Minggu, 24 Maret 2019

Yulianto: Jateng Tiap Tahun Angka Kematian Ibu Turun 15 Persen

Kepala Dinkes Jatrng Yulianto Prabowo memberi sambutan di acara
Rakerkesda 2019 di Hotel Grand Arkenso Semarang, Minggu (24/3).
add captionepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo mengatakan melalui rapat kerja kesehatan daerah (Rakerkesda) 2019 dengan tema "Mbangun Bareng Jawa Tengah Lebih Sehat Berdikari dan Semakin Sejahtera", Dinas Kesehatan provinsi hingga kabupaten/kota berusaha maksimal melakukan peningkatan kesehatan masyarakat. Program kesehatan diarahkan, untuk meningkatkan umur harapan hidup masyarakat Jateng dengan melibatkan sejumlah stakeholder.

Yulianto menjelaskan, melalui rakerkesda 2019 itu pihaknya ingin mengatasi persoalan kesehatan yang masih cukup tinggi. Bahkan, Kementerian Kesehatan menempatkannya sebagai skala prioritas isu kesehatan pada tahun ini. Yakni, penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Menurutnya, secara umum di Jateng angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir.

"Angka kematian ibu dari tahun ke tahun menurun. Kalau kita lihat lima tahun terakhir, maka penurunannya cukup bagus. Rata-rata adalah 15 persen per tahun. Pada 2018 angka kematian ibu adalah 78,6 per 100 ribu kelahiran hidup, sedang angka kematian bayinya 8,36 per 1.000 kelahiran hidup. Jadi, secara umum program kesehatan ibu dan anak di Jawa Tengah cukup menggembirakan," kata Yulianto di sela Rakerkesda 2019 di Hotel Arkenso Semarang, Minggu (24/3).

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, sesuai rencana pembangunan kesehatan jangka menengah Jateng pihaknya bertekad memberikan pelayanan kesehatan semesta di provinsi ini.  

"Sesuai amanat yang ada, kualitas pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di bidang kesehatan bisa tercapai. Karena, pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan sasaran menurunnya angka kematian dan angka kesakitan," pungkasnya. (K-08)

Menkes: TBC dan PTM Jadi Prioritas Isu Kesehatan 2019

Menteri Kesehatan Nila Moeloek (tiga dari kanan) menjelaskan tentang
lima isu prioritas Kemenkes di Hotel Grand Arkenso, Minggu (24/3).,.
Semarang-Kementerian Kesehatan menetapkan lima prioritas isu kesehatan yang harus menjadi perhatian di 2019, dua di antaranya dianggap penting dan harus ditangani bersama. Yakni penyakit tidak menular (PTM) dan Tuberculosis (TBC).

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan setiap Dinas Kesehatan yang ada di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, harus bisa mengatasi dua persoalan tersebut dengan penanganan secara tepat dan terukur. Pernyataan itu dikatakannya ketika memberi arahan dalam Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Jawa Tengah di Hotel Grand Arkenso Semarang, Minggu (24/3).

Menurutnya, untuk penyakit yang dulunya hanya diidap orang-orang kaya atau masyarakat perkotaan, sekarang sudah bergeser dan semua orang bisa terkena. Termasuk, perubahan dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular yang saat ini terjadi.

Nila menjelaskan, pergeseran penyakit menular ke penyakit tidak menular sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, pada 2017 kemarin saja secara nasional beban penyakit tidak menular mencapai 70 persen. Sehingga, dibutuhkan strategi penanganan dan pengendalian terhadap penyakit tidak menular itu.

"Penyakit tidak menular itu yang harus kita perhatikan betul. Kemudian juga TBC. Jadi, artinya seluruh provinsi yang saya datangi memang hampir sama. Problemnya bagaimana menentukan penyakit TBC. Mari kita lakukan pemeriksaan rutin," kata Nila.

Lebih lanjut Nila menjelaskan, dalam rakerkesda Jateng tersebut dirinya juga telah mendapat gambaran tentang berbagai persoalan kesehatan yang terjadi di provinsi ini. Bahkan, satu daerah dengan daerah lain pola pemetaannya berbeda.

"Tadi saya dengar kadinkes Boyolali dan Purworejo mengeluhkan hal yang sama, yaitu soal perilaku gaya hidup masyarakat sekarang sehingga memengaruhi meningkatnya penyakit tidak menular," tandasnya. (K-08)

Prilly Latuconsina Ajak Masyarakat Semarang Kenali Keunggulan Vivo V15

Brand Ambassador Vivo, Prilly Latuconsina (tengah) ikut mengenalkan
produk Vivo V15 Go Up di Semarang, belum lama ini.
Semarang-Sebagai brand ambassador, Prilly Latuconsina mengajak masyarakat Kota Semarang mengenal lebih dekat keunggulan dari teknologi V-Series terbaru, Vivo V15. Menyusul sukses acara yang digelar di Purwakarta, Jawa Barat, kini giliran Kota Semarang yang dibidik, Sabtu (23/3) kemarin.

Prilly Latuconsina mengatakan ada banyak pengalaman menyenangkan yang bisa didapat, dengan menggunakan Vivo V15 Go Up tersebut. Terutama, dari segi layar dan kameran yang disematkannya.

"Senang sekali bisa menjadi bagian Vivo V15 Go Up Roadshow ini, dan menyapa konsumen Vivo di Semarang. Journey bersama Vivo sejak 2017 hingga saat ini dengan V15 dan V15 Pro, memang membuat aku sendiri melihat Vivo selalu membawa inovasi buat konsumen Indonesia. Layar Ultimate All Screen dengan Pop-Up Camera, dan AI Triple Camera membuat V15 yang aku pakai kelihatan tetap elegan dan bisa diandalkan buat foto," kata Prilly dikutip dari rilis.

General Manager for Brand and Activation Vivo Indonesia Edy Kusuma mengatakan lewat kegiatan Vivo V15 Go Up Roadshow ini, Vivo ingin mengajak masyarakat Jawa Tengah mengenal lebih dekat teknologi unggulan V-Series terbaru. Peluncuran Vivo V15 series sebagai produk unggulan terbaru, mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat.

"Saat ini, Vivo ingin menyapa langsung konsumen serta mengapresiasi konsumen setia Vivo di Jawa Tengah dan sekitarnya. Masyarakat ini yang berperan penting dalam membantu perkembangan Vivo di pasar smartphone Indonesia. Kami hadir untuk menambah antusiasme masyarakat akan program kejutan ini," ujar Edy.

Senior Product Manager Vivo Indonesia Yoha Samiaji menambahkan, pihaknya menargetkan konsumen yang haus akan perkembangan teknologi masa sekarang.

"Sebagai smartphone berorientasi konsumen, kami tentu berharap teknologi dan produk berstandar global yang diluncurkan bisa diterima dengan baik. Vivo V15 series hadir untuk memaksimalkan fitur dan pengalaman pengguna, bukan hanya dengan kemampuan kamera tapi juga kecerdasan buatan yang terintegrasi pada berbagai fitur di dalamnya," jelas Yoga. (K-08)

Mau Bawa Lunpia Sampai ke Luar Negeri Tanpa Takut Basi, Sekarang Sudah Ada Keripik Lunpia

Pengusaha lunpia Semarang, Meliani Sugiarto menunjukkan produk
keripik lunpia yang siap bersaing dengan makanan riang dari luar
negeri.
Semarang-Orang sudah mengenal lunpia oleh-oleh khas Kota Semarang itu dalam dua varian, yaitu goreng dan basah. Namun, karena tidak memakai bahan pengawet membuat lunpia tak mampu bertahan lama.

Pengusaha kuliner Kota Semarang Meliani Sugiarto mengatakan untuk bisa bersaing di pasar internasional, maka jajanan tradisional juga harus bisa diterima masyarakat dunia. Terlebih lagi, lunpia Semarang sudah mendapat pengakuan dari Unesco sebagai warisan budaya bukan benda.

Menurutnya, sebagai kuliner asli dari Kota Semarang, lunpia patut dijual hingga ke mancanegara sebagai makanan ringan dengan cita rasa nusantara.

Meliani atau akrab dipanggil Cik Meme menjelaskan, untuk bisa menjual lunpia sampai ke pasar internasional dirinya tidak berhenti berinovasi. Sehingga, lunpia bisa diterima di seluruh lapisan masyarakat di belahan dunia mana saja.

Upaya yang bisa dilakukan, jelasnya, dengan menghadirkan produk lunpia tahan lama antara 3-4 bulan tapi tidak mengubah atau memengaruhi cita rasa aslinya. Yakni, dengan mengubah bentuk lunpia yang tadinya berupa potongan besar menjadi keripik.

"Dengan cita rasa seperti itu, tetap harus kita jaga keaslian dan kemurniaan cita rasanya. Kita tidak bisa pungkiri, dominasi makanan ringan atau kering banyak dikuasai produk luar. Tidak ada salahnya dan sudah waktunya, kuliner asli Semarang tampil dengan varian baru berupa keripik. Keripik ini dipilih, karena dari sisi tradisionalnya dapat dan juga sangat disukai," kata Cik Meme, Sabtu (23/3).

Lebih lanjut Meme menjelaskan, keripik lunpia merupakan revolusi baru bagi kuliner tradional Semarang itu. Sehingga, meski berevolusi menjadi panganan ringan, namun cita rasa resep asli lunpia Semarang tetap dipertahankan.

"Ini menjadi revolusi bagi panganan tradisional kota Semarang, ya. Kalau tidak ada pembaruan dari bentuk dan olahan, saya khawatir lunpia tidak bisa mendunia seperti makanan ringan mengenyangkan lainnya," tandasnya. (K-08)