Kamis, 25 Oktober 2018

Yulianto: 80 Titik Lokasi Jadi Fokus Kampanye Termasuk di Jateng

Dinkes Jateng menyarankan masyarakat untuk rutin selalu memeriksa
kesehatan setiap enam bulan sekali di pusat layanan kesehatan atau di
pelayanan kesehatan lainnya.
Semarang-Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Termasuk) terus digelorakan Dinas Kesehatan Jawa Tengah, hingga ke seluruh pelosok daerah di provinsi ini. Baik lewat sosialisasi mendatangi masyarakat, atau melalui media massa di Jateng.

Kepala Dinkes Jateng dr Yulianto Prabowo, M.Kes mengatakan kampanye Germas terus digalakkan, untuk mengarahkan masyarakat berperilaku hidup sehat.

Menurutnya, ada banyak cara yang dilakukan untuk membuat masyarakat bergaya hidup bersih dan sehat.

Yulianto menjelaskan, pihaknya memberikan fokus perhatian di 80 titik di Jateng sebagai lokasi kampanye Germas kepada masyarakat. Dengan harapan, terbangun kesadaran untuk selalu menjaga kebersihan dan lingkungan tempat tinggalnya.

"Germas ini sedang kita galakkan. Bahkan, bekerjasama dengan Komisi E DPRD Jawa Tengah ada program kampanye Germas di 80 titik di Jawa Tengah. Ke-80 titik ini tersebar di semua kabupaten/kota. Selain di 80 titik tadi, kita juga mengadakan kampanye Germas di TVRI Jawa Tengah setiap Jumat sore. Itu ada yang namanya Gayeng Germas, mempromosikan cara hidup sehat jangan sampai sakit," kata Yulianto, Kamis (25/10).

Yulianto lebih lanjut menjelaskan, dalam kampanye Germas yang menjadi fokus perhatian adalah peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan pencegahan dan deteksi dini terhadap penyakit. Serta, selalu meningkatkan perilaku hidup sehat.

"Dan jangan lupa selalu melakukan aktivitas fisik secara teratur, sehari minimal 30 menit dan selalu mengonsumsi buah serta sayuran setiap hari. Selain itu, cek kesehatan rutin tiap enam bulan sekali dan enyahkan asap rokok," pungkasnya. (K-08)

Pemprov Minta Warga Jateng Bisa Jaga Iklim Sejuk Tidak Mudah Terprovokasi

Gubernur Ganjar Pranowo usai menerima kunjungan dari GP Ansor
Jateng di ruang kerjanya, Kamis (25/10).
Semarang-Kasus pembakaran bendera dengan tulisan Arab di Jawa Barat beberapa hari kemarin, saat ini sedang ditangani aparat kepolisian. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Pernyataan itu dikatakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, saat menerima Ketua GP Ansor Jateng Sholahudin Aly di ruang kerjanya, Kamis (25/10).

Menurutnya, seluruh masyarakat Jateng diimbau bisa lebih bijaksana di dalam menyikapi persoalan yang terjadi dan tidak ikut terpancing.

Ganjar menjelaskan, persoalan tersebut biar diselesaikan aparat kepolisian dan masyarakat tidak perlu panik atau membuat keruh suasana.

"Prinsipnya karena sudah ditangani kepolisian, kita serahkan saja sama polisi. Karena sudah ditangani polisi, kita minta seluruh masyarakat menjaga ketentraman, ketertiban dan silaturahim. Ayo Jawa Tengah, kepalanya mesti adem, mesti dingin. Kita ikuti apa yang sudah ditangai polisi dengan baik," kata Ganjar.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, lebih baik seluruh elemen masyarakat di Jateng bergandengan tangan untuk menyukseskan Pemilu 2019 mendatang.

"Yang ormas dan organisasi agama bisa saling bahu membahu dengan aparatur pemerintahan, mewujudkan Jawa Tengah adem dan ayem," ujarnya.

Diketahui, terjadi aksi pembakaran bendera dengan tulisan Arab di peringatan Hari Santri Nasional Senin (22/10) di Alun-alun Limbangan, Kabupaten Garut. Polisi setempat mengamankan tiga orang, dua di antara yang melakukan pembakaran bendera dan satu orang sebagai ketua acara Peringatan Hari Santri Nasional. (K-08)

Kementerian LHK Gagalkan Penyelundupan Kayu Jati Ilegal Dari 20 KPH

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian LHK Sustyo
Iriyono memberikan keterangan pers terkait aksi penggagalan penye-
lundupan kayu jati ilegal di Kabupaten Pati, Kamis (25/10).
Semarang-Tim gabungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama aparat TNI/Polri, mengamankan enam truk berisi kayu jati ilegal di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Rabu (24/10) kemarin. Kayu-kayu jati ilegal itu, diduga berasal dari 20 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian LHK Sustyo Iriyono mengatakan aksi illegal logging dan peredaran kayu ilegal tersebut, telah merugikan negara. 

Sustyo menduga, Desa Ronggo merupakan salah satu desa penampung kayu jati ilegal terbesar di Pulau Jawa. Sebab, cukup banyak kayu jati ilegal yang ditemukan dan berasal dari sejumlah KPH di wilayah Jateng dan Jatim.

Menurutnya, pihaknya terus konsisten di dalam menindak tegas para pelaku kejahatan dan pengrusakan lingkungan hidup dan kehutanan. Sehingga, ekosistem bisa terselamatkan dan kerugian negara bisa dicegah.

Oleh karena itu, lanjut Sustyo, melalui operasi represif yustisi diharapkan bisa memberi pesan yang jelas kepada penebang dan pengedar kayu ilegal.

"Itu mungkin kalau tidak salah enam truk yang diamankan, berisi lebih dari 20 kubik. Yang masih ukuran balok ada 10 batang, dan lainnya berupa keping papan. Kayu-kayu ilegal itu berasal dari 20 KPH yang ada di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut informasi, kegiatan ini sudah berlangsung lama. Kalau lihat rumah-rumah warga di sana, semuanya terbuat dari kayu jati," kata Sustyo saat gelar jumpa media di Kantor BKSDA Jateng, Kamis (25/10).

Sementara, Direktur Penegakan Hukum Pidana Kementerian LHK Yazid Nurhuda menambahkan, kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan itu termasuk kejahatan luar biasa. Sebab, kegiatan itu akan merusak lingkungan, ekosistem dan kekayaan alam di Indonesia.

"Tidak menutup kemungkinan, dalam pengembangan kasus ini akan menyeret pihak-pihak lain yang bertanggungjawab," jelas Yazid. (K-08)

Gerindra Yakin Prabowo-Sandi Bisa Unggul di Jateng

Capres Prabowo Subianto dengan Cawapres Sandiaga Uno. Foto: IST
Semarang-Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantoro mengatakan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bakal meraih suara banyak, di Pemilihan Presiden 2019 di wilayah Jawa Tengah. Hal itu dikatakannya, saat pembekalan para caleg Partai di Gerindra di UTC Hotel Semarang, baru-baru ini.

Menurutnya, prediksi itu didasarkan ketika Pemilihan Gubernur Jateng 2018 kemarin. Yakni, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah mampu meraih suara hingga 43 persen.

Ferry menjelaskan, sebelumnya kubu sempat memerkirakan jika pasangan Sudirman-Ida hanya mampu meraih 20 persen suara.

Oleh karena itu, jelas Ferry, pada Pilpres 2019 mendatang, pasangan Prabowo-Sandi bakal meraih suara banyak di Jateng.

"Datanya dari mana, pilgub kemarin sudah berantakan. Ternyata, pasangan Sudirman Said dan Mbak Ida Fauziyah 43 persen. Pak Jokowi dasarnya apa? Pada dasar survei, surveinya sudah salah semua. Pas pilgub bilangnya pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah cuma 20 persen, buktinya 43 persen. Rakyat Jawa Tengah sudah engga percaya Jokowi juga kan," kata Ferry.

Lebih lanjut Ferry menjelaskan, target 82 persen yang dipatok Capres Joko Widodo saat kunjungan ke Semarang pekan tidak akan tercapai. Sebab, tidak ada dasar survei yang dipakai. Sehingga, target tersebut dianggap mengada-ada.

"Sekarang rakyat Jateng sudah engga percaya Jokowi, itu bekal kita lainnya. Jadi, target Jokowi itu mustahil," jelasnya.

Diwartakan sebelumnya, saat kunjungan ke Semarang dan menghadiri deklarasi Tim Pemenangan Daerah di Panti Marhaen, Sabtu (20/10) kemarin, Jokowi memberikan target 78 persen hingga 82 persen. Hal itu berdasarkan dari perolehan survei dan elektabilitas partai serta calon. 

"Untuk di Jawa Tengah ini, kita harapkan antara 78 sampai 82 persen. Ini hitung-hitungnya didapat dari sebuah tren," kata Jokowi. (K-08)

DPRD Jateng Wacanakan Kembali Pembangun Gedung Dewan Yang Baru

Masrukan Syamsuri
Ketua Komisi A DPRD Jateng
Semarang-Sempat tertunda ketika diwacanakan pembangunan gedung baru DPRD Jawa Tengah pada 2015 lalu, rencana itu kembali digulirkan kembali. Bahkan, DPRD Jateng sudah berkonsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri, terkait pembangunan gedung baru DPRD tersebut.

Ketua Komisi A DPRD Jateng Masrukan Syamsuri mengatakan alasan untuk pembangunan gedung baru dewan tersebut, karena kapasitas gedung lama sudah tidak memadai.

Saat ini saja, jelas Masrukan, jumlah anggota DPRD Jateng periode 2014-2019 ada 100 orang. Dari jumlah itu, tidak semuanya memilik ruang kerja atau meja kerja.

Menurutnya, yang mempunyai ruang kerja hanya pimpinan dewan saja. Sedangkan pimpinan fraksi dan komisi hanya memiliki meja kerja dalam satu ruangan.

Oleh karena itu, jelas Masrukan, pembangunan gedung DPRD yang baru cukup mendesak. Terlebih lagi, pada Pemilihan Legislatif 2019 mendatang jumlah anggota dewannya bertambah menjadi 120 orang.

"Bisa Anda bayangkan bahwa dari 100 anggota dewan saat ini yang punya meja kerja itu hanya para pimpinan. Pimpinan dewan itu jelas punya ruangan, pimpinan komisi ada meja kerjanya tapi yang lain tidak punya meja apalagi ruangan. Kalau 100 anggota dewan menerima tamu dalam waktu bersamaan harus diterima dengan cara berdiri karena tidak punya meja dan kursi," kata Masrukan, Kamis (25/10).

Lebih lanjut Masrukan menjelaskan, dengan bertambahnya gedung baru untuk DPRD, maka diharapkan bisa membuat ruang kerja dewan lebih representatif. Sebab, dengan gedung baru bisa diarahkan untuk ruang kerja dewan dan gedung lama untuk rapat komisi atau paripurna.

"Gedung baru itu diwacanakan dibangun di belakang gedung lama. Dulu pas diwacanakan akan dibangun tahun 2015, anggarannya Rp13 miliar kalau tahun depan mungkin bisa lebih," pungkasnya. (K-08)