Minggu, 16 September 2018

Tanamkan Edukasi Pajak Sejak Dini, KPP Pratama Semarang Tengah Dua Gelar Tax Goes To School

Semarang-Guna menanamkan kesadaran dan edukasi tentang pajak sejak dini, KPP Pratama Semarang Tengah Dua mengadakan Tax Goes To School (TGTS) di sejumlah sekolah di Kota Semarang, baru-baru ini.

Pelaksana harian Kepala KPP Pratama Semarang Tengah Dwi Joko Kristanto mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu edukasi perpajakan, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang peran dan manfaat pajak dalam pembangunan.

Pada kegiatan tersebut, jelas Joko, para pegawai mengajarkan materi tentang pengertian pajak dan manfaat pajak  yang dikemas secara komunikatif dengan diselingi games serta pembagian doorprize menarik.

"Para pelajar diajak untuk mengenal pajak sejak dini, di antaranya mengenai pentingnya pajak dalam pendanaan berbagai program untuk kepentingan bersama. Termasuk, bagi pembiayaan pendidikan nasional, pelayanan kesehatan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan infrastruktur," kata Joko dikutip dari rilis. 

Joko lebih lanjut menjelaskan, dengan adanya kesadaran sejak dini mengenai pajak, pihaknya berharapkan para pelajar bisa menyebarluaskan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pajak. 

Kepala Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan Reni Aryanthi menambahkan, para siswa sebagai generasi muda perlu mengenal tentang pajak. Sebab, mereka di masa mendatang akan menjadi pembayar pajak atau sebagai petugas pajak.

"Pajak merupakan penopang utama pembiayaan negara," ujarnya. (K-08) 

Salurkan Bantuan Kursi Roda ke Gempa Lombok, SOLUSI ZAKAT Harap Korban Bisa Ringan Beban Hidupnya

Semarang-Guna meringankan penderitaan para korban gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), SOLUSI ZAKAT kembali menyalurkan kursi roda, belum lama ini. Penyaluran kursi roda ditujukan bagi para korban gempa Lombok yang patah tulang, dan tidak mempunyai kursi roda.

Bantuan kursi roda kali kedua disalurkan di Dusun Luk, Desa Sambi Bangkol, Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara, NTB, belum lama ini.

Direktur SOLUSI ZAKAT Harjito mengatakan pihaknya sebelumnya bersama mitra, telah menyalurkan kursi roda di Dusun Orong, Desa Batu Layar, Lombok Barat dan di Kampung Lendang Berora, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Selain bantuan kursi roda, SOLUSI ZAKAT juga memberikan pelayanan dan pengobatan bagi para korban gempa.   

"Kami akan terus menggalang dana dari masyarakat, untuk para korban gempa Lombok. Hari ini, kami menyalurkan kursi roda yang dikhususkan bagi para korban yang menderita patah tulang akibat gempa Lombok dan memberikan pelayanan kesehatan," kata Harjito dikutip dari rilis.

Sementara, salah satu penerima kursi roda, Isah mengaku senang. Sebab, saat terjadi gempa ia mengalami patah tulang pinggang dan tangan akibat terkena reruntuhan tembok.

"Saya berterima kasih banyak kepada SOLUSI  ZAKAT atas bantuan kursi rodanya. Sebelum dapat kursi roda, saya hanya bisa berada di tenda darurat dengan fasilitas seadanya. Sekarang saya bisa berkeliling kampung dengan kursi roda," ucapnya. (K-08)

Gelar Polines Goes to Mall, Karya Mahasiswa Ini Siap Diproduksi Masal

Mahasiswa Polines, Rizky Kurnia sedang menunjukkan karya rancang
bangun printer tiga dimensi di Polines Goes to Mall, kemarin. 
Semarang-Sebagai prasyarat memenuhi kelulusannya, para mahasiswa D3 Politeknik Negeri Semarang (Polines) jurusan Teknik Elektro menggelar Polines Goes to Mall di Atrium Matahari Simpang Lima, Sabtu (15/9). Kegiatan tersebut dimaksudkan, untuk menampilkan tugas akhir dari para mahasiswa sebagai syarat kelulusan.

Kepala Progdi Jurusan Teknik Elektro Ilham Sayekti mengatakan kegiatan Polines Goes to Mall merupakan ajang, untuk mengenalkan hasil karya para mahasiswa kepada masyarakat. Sebab, banyak hasil karya mahasiswa teknik elektro yang inovatif dan aplikatif.

Ilham menjelaskan, ada beberapa produk hasil karya mahasiswa yang ditampilkan. Di antaranya adalah running text yang dilengkapi gambar animasi, alat pengendali rumah tangga berbasis Android dan juga alat printer tiga dimensi. 

"Karena tugas akhirnya memang membuat alat rancang bangun, dan kemudian bisa diaplikasikan. Beberapa yang ditampilkan memang bisa diterapkan di rumah tangga ataupun di dunia usaha," kata Ilham.

Ilham lebih lanjut menjelaskan, dengan menampilkan hasil karya mahasiswa diharapkan ada tindak lanjut dari pelaku industri yang tertarik. Sehingga, bisa diproduksi secara masal untuk kebutuhan masyarakat.

Sementara, salah satu mahasiswa yang menampilkan hasilnya, Rizky Kurnia mengaku membuat printer tiga dimensi. Alat tersebut dianggap bisa membantu kerja industri, ketika membuat pola dengan skala yang kecil.

"Rancang bangun pencetak tga dimensi dari plastik ini pengoperasiannya melalui aplikasi Android. Jadi, dengan gawai pemegang bisa mengirimkan perintah yang berbentuk gcode ke alat pencetak," ucapnya. (K-08) 

Hindari Penyakit Degeneratif Pada Lansia, Begini Caranya

Kadinkes Jateng dr Yulianto Prabowo (dua dari kanan) saat membuka
acara Warung Germas dengan tema penyakit degeneratif pada lansia.
Semarang-Dokter spesialis penyakit dalam RSUP dr Kariadi, Bambang Joni Karjono mengatakan sebenarnya penyakit degeneratif itu merupakan akumulasi dari penyakit-penyakit bawaan. Kemudian muncul di kala memasuki lansia, karena faktor gaya hidup sejak muda dan lingkungan.

Penyakit degeneratif pada lanjut usia atau lansia, harus diwaspadai dan dicegah sejak dini. Karena, semakin bertambahnya usia sesesorang, maka makin rentan terjangkit penyakit tertentu.

Menurutnya, penyakit degeneratif muncul akibat penurunan fungsi organ tubuh. Umumnya, penyakit ini muncul dan menyerang orang yang sudah berusia lanjut seiring dengan kemunduran fungsi organ tubuh dan sel dalam tubuhnya.

Bambang menjelaskan, penyakit degeneratif itu adalah stoke, jantung koroner, diabeter, kanker, gagal ginjal asam urat dan alergi saluran pernapasan.

"Yang pasti kalau lansia itu punya penyakit yang namanya degeneratif. Penyakit degeneratif itu penyakit yang ngumpul, karena proses bertumpuknya berbagai penyakit sejak kecil sampai tua. Jadi, mengikuti siklus hidup manusia. Kalau waktu muda itu bertumpuk-tumpuk kerusakannya, dan kemudian di usia 50 tahun sudah terlihat sangat tua. Umumnya ini terjadi karena gaya hidup saat masih muda," kata Bambang ketika menjadi narasumber di acara Warung Germas Dinkes Jateng, Jumat (14/9) petang.

Bambang lebih lanjut menjelaskan, sebenarnya penyakit degeneratif tidak hanya menyerang para lansia sajan tetapi juga bisa usia muda atau saat masih remaja. Faktornya adalah pola hidup yang tidak sehat, karena mengomsumsi makanan dan minuman tidak sehat serta kebiasaan merokok.

"Kurang istirahat dan kurang berolahraga juga bisa memicu munculnya penyakit degeneratif," tandasnya. (K-08)