang masih banyak masyarakat yang memelihara ikan berbahaya tersebut. Harapannya, dengan contoh dari DKP Jateng bisa diikuti masyarakat lainnya.

"Mudah-mudahan masyarakat Jawa Tengah ikut serta berpartisipasi ikut menjaga sumber dya ikan yang ada di Jawa Tengah. Dengan menyerahkan ikan berbahaya yang dipeliharanya, kita bisa tangani bersama," ujarnya.

Lebih lanjut Gatot menjelaskan, dari hasil ikan berbahaya yang akan diserahkan masyarakat nantinya akan didata. Nantinya, setelah berkoordinasi dengan pusat langkah selanjutnya ikan akan dimusnahkan atau diserahkan ke lembaga penelitian. (K-08)