Kamis, 26 Juli 2018

30 Mahasiswa Diajak PLN Ikut Ekspedisi Papua Terang

Sebanyak 30 mahasiswa UGM akan dikirim ke Papua, untuk mengikuti
Ekspedisi Papua Terang yang diselenggarakan PLN. Foto: ISTIMEWA 
Semarang-Sebanyak 30 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) diajak PLN, tergabung dalam program Ekspedisi Papua Terang. Para mahasiswa yang dikirim itu berasal dari bermacam fakultas. Mulai dari Fakultas Teknik, MIPA, Ilmu Budaya dan Fakultas Filsafat yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UGM. 

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr mengatakan Ekpedisi Papua Terang merupakan upaya PLN yang bersinergi dengan stakeholder, untuk mewujudkan percepatan pemerataan pembangunan di Indonesia Timur. Yakni dalam upaya elektrifikasi desa-desa di Papua. Sebab, saat ini rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat masih sekira 53,62 persen.

Djagal menyatakan, PLN menggandeng UGM untuk melaksanakan Program Listrik Desa, agar semakin banyak daerah di Indonesia mendapatkan layanan listrik.

"Untuk memertahankan Papua, kita harus membangun secara cepat, sehingga masyarakat Papua tidak merasa dianaktirikan. Sekarang pemerintah sedang membangun infrastuktur yang baik di sana, mulai dari jalan, pelabuhan dan bandara. Sekarang disusul kelistrikan melalui program Papua Terang. Ini merupakan suatu langkah yang sangat positif," kata Djagal dikutip dari rilis yang diterima kilas9.com

Mahasiswa UGM yang akan dikirim ke Papua. 
Lebih lanjut Djagal menjelaskan, kepada mahasiswa yang dikirim ke Papua sebagai peserta ekspedisi, harus segera beradaptasi. Baik lingkungan maupun budayanya. 

Nantinya, ke-30 mahasiswa UGM itu akan bergabung dengan tim lainnya dari kampus berbeda di seluruh Indonesia. Totalnya mencapai 165 mahasiea dari lima perguruan tinggi. Yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, UGM, Institute Teknologi Sepuluh November dan Univeristas Cenderawasih.

Para mahasiswa itu akan bergabung dengan 130 relawan dari PLN. Peserta Ekspedisi Papua Terang akan melakukan survei geografi, demografi, potensi energi baru terbarukan maupun sistem jaringan evakuasi daya di 415 desa di 24 kabupaten di Papua dan satu kabupaten di Papua Barat. (K-08) 

Pemprov Jateng Dorong Kabupaten/Kota Terus Petakan Warga Miskin di Wilayahnya

Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah
Semarang-Upaya Pemprov Jawa Tengah di dalam menurunkan angka kemiskinan, terus dilakukan secara masif dan terstruktur. Tujuannya, warga miskin di provinsi ini terus berkurang dan masuk kategori keluarga sejahtera.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara instan, dan harus bertahap serta melibatkan banyak pihak. Mulai dari level provinsi sampai dengan pemerintahan di desa.

Menurutnya, untuk level pemerintahan di dalam menerapkan program pengentasan kemiskinan dibutuhkan ketepatan data warga miskin. Sehingga, program atau kebijakan yang diambil tidak meleset.

Ganjar menjelaskan, ada tiga hal yang akan dijadikan fokus penurunan angka kemiskinan di Jateng dalam lima tahun mendatang. Yakni bidang pendidikan, kesehatan dan program pendampingan. 

Oleh karena itu, semua kabupaten/kota di Jateng hingga pemerintah desa harus bisa memetakan warga miskin di daerahnya, agar program penggentasan kemiskinan bisa terarah.

"Kabupaten/kota bahkan level desa ada kesadaran penuh, tidak malu dan mengerti bahwa di tempatnya warga kemiskinan masih banyak. Tugas provinsi sebenarnya merangsang dan memberikan data, termasuk berbagi program, apakah itu rumah tidak layak huni atau yang lainnya," kata Ganjar, Kamis (26/7).

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, pemprov akan bersinergi dengan pemerintah pusat di dalam "mengeroyok" warga miskin dengan pendampingan program padat karya. Namun demikian, yang lebih penting adalah mampu mendorong masyarakat untuk bisa memiliki kemandirian ekonomi.

"Padat karya itu salah satu dan tidak bisa hanya itu. Ke depan, harus ada program yang bisa menolong mereka mandiri secara ekonomi," pungkasnya. (K-08)

Gandeng USAID-Jalin, Dinkes Jateng Upayakan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi

Yulianto Prabowo
Kepala Dinas Kesehatan Jateng
Semarang-Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan pihaknya terus berupaya, untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi pada tahun ini. Salah satunya, dengan menjalin kemitraan dengan USAID-Jalin.

Yulianto menjelaskan, program menurunkan angka kematian ibu dan bayi merupakan fokus pemerintah di bidang kesehatan.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang bisa menyelamatkan ibu dan bayi. Salah satunya adalah faktor pelayanan kesehatan.

Dengan program kemitraan bersama USAID-Jalin itu, jelas Yulianto, diharapkan bisa memercepat upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Jateng pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

"Jalin ini bukan singkatan tapi Jalin merupakan kolaborasi dan gotong royong dengan beberapa elemen. Jalin, salah satu yang kita butuhkan adalah kemitraan," kata Yulianto saat membuka pertemuan dengan USAID-Jalin di Wisma Perdamaian, kemarin.

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, di Jateng ada beberapa perkembangan terkait angka kematian ibu dan bayi dari 2017 hingga semester pertama 2018. Sampai dengan saat ini, angka kematian ibu mencapai 227 kasus.

Sementara itu, Direktur Partnership USAID-Jalin Sri Kusuma Hartani menambahkan, program kemitraan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi ini akan mengedepankan pendekatan kolaboratif.

"Kami akan merangkul semua pihak, baik dari pemerintah, masyarakat, media dan stakeholder. Kami akan fokus untuk menurunkan kematian ibu dan anak," ujar Sri Kusuma. (K-08) 

Cegah MERS, Menkes Ingatkan Jamaah Calhaj Tak Dekati Unta Saat di Tanah Suci

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek meminta para
jamaah calon haji, untuk mencegah virus MERS selama
di Tanah Suci tidak mendekati unta. 
Semarang-Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek mewanti-wanti kepada para jamaah calon haji (calhaj), agar tidak berinteraksi atau berdekatan dengan unta selama berada di Arab Saudi. Peringatan itu disampaikan, untuk mengantisipasi terjangkitnya virus Middle East Respiratory Syndrome atau MERS. Sebab, virus itu salah satu penularannya lewat air liur unta.

Menurutnya, imbauan untuk tidak berinterasi dengan unta walaupun sekadar foto bersama sudah disampaikan melalui sejumlah embarkasi. Tujuannya, agar seluruh jamaah calhaj tahu dan paham bahaya dari MERS. Ia juga menganjurkan kepada jamaah calhaj, agar selalu menggunakan masker saat di Tanah Suci ketika sedang melaksanakan kegiatan apapun.

Nila Moeloek menjelaskan, virus MERS hingga kini masih menjadi kewaspadaan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Karena, virus itu menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan kematian bagi penderitanya bila terlambat penanganan medisnya.

Menkes juga mengimbau jamaah calhaj, agar selalu menyediakan obat-obatan pribadi yang dibutuhkan. Terutama, bagi jamaah yang memiliki riwayat sakit. Pihak Kementerian Kesehatan juga tetap menyiagakan tim kesehatan, untuk mendampingi kelompok jamaah calhaj saat di Tanah Suci.

"Kita sudah membuat namanya tim promotif dan preventif. Jadi, setiap kelompok dikawal untuk selalu diingatkan makan dan minum obat bagi jamaah lansia dan menderita sakit. Tim akan dibekali peralatan kesehatan sederhana, termasuk semprotan air untuk membasahi wajah, karena di sana cukup panas. Kami juga siagakan tim kesehatan cepat tanggap kalau diperlukan tindakan darurat," kata menkes saat di Semarang.

Lebih lanjut Nila Moeloek menjelaskan, para jamaah calhaj juga diminta selalu menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji. Serta, selalu memerhatikan pola makan dan mengonsumsi buah dan sayur ditambah minum air untuk menghindari dehidrasi.

"Jangan lupa selalu berkoordinasi dengan pendampingnya, jika ada keluhan kesehatan," tandasnya. (K-08)