Minggu, 17 Maret 2019

Meski Sederhana, HUT DGCI Semarang Bisa Buat Anak Panti Asuhan Bahagia

Ketua Panitia Abdul Bait (kiri) menyerahkan bantuan ke Ketua Pengurus
Yayasan Ar Rohman, Muhaimin Rais dan disaksikan perwakilan anak-
anak panti, Minggu (17/3).
Semarang-Tahun ini, komunitas Datgun Go Community Indonesia (DGCI) Semarang genap berusia empat tahun dan dirayakan dengan kemasan sederhana di Panti Asuhan Ar Rohman Semarang, Minggu (17/3).

Mengusung konsep DGCI Semarang Peduli Untuk Berbagi, para anggota komunitas ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama yang membutuhkan. Terutama, anak-anak panti asuhan di wilayah Genuk yang memerlukan uluran tangan dari para dermawan.

Ketua Panitia Abdul Bait mengatakan pada ulang tahun keempat ini, sesuai dengan kesepakatan pengurus dan anggota diadakan jauh dari kesan hingar bingar. Sehingga, diputuskan untuk merayakan ulang tahun bersama anak panti asuhan.

Menurutnya, sebagai komunitas dan bagian dari masyarakat, sudah seharusnya ikut memberi dan membagi kebahagiaan dengan sesama yang lainnya.

"Senang melihat anak-anak panti asuhan begitu bahagia, karena ruangan panti asuhan mereka disulap layaknya pesta ulang tahun. Apalagi, kebanyakan dari mereka masih anak-anak usia SD," kata Bait.

Bait menjelaskan, peluh dan keringat dari para panitia bersama anggota DGCI Semarang lainnya terbayar lunas saat melihat tawa dan senyum anak-anak panti asuhan pecah. Dirinya dan keluarga DGCI Semarang berharap, bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama yang membutuhkan di tempat lainya.

Sebagian anggota DGCI Semarang bersama perwakilan tamu undangan
dan anak-anak panti asuhan.
Salah satu pengurus Panti Asuhan Ar Rohman, Agus Riyanto mengaku terharu masih ada pihak-pihak yang peduli dengan anak-anak panti asuhan.

"Kami segenap keluarga besar panti asuhan mengucapkan terima kasih, atas kunjungan dari komunitas mobil Datsun. Kami hanya bisa mendoakan, agar seluruh anggota diberikan keselamatan dan banyak rezeki serta selamat dunia akhirat. Semoga, hubungan silaturahim ini terus terjalin," ujar Agus.

Sementara itu, Ketua DGCI Semarang Adjie Gusti menambahkan, kegiatan sosial kemasyarakatan yang dikemas dalam acara HUT ke-4 memang menjadi agenda tahunan dari komunitasnya. Sesuai dengan garis-garis besar di AD/ART yang disusun, menyelipkan aksi-aksi sosial di samping kegiatan rutin lainnya berupa kopi darat (kopdar).

"Biasanya, kegiatan sosial kita yang rutin adalah bagi takjil gratis di bulan puasa. Tahun ini, aksi sosialnya ditambah dan masuk di agenda perayaan HUT," jelas Adjie.

Adjie juga berterima kasih kepada para tamu undangan yang bersedia hadir dalam acara tersebut, dari Komunitas Mobil Semarang (Kosmos), Datsun Muria Raya (DMR), komunitas mobil Timor dan dari komunitas Ertiga. (K-08)

Ganjar Bacakan Puisi Jaga NKRI di Apel Kebangsaan

Gubernur Ganjar Pranowo (tengah) ditemani Wagub Taj Yasin (kanan)
dan Kaka Slank menyanyi lagu Ku Tak Bisa di acara apel kebangsaan,
Minggu (17/3).
Semarang-Ribuan orang berkumpul di kawasan Simpang Lima Semarang dan sekitarnya, ikut menyemarakkan apel kebangsaan dengan tema "Kita Merah Putih", Minggu (17/3). Pemprov Jawa Tengah menargetkan ada 130 ribu peserta, yang bisa hadir di acara itu bergabung bersama para tokoh nasional dan tokoh agama.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan di tengah kondisi bangsa sekarang, maka upaya merajut kebhinnekaan dan perbedaan sangat dibutuhkan. Salah satunya, mengajak para tokoh nasional dan tokoh agama bersama masyarakat mengikuti apel kebangsaan demi menurunkan tensi suhu politik di Tanah Air.

Menurutnya, persatuan dan kesatuan bangsa dengan sikap saling menghormati harus terus dijaga. 

Ganjar menjelaskan,para pemimpin bersama elite politik dan masyarakat bisa menunjukkan sikap toleransi yang tinggi dan tulus. Sehingga, meski berbeda pilihan tapi masih bisa menjaga NKRI, maka Indonesia akan terus ada.

Ia juga berpesan kepada masyarakat, untuk bisa bijak di dalam bermedia sosial yang disampaikannya lewat puisi

"Lihatlah bangsa kita sekarang ini, fitnah merajalela dan hoax tumbuh tak terhitung bagai pasir di padang gurun. Saling tuduh dan memaki serta menyerang, bertengkar antarkawan. Bahkan saudara sedarah sekali pun. Tidak hanya di internet dan di media sosial, tapi sudah mewarnai di kehidupan sehari-hari. Mulai dari obrolan warung kopi, sampai rapat resmi, dan mulai dari jalanan hingga meja makan," kata Ganjar.

Ganjar lebih lanjut menjelaskan, bagi para generasi milenial juag diminta bisa menjadi agen perubahan menangkal informasi hoax di media sosia.

"Hati-hati dengan jarimu sekarang, bisa jadi harimaumu. Jaga tutur kata yang baik, agar tidak sampai menyakiti saudara-saudara yang lain," jelas Ganjar. 

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, pemprov tidak pernah berhenti dalam, menggelorakan pesan persatuan dan kesatuan bangsa.

"Mari masyarakat Jawa Tengah, jangan sampai terjadi permusuhan dan perpecahan. Lepaskan ego masing-masing, karena kita Merah Putih, Indonesia," pungkasnya. (K-08)

Mahfud MD: Mari Bersama Kita Jaga NKRI

Mahfud MD memberikan orasi di apel kebangsaan "Kita Merah Putih"
di Lapangan Simpang Lima, Minggu (17/3).
Semarang-Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih" yang diadakan di Lapangan Simpang Lima, Minggu (17/3) dihadiri sejumlah tokoh nasional dan tokoh agama, satu di antaranya adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Mahfud MD meminta masyarakat Jawa Tengah dan di seluruh Indonesia, untuk bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia Mahfud MD mengatakan di dalam ikatan kebangsaan yang kokoh dan kemudian menjadi negara kesatuan Republik Indonesia ini, maka masyarakat Indonesia menjadi manusia di tengah masyarakat dunia. Sebab, masyarakat Indonesia bisa menentukan nasib sendiri dan memilih pemimpin sendiri.

Menurutnya, persatuan dan kesatuan bangsa harus dijaga dan jangan sampai terpecah belah.

Mahfud menjelaskan, meski saat ini sedang masa Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, namun perbedaan tidak menjadi halangan. Perbedaan bisa menjadi persatuan dan kesatuan, karena itu tujuannya demi kesatuan Indonesia.

"Kalau Indonesia tidak merdeka, maka masyarakatnya masih miskin dijajah. Tapi ketika Indonesia sudah merdeka, angka kemiskinan sekarang tinggal 8-9 persen. Itu menjadi tugas kita bersama. Coba kalau Indonesia tidak merdeka, kita masih diperbudak bangsa-bangsa lain," kata Mahfud.

Mahfud lebih lanjut menjelaskan, seharusnya di masa pemilu sekarang ini jangan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Menjadi tugas pemerintah bersama rakyat, untuk menjaga negara kesatuan Indonesia.

"Apel Merah Putih ini jadi ajang menjaga sikap kita seluruh bangsa Indonesia, agar tetap berwatak dan berjiwa Merah Putih. Apa itu artinya? Merah adalah lambang keberanian, berani melawan ketidakadilan dan melawan kezoliman siapapun pemimpin serta apapun partainya. Sedang putih artinya bersih, bersih dan perbuatan korupsi dan tindakan apapun yang merusak bangsa," jelas Mahfud.

Sementara, Habib Luthfi bin Yahya menambahkan, sebagai bangsa Indonesia harus bangga memiliki Merah Putih. Karena, di dalamnya memiliki tiga hal yang harus dijaga. Yakni kehormatan bangsa, harga diri bangsa dan jatidiri bangsa.

"Merah Putih tidak akan berubah meski zaman sudah berubah. Kalau sudah kumpul seperti ini dan berkomitmen menjaga NKRI, maka Indonesia tetap jaya," ujar Habib Luthfi.