Senin, 26 November 2018

Masuk Tahun Politik, DPRD Jateng Ingatkan Netralitas ASN

Anggota Komisi A DPRD Jateng Sriyanto Saputro meminta ASN bisa
bersikap netral selama Pemilu 2019.
Semarang-Netralitas aparatur sipil negara (ASN) di Jawa Tengah masuk tahap ujian di tahun politik 2019. Hal itu ditegaskan anggota Komisi A DPRD Jateng, Sriyanto Saputro.

Menurut Sriyanto, pada momentum tahun politik, posisi ASN banyak dilirik para peserta pemilu untuk meraih simpati.

Sriyanto menjelaskan, meski para ASN memiliki hak untuk memilih di pemilihan umum (Pemilu), namun posisinya tetap harus netral tidak berada di salah satu pasangan. 

Oleh karena itu, lanjut Sriyanto, para ASN bisa bertindak netral dan tidak mudah terpengaruh atau dipengaruhi pilihan politiknya.

"Di tahun politik ini harapan kami, ASN benar-benar memprosisikan diri sesuai tupoksi dan aturan yang ada serta regulasi yang ada. Sudah diatur di sana bahwa ASN harus netral, tentutanya harus dijaga. Kadang ASN juga terpengaruh dengan pimpinannya, makanya pimpinan harus memberi contoh yang benar," kata Sriyanto, Senin (26/11).

Lebih lanjut Sriyanto menjelaskan, para kepala daerah juga diminta tidak menggunakan kekuatan politiknya untuk menekan bawahannya mengarahkan pada sikap politik tertentu.

Sementara itu, Komisioner Bawaslu Jateng M. Roffiudin menambahkan, di tahun politik memang salah satu kerawanannya adalah soal netralitas ASN. Pada rentang periode waktu sebulan pelaksanaan kampanye yang dimulai 21 September hingga 21 Oktober kemarin, pihaknya sudah mencatat ada delapan kasus ketidaknetralan ASN yang dilaporakan. Empat di antaranya, terbukti dan sudah dilaporkan pada pimpinannya masing-masing.

"Netralitas ASN ini sangat penting, karena kaitannya dengan amanah UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan UU Nomor 4 Tahun 2014 tentang ASN. Di dua ketentuan itu menyebutkan, bahwa ASN harus netral dalam momentum politik," ujar Rofi.

Menurut Roffi, tidak hanya soal netralitas ASN, penggunaan fasilitas negara untuk kampanye juga menjadi kategori kerawanan pada Pemilu 2019 yang sudah dipetakan. (K-08)

Gubernur Ajak Konsumsi Makan Untuk Cegah Stunting

Sejumlah santri di Ponpes Bugen Tlogosari sedang mengolah ikan
sumbangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan belum lama ini.
Semarang-Masih banyak ibu hamil di Jawa Tengah yang ragu dan enggan, untuk mengonsumsi ikan. Alasannya, karena ikan amis dan banyak durinya.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan sebenarnya mengonsumsi ikan juga menjadi alternatif, ketika harga daging naik. Bagi ibu yang sedang hamil, makan ikan sangat bagus bagi kesehatan janinnya. 

Menurutnya, makan ikan bagi ibu yang sedang hamil akan menjamin bayi sehat dan cerdas.

Ganjar menjelaskan, olahan ikan sekarang juga sudah cukup banyak. Sehingga, akan meningkatkan budaya gemar makan ikan bagi masyarakat. Terlebih lagi, Jateng tingkat konsumsi makan ikannya masih rendah bila dibanding nasional. Yakni 29,17 kilogram per kapita per tahun.

"Jadi, kalau kita melihat anak-anak kita, keluarga kita dan teman-teman kita, biasanya kalau harga daging tinggi mereka panik. Sebenarnya, ikan menjadi alternatif protein yang sangat bagus. Kebetulan, Jawa Tengah masih rendah konsumsi makan ikannya. Masih jauh di bawah target. Makanya, kita coba dukung. Termasuk olahan-olahan yang sekarang punya varian tinggi," kata Ganjar, Senin (26/11).

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, potensi ikan di Jateng sebenarnya cukup bagus dan hasil ikannya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di provinsi ini.

"Makanya, kita coba dorong sejak usia dini gemar makan ikan agar konsumsi per kapitanya terus meningkat," ujarnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Lalu M. Syafriadi menambahkan, potensi ikan tawar di provinsi ini sebanyak 456 ribu ton per tahun dan potensi tangkapan ikannya mencapai 386 ribu ton per tahun.

"Dengan produksi ikan sebanyak itu, sudah cukup memenuhi konsumsi masyarakat kita," ucap Lalu. (K-08)

Kurangi Sampah Tak Terurai, Mahasiswa Undip Buat Genteng Berbahan Sterofoam

Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Undip sedang mempraktikkan pem-
buatan genteng dengan bahan baku campuran sterofoam.
Semarang-Banyak sampah yang tidak bisa terurai dengan cepat, karena bahan kimia terkandung di dalamnya. Baik sampah plastik maupun sampah sterofoam.

Banyak sampah sterofoam yang ada di tempat pembuangan sampah (TPS) di Universitas Diponegoro Semarang, mengilhami sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik Sipil memunculkan kreasi baru dan berguna bagi sekitar.

Salah satu mahasiswa Teknik Sipil, Yunnia Rahmandanni mengatakan ia bersama teman yang lain melihat, banyak tumpukan sampah sterofoam di TPS Undip dan tidak bisa terurai begitu saja dari unsur hara dalam tanah. Sehingga, ia dan teman-teman lainnya berkreasi membuat genteng dengan bahan baku dari sterofoam.

Mahasiswi semester tujuh itu menjelaskan, produk genteng berbahan sterofoam ini mampu menyerap limbah kurang lebih lima kilogram per meter perseginya. Sehingga, jika diasumsikan satu atap rumah seluas 40 meter persegi, maka limbah sterofoam yang terserap mencapai 200 kilogram.

Yunnia menjelaskan, genteng sterofoam juga bisa menjadi solusi bangunan tahan gempa karena didesain memiliki bobot lebih ringan dibanding genteng beton pada umumnya. 

"Dari kali pertama ide memang ketika kita melihat sterofoam adalah satu dari 10 limbah terbesar yang ada. Sterofoam ini dibanding dengan sampah plastik lainnya, baru bisa terurai 500-1000 tahun yang ada datang. Sehingga, kita berinovasi bagaimana sterofoam busa digunakan dan salah satunya dipakai untuk genteng," kata Yunia, Senin (26/11).

Lebih lanjut Yunnia menjelaskan, atas kerja keras yang dilakukan bersama kawan-kawannya itu, mendapat medali emas di kompetisi Trad Fair of Ideas, Inventions and New Products di Nuremberg, Jerman, belum lama ini.

Sementara itu, pendamping mahasiswa, Moh Nur Sholeh menambahkan, pembuatan genteng sterofoam hampir sama dengan pembuatan genteng pada umumnya. Yang membedakan hanya adanya campuran sterofoam yang sudah dihaluskan sebagai campurannya.

"Komposisinya standar 1:2:3. Yaitu semen, pasir dan sisanya air. Sterofoamnya ini kita perhitungkan sekitar 10-20 persen," ujarnya.

Nur Sholeh menjelaskan, dengan terciptanya genteng inovatif itu, maka persoalan penanganan limbah sterofoam bisa teratasi. (K-08)

2018, BBPOM di Semarang Tindak 19 Pedagang Obat Tradisional Nakal Yang Rugikan Masyarakat

Kepala BBPOM di semarang Safriansyah (kiri) menunjukkan sejumlah barang bukti berupa obat tradisional dan
kosmetik ilegal berbahaya sebelum dimusnahkan, Senin (26/11).
Semarang-Sepanjang 2018 ini, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang telah menindak 19 pedagang obat tradisional nakal yang merugikan masyarakat Jawa Tengah. Sebab, menjual dan mengedarkan obat-obatan tradisional tanpa izin edar dan berisi bahan kimia berbahaya.

Kepala BBPOM di Semarang Safriansyah mengatakan masih banyak ditemukan produk obat-obatan tradisional dan kosmetik ilegal, yang beredar di sejumlah toko serta pasar. Hal itu tidak bisa dipungkiri, jika obat tradisional dan kosmetik murah masih cukup banyak peminatnya. Sehingga, banyak pedagang obat yang nakal dengan mencampurkan bahan kimia berbahaya.

Menurutnya, BBPOM di Semarang terus berupaya untuk mencegah adanya praktik penjualan atau peredaran obat-obatan tradisional dan kosmetik yang berbahaya dan merugikan masyarakat.

Guna memberikan efek jera, jelas Safriansyah, setiap hasil temuan atau sitaan obat-obatan tradisional dan kosmetik berbahaya langsung dilakukan pemusnahan. Sedangkan pelaku pembuatnya, diajukan ke meja hijau.

"Terutama obat tradisional dan kosmetik yang memang saat ini masih menjadi temuan menonjol di wilayah Jawa Tengah. Sebagai gambaran, selama 2018 kita melakukan penindakan terhadap 19 pelaku usaha yang telah melakukan pelanggaran secara nyata dan terbukti terhadap obat, khususnya obat tradisional dan kosmetik," kata Safriansyah di sela pemusnahan ratusan obat tradisional dan kosmetik, Senin (26/11).

Lebih lanjut Safriansyah menjelaskan, mayoritas kasus yang terungkap di 2018 modusnya adalah penjualan lewat online. Tidak hanya produk lokal, namun ada juga yang diperoleh dari luar negeri.

"Biasanya produk yang disita atau diedarkan adalah obat rematik dan obat kuat. Bahan bakunya itu yang dipakai berbahaya jika dikonsumsi," ujarnya.

Pihaknya, lanjut Safriansyah, akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan Satpol PP setempat, untuk mencegah peredaran obat-obatan tradisional dan kosmetik berbahaya. (K-08)