Senin, 06 Agustus 2018

Sukseskan Germas, Dinkes Boyolali Ajak Generasi Muda

Kepala Dinkes Jateng dr Yulianto Prabowo (kiri) bersama Kepala Dinkes
Boyolali dr. Ratri S Survivalina sedang berdiskusi tentang program dari
Germas. 
Semarang-Kepala Dinas Kesehatan Boyolali dr. Ratri S Survivalina mengatakan dalam setahun terakhir ini, pihaknya banyak kehilangan kader-kader kesehatan. Latar belakangnya, karena kader kesehatan sebelumnya kebanyakan sudah berusia lanjut.

Kondisi tersebut, jelas Ratri, membuat pihaknya harus mencari solusi di dalam kaderisasi. Sehingga, dipilih anak-anak muda dari desa yang direkrut menjadi kader kesehatan. Dengan merekrut kader kesehatan dari anak muda, diharapkan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) bisa tercapai.

"Upaya meregenerasi kader kesehatan, kami sebut Sukmadesi dan Sukmakoboi. Untuk Sukmadesi fokusnya menjadi kader di desa, mewujudkan program Desaku Kebanggaanku. Yang Sukmakoboi itu menyasar ke komunitas," kata Ratri belum lama ini di Semarang.

Sementara itu, Kepala Dinkes Jateng dr. Yulianto Prabowo, M.Kes menambahkan, dengan mengajak generasi muda, maka bisa memberikan kontribusi yang lebih dari suksesnya program Germas.

Menurutnya, generasi muda cukup potensial di dalam menyebarkan ajakan berperilaku hidup sehat.

"Kalau ini bisa dikembangkan di kabupaten/kota yang lain, maka menjadi lebih baik dalam rangka menuju Jawa Tengah sehat. Sebab, generasi muda sekarang ini banyak yang kuliah di luar desa atau daerah. Ada juga yang jadi buruh pabrik," ucap Yulianto. (K-08)

PascaGempa, PLN Siap Normalkan Listrik di Lombok

Sejumlah personel PDKB PLN sedang menyiapkan peralatan yang akan
digunakan untuk penanganan keadaan darurat, misalnya gempa bumi. 
Semarang-Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka dalam rilis mengatakan berkaitan dengan gempa yang terjadi di Lombok, pihaknya menjelaskan tentang kondisi kelistrikan pada saat ini. 

Akibat gempa dengan kekuatan 7 SR, pada Minggu (5/8) malam kemarin, sejumlah daerah yang terdampak bencana di wilayah Lombok, Bali dan sekitarnya mengalami gangguan kelistrikan. 

Menurutnya, sistem kelistrikan di Lombok yang menyuplai Kota Mataram dan sekitarnya sebagian besar masih padam. Bahkan, saat hempa terjadi, beberapa daerah yang disuplai Sistem Lombok masih menyala dengan beban 50 MW dari beban sistem normal sebesar 220 MW. 

Made menjelaskan, di Lombok ada dua sistem kelistrikan. Yakni sistem kelistrikan Sumbawa dan Bima sebagian besar menyala dan aman, walaupun ada beberapa sebagian kecil daerah yang masih padam.

Guna memulihkan pasokan listrik di daerah terdampak gempa, jelas Made, PLN melakukan sejumlah upaya percepatan. Mulai dari inventarisasi kondisi aset di semua lokasi pembangkit, pemulihan listrik di daerah padam secara bertahap sesuai standar dan mengantisipasi adanya gempa susulan. Serta, berkoordinasi dengan unit-unit PLN lain di Bali dan Jawa Timur untuk bantuan personel, peralatan dan material.

"Kami imbau kepada masyarakat serta pegawai PLN, anak perusahaan dan mitra kerja untuk tetap tenang, waspada dan mengikuti arahan serta informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat. Diharapkan, tidak terpancing dengan isu yang tidak bertanggungjawab mengenai gempa susulan dan tsunami," kata Made. 

Diketahui, terjadi gempa bumi di sekitar lereng Gunung Rinjani berkuatan 7 SR. Pusat gempa berada di 8.3 Lintang Selatan, 116.48 Bujir Timur Kabupaten Lombok Utara, dengan kedalaman 15 kilometer. (K-08) 

Ganjar: Laporkan ke Saya Kalau Ada Yang Makan Nasi Aking di Masa Kekeringan

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo siap membantu penanganan korban
gempa di NTB, Senin (6/8).
Semarang-Pemprov Jawa Tengah menjamin, jika kondisi pangan di provinsi ini masih tersedia. Baik kebutuhan pokok maupun air bersih. Hal itu ditegaskan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menyikapi kekeringan yang melanda sejumlah daerah di provinsi ini.

Menurutnya, menghadapi musim kemarau tahun ini Jateng sudah lebih siap. Sehingga, masyarakat tidak perlu panik. 

Bahkan, bupati/wali kota juga sudah diinstruksikan untuk selalu siaga dengan kondisi kekeringan di daerahnya. Termasuk, selalu menginformasikan kondisi terkini bantuan dan langkah yang sudah dilakukan.

Namun demikian, dirinya meminta kepada warga untuk tidak mengonsumsi nasi aking atau nasi bekas. Karena, kebutuhan pangan di Jateng dalam posisi aman. 

"Kita pangan masih cukup, air juga cukup, droping air bersih terus dilakukan. Seluruh kabupaten/kota sudah siaga, CSR juga ada. Saya minta bupati/wali kota memberikan laporan secar visual kepada saya. Tapi saya ingatkan, jangan sampai ada warga yang makan nasi aking," kata Ganjar, Senin (6/8).

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, apabila ada warga yang kedapatan mengonsumsi nasi aking bisa dilaporkan kepada dirinya.

Ia justru menyarankan warga, agar tidak tergantung pada konsumsi beras dan beralih ke diversifikasi pangan. Misalnya umbi-umbian yang mempunyai kandungan karbohidrat tinggi.

"Kalau tidak ada beras, bisa diganti tiwul. Tiwul itu enak lo, mas," pungkasnya. (K-08)

BPBD Catat 21 Daerah di Jateng Lakukan Droping Air Bersih Untuk 1,7 Juta Jiwa

Kelahar BPBD Jateng Sarwa Pramana menunjukkan sejumlah daerah
yang sudah terdampak kekeringan. 
Semarang-Sebanyak 1,7 juta jiwa lebih warga di 21 kabupaten/kota di Jawa Tengah, terdampak karena bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Penduduk yang mengalami kekeringan itu, tersebar di 1.163 desa di provinsi ini.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sarwa Pramana mengatakan menghadapi musim kemarau sekarang ini, kebutuhan akan air bersih menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.

Menurutnya, dari 35 kabupaten/kota yang ada di provinsi ini, 21 kabupaten/kota di antaranya sudah melakukan droping air bersih bagi warganya.

Sarwa menjelaskan, dari 21 kabupaten/kota yang melakukan droping air bersih, sudah tersalurkan 1.770 tangki air bersih setara lima ribu liter dan empat ribu liter. Sehingga, total air bersih yang tersalur ke warga mencapai delapan juta liter. 

"Hampir seluruh Jawa Tengah ada potensi kekeringan, kecuali Banjarnegara. Dari 35 kabupaten/kota di Jateng, 21 di antaranya sudah melakukan droping air bersih. Kurang lebih sudah delapan juta liter air bersih didistribusikan ke masyarakat. Itu di luar kebutuhan untuk areal pertanian," kata Sarwa, Senin (6/8).

Lebih lanjut Sarwa menjelaskan, dari 21 kabupaten/kota yang melakukan droping air bersih, Kabupaten Purbalingga paling banyak. Yakni mencapai 261 tangki air bersih, untuk 25 desa di sembilan kecamatan. Kemudian disusul Kabupaten Temanggung sebanyak 224 tangki, untuk enam desa di empat kecamatan. Dan Kabupaten Kebumen sebanyak 160 tangki, disalurkan untuk 27 desa di 11 kecamatan.

"Kekeringan tahun ini informasi dari BMKG lebih lama dibanding tahun kemarin. Terutama, untuk beberapa daerah di Jateng," ujarnya.

Sementara itu, lanjut Sarwa, terkait dengan dana tanggap darurat kekeringan sebesar Rp600 juta, sampai dengan belum terpakai. Sebab, beberapa daerah masih menggunakan dananya masing-masing. (K-08)

Pemprov Jateng Siap Bantu Penanganan Bencana di Lombok

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (dua dari kanan) melihat alat yang di
buat mahasiswa Polines, Senin (6/8).
Semarang-Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan sejumlah elemen dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), siap dikirim ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) jika diminta. Terutama, untuk penanganan setelah bencana gempa.

Menurutnya, bantuan untuk warga Lombok yang terkena dampak dari gempa bumi akan dikirimkan sore ini. Terutama, untuk bahan makanan dan selimut.

Ganjar menjelaskan, dirinya sebagai kepala daerah di Jateng turut berduka cita dengan kejadian gempa yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia Lombok.

"Saya sampaikan turut berduka cita. BPBD dan semua elemen di Jawa Tengah sudah standby, kalau Jawa Tengah diminta kita siap membantu. Saya juga mengikuti penjelasan kepala BMKG, sekarang sudah relatif berhenti gempanya dan Insya Allah korbannya tidak terlalu banyak. Itu adalah pengalaman buat kita semua, apalagi Jawa Tengah termasuk daerah rawn kebencanaan. Betapa pentingnya siaga bencana dan betapa pentingnya kader-kader siaga bencana," kata Ganjar saat di Polines, Senin (6/8).

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, kejadian bencana alam yang terjadi di Lombok menjadi perhatian seluruh bangsa Indonesia. Bahkan, gempa bumi di Lombok juga akan menjadi pelajaran bagi Jateng yang juga sering terjadi kebencanaan. Sehingga, di dalam membangun sebuah rumah atau bangunan di Jateng harus diperhitungkan potensi bencana yang ada di daerah tersebut.

"Ini penting bagi kita, karena Jawa Tengah kebencanaan itu juga sering terjadi. Perlu ada pelatihan kebencanaan bagi masyarakat, agar ada potensi pengurangan risiko bencana," jelasnya.

Diwartakan, terjadi gempa bumi dengan skala 7 SR di sekitar lereng Gunung Rinjani NTB, Minggu (5/8) malam. Pusat gempa terletak di 8.3 Lintang Selatan, 116m48 Bujur Timur Kabupaten Lombok Utara, dengan kedalaman 15 kilometer. Tercatat, ada 91 korban meninggal dunia akibat gempa bumi hingga saat ini. (K-08)