Kamis, 21 Maret 2019

KPU Jateng Belum Terima Laporan Jumlah Surat Suara Rusak Dari KPU Kabupaten/Kota

Semarang-Komisi Pemilihan Umum (KPU) di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah masih menyelesaikan tahapan sortir dan lipat suara, untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Proses sortir dan lipat surat suara, berdasarkan logistik yang sudah diterima.

Komisioner KPU Jateng Ikhwanudin mengatakan sampai dengan saat ini, KPU masing-masing kabupaten/kota masih menyelesaikan tahapan sortir dan lipat surat suara untuk Pemilu 2019. Proses sortir dan lipat dilakukan, terhadap surat suara yang telah diterima.

Menurutnya, ada beberapa kabupaten/kota di Jateng yang belum genap surat suaranya. Misalnya yang belum diterima surat suara untuk DPD, atau surat suara untuk DPRD.

Ikhwan menjelaskan, berkaitan dengan surat suara yang rusak masih terus dihitung dan akan segera dilaporkan ke pihak percetakan untuk diganti. Karena, surat suara yang rusak tidak bisa dipakai untuk Pemilu 2019.

"Jadi, saat ini kita belum bisa menghitung secara pasti berapa surat suara yang baik dan rusak. Karena, proses sortir masih berlangsung. Tapi memang, dari hasil laporan KPU kabupaten/kota ada beberapa surat suara yang diketahui rusak. Misal ada bercak atau noda di surat suara, hasil cetakan bertumpuk dan robek. Nanti yang rusak-rusak itu semua dilaporkan KPU, untuk disampaikan ke percetakan. Sebab, masih tanggung jawab percetakan untuk penggantian yang rusak," kata Ikhwan, Kamis (21/3).

Lebih lanjut Ikhwan menjelaskan, pada akhir Maret 2019 nanti diharapkan sudah selesai proses sortir, lipat dan penggantian jika ada surat suara yang rusak. Sehingga, awal April bisa dikemas per tempat pemungutan suara (TPS) dan segera didistribusikan ke masing-masing PPK, PPS sampai ke TPS.

"Harapannya, sebelum pencoblosan semua logistik sudah terkirim dan diterima di tiap TPS," tandasnya. (K-08)

KPU Jateng Catat 74.501 Pemilih Gunakan A5 di Pemilu 2019

Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat menandatangani hasil rapat pleno
tentang rekapitulasi DPTb tahap kedua Pemilu 2019 di Hotel Santika
Semarang, Kamis (21/3).
Semarang-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah menetapkan jumlah pemilih yang menggunakan hak pindah memilih di Pemilu 2019 melalui rapat pleno terbuka rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Tambahan (DPTb) kedua tingkat provinsi di Hotel Santika Semarang, Kamis (21/3).

Ketua KPU Jawa Tengah Yulianto Sudrajat mengatakan untuk daftar pemilih tambahan dari pemilih yang menggunakan A5 dan pindah memilih, tercatat ada 74.501 pemilih masuk. Sedangkan pemilih yang keluar, jumlahnya mencapai 106.072 pemilih.

Menurutnya, seluruh waktu yang disediakan KPU untuk mengurus A5 sebagai syarat menggunakan hak pindah memilih sudah selesai. Dan selesai pada H min 30 hari sebelum pemungutan suara.

Yulianto menjelaskan, dari 74.501 yang menggunakan formulir A5 itu tersebar di 35 kabupaten/kota di Jateng. Dari jumlah itu, paling banyak ada di Kota Semarang karena mahasiswa luar kota atau luar provinsi juga cukup banyak.

"Pelayanan pindah memilih sudah kita tutup sejak 17 Maret kemarin, sesuai dengan undang-undang yang menetapkan batas akhir 30 hari sebelum hari pemungutan suara. Kalau untuk layanan di rumah sakit dan di lapas sesuai aturan PKPU, akan kita layani sambil menunggu surat edaran resmi dari KPU RI terkait layanan KPU di rumah sakit," kata Yulianto.

Yulianto lebih lanjut menjelaskan, bagi mahasiswa luar kota atau luar provinsi yang menggunakan formulir A5 ditampung di beberapa tempat pemungutan suara (TPS) di sekitar kampus.

"Kami kan tidak membuka TPS khusus di kampus. Jadi, mahasiswa yang pakai A5 masih bisa ditampung di TPS di sekitar kampus. Sebab, batas jumlah pemilih di setiap TPS maksimal 300 pemilih," jelasnya.

Sementara itu, lanjut Yulianto, TPS khusus di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan (lapas) ataupun rumah tahanan (rutan) masih menunggu arahan dari KPU RI.

"Kami tunggu ya kira-kira seminggu atau lima hari sebelum hari pencoblosan. Tapi intinya, kami tetap memberi pelayanan kepada pemilih," pungkasnya. (K-08)

Kelenteng Kong Tik Soe Terbakar, Penjaga Kelenteng Jadi Korban

Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang masih
menyala di dalam Kelenteng Kong Tik Soe, Kamis (21/3).
Semarang-Seorang pria penjaga Kelenteng Kong Tik Soe Gang Lombok menjadi korban kebakaran, Kamis (21/3) pagi tadi. Pria tersebut diketahui bernama Soetiyono alias Thio Thian Lay (82), yang setiap hari tinggal di kelenteng cagar budaya tersebut.

Selain mengakibatkan seorang penjaga kelenteng meninggal dunia karena luka bakar, petugas pemada kebakaran dari PMK Barito bernama Akas Panatas juga menjadi korban. Petugas itu tertimpa puing kelenteng yang terbakar, dan berhasil diselamatkan rekan-rekannya.

Kapolsek Semarang Tengah Kompol Adi Nugroho membenarkan adanya korban meninggal dunia, dari kejadian kebakaran Kelenteng Kong Tik Soe tersebut. Saat ini, jasad korban sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.

Adi menjelaskan, pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan dari tim Labfor Cabang Semarang untuk mengetahui asal api.

"Saya sudah telepon Labfor, dan nanti pihak Labfor akan datang untuk melakukan olah TKP. Nanti bisa diketahui penyebab kebakaran dari mana. Informasi kebakaran pada pukul 4.30 pagi. Korbannya satu atas nama Pak Sutiono, beliau adalah penjaga kelenteng ini," kata Adi, Kamis (21/3).

Lebih lanjut Adi menjelaskan, untuk sementara pihaknya memasang garis polisi dan melarang warga mendekat lokasi kebakaran.

Diwartakan sebelumnya, Kelenteng Kong Tik Soe di Gang Lombok terbakar. Sebanyak 12 armada mobil pemadam kebakaran dikerahkan, untuk memadamkan si jago merah.

Salah satu saksi mata kejadian, Peng Sia mengatakan kebakaran yang menghanguskan bangunan cagar budaya itu, terjadi pada pukul 04.30 pagi. Saat itu, dirinya bersama temannya, Sofian Candra sedang berada di sekitar lokasi. Awalnya, kebakaran diduga dari api pembakaran sampah di belakang kelenteng.

Namun, jelas Peng Sia, setelah diperhatikan dan didekati ada api dari dalam bangunan yang biasa digunakan sebagai penyimpan abu jenazah.

"Saya tidak tahu persis api dari mana, tapi tahunya ada asap tebal dari atas bangunan. Teman saya lihat ada api dari balik tembok yang ada lingkarannya itu, dan saya juga lihat ada korban di dalam," kata Peng Sia.

Lebih lanjut Peng Sia menjelaskan, ia dan rekannya berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Bahkan, dua alat pemadam api ringan (APAR) milik Kelenteng Tay Kak Sie dipakai untuk memadamkan api.

"Badannya saya sampai putih semua karena tidak tahu cara memakainya," ujarnya.

Sementara itu, beberapa warga yang mengetahui kejadian kebakaran itu langsung menghubungi Dinas Kebakaran Kota Semarang dan aparat Polsek Semarang Tengah. 

Api baru benar-benar padam dan bisa dikuasai sekira pukul 06.00 pagi, setelah 12 mobil pemadam silih berganti melakukan pemadaman.

Diketahui, bangunan Kelenteng Kong Tik Soe merupakan rumah ibadat untuk memberi penghormatan kepada para leluhur dan didirikan pada akhir 1845. Kelenteng Kong Tik Soe masuk bangunan cagar budaya (BCG) berdasarkan Keputusan Wali Kota Nomor 646/50 Tahun 1992 dengan urutan nomor B39. (K-08)

Kelenteng Kong Tik Soe Terbakar, 12 Mobil Pemadam Dikerahkan

Petugas pemadam kebakaran terus berupaya memadamkan api yang
menghanguskan Kelenteng Kong Tik Soe Gang Lombok, Kamis (21/3).
Semarang-Kebakaran besar terjadi di kawasan Pecinan Gang Lombok dan meludeskan hampir seluruh bangunan Kelenteng Kong Tik Soe, Kamis (21/3) pagi. Sebanyak 12 armada mobil pemadam kebakaran dikerahkan, untuk memadamkan si jago merah.

Salah satu saksi mata kejadian, Peng Sia mengatakan kebakaran yang menghanguskan bangunan cagar budaya itu, terjadi pada pukul 04.30 pagi. Saat itu, dirinya bersama temannya, Sofian Candra sedang berada di sekitar lokasi. Awalnya, kebakaran diduga dari api pembakaran sampah di belakang kelenteng.

Namun, jelas Peng Sia, setelah diperhatikan dan didekati ada api dari dalam bangunan yang biasa digunakan sebagai penyimpan abu jenazah.

"Saya tidak tahu persis api dari mana, tapi tahunya ada asap tebal dari atas bangunan. Teman saya lihat ada api dari balik tembok yang ada lingkarannya itu, dan saya juga lihat ada korban di dalam," kata Peng Sia.

Lebih lanjut Peng Sia menjelaskan, ia dan rekannya berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Bahkan, dua alat pemadam api ringan (APAR) milik Kelenteng Tay Kak Sie dipakai untuk memadamkan api.

"Badannya saya sampai putih semua karena tidak tahu cara memakainya," ujarnya.

Sementara itu, beberapa warga yang mengetahui kejadian kebakaran itu langsung menghubungi Dinas Kebakaran Kota Semarang dan aparat Polsek Semarang Tengah. 

Api baru benar-benar padam dan bisa dikuasai sekira pukul 06.00 pagi, setelah 12 mobil pemadam silih berganti melakukan pemadaman.

Diketahui, bangunan Kelenteng Kong Tik Soe merupakan rumah ibadat untuk memberi penghormatan kepada para leluhur dan didirikan pada akhir 1845. Kelenteng Kong Tik Soe masuk bangunan cagar budaya (BCG) berdasarkan Keputusan Wali Kota Nomor 646/50 Tahun 1992 dengan urutan nomor B39. (K-08)