Sabtu, 04 Mei 2019

Ramadan, Pertamina Pastikan Elpiji Bersubsidi di Jateng Aman

Seorang pegawai di salah satu pangkalan elpiji sedang menata tabung
elpiji bersubsidi sebelum dikirim ke pelanggan.
Semarang-Guna mengantisipasi lonjakan konsumsi elpiji selama Ramadan dan Lebaran 2019, Pertamina MOR IV menyiapkan penambahan stok. Terutama, untuk elpiji bersubsidi tiga kilogram di wilayah Jawa Tengah sebesar delapan persen.

Unit Manager Comm & CSR Pertamina MOR IV Andar Titi Lestari mengatakan jika sebelumnya kuota elpiji tiga kilogram di Jateng itu 3.116 Metrik Ton (MT), dengan penambahan delapan persen maka menjadi 3.379 MT atau bertambah sebanyak 263 MT setiap harinya. Penambahan kuota itu setara dengan 87.667 tabung elpiji tiga kilogram.

Menurutnya, selain elpiji bersubsidi, pihaknya juga menyiapkan penambahan stok untuk nonsubsidi.

Andar menjelaskan, penambahan stok harian untuk wilayah Jateng sebanyak tiga persen dari 294 MT menjadi 303 MT. Atau, ada penambahan sebanyak 9 MT setiap harinya.

"Melalui 391 agen PSO, 84 agen NPSO dan 42.457 pangkalan elpiji yang tersebar di seluruh  wilayah Jawa tengah, Pertamina MOR IV memastikan pelayanan penyaluran elpiji menjelang bulan Ramadan dinyatakan aman. Apabila masyarakat mendapati kendala dalam memeroleh produk elpiji nonsubsidi, bisa hubungi call center kami di 1.500.000. Nanti, operator kami akan membantu untuk mengarahkan agen elpiji nonsubsidi yang terdekat dengan lokasi warga," kata Andar, Sabtu (4/5).

Lebih lanjut Andar menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan elpiji selama Ramadan hingga Lebaran, suplai utama elpiji MOR IV berasal dari Refinery Unit IV Cilacap, Terminal Tanjung Emas dan Depot Cilacap. (K-08)

Cetak Atlet Berprestasi, Dinporapar Jateng Terus Lakukan Pembinaan Terhadap Bibit-bibit Muda

Sinoeng Rachmadi
Kepala Dinporapar Jateng
Semarang-Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah terus melakukan pembinaan, terhadap siswa-siswa yang memiliki prestasi di bidang olahraga.

Kepala Dinporpar Jateng Sinoeng N Rachmadi mengatakan pihaknya terus melakukan pembinaan terhadap siswa atlet, yang memang memiliki prestasi cemerlang di bidang olahraga. Yakni melalui Balai Pembinaan dan Latihan Olahraga Prestasi Pelajar (BPPLOP).

Menurutnya, sejumlah prestasi yang diraih para pelajar di Jateng ini menunjukkan jika pemprov menaruh perhatian serius terhadap pembinaan olahraga. Terutama, memunculkan bibit-bibit atlet berprestasi yang masih duduk di bangku sekolah.

"Setiap tahun kita melakukan penjaringan pelajar berprestasi dalam hal olahraga. Kita seleksi yang memiliki potensi prestasi yang bisa dinaikkan. Seleksi itu tentu saja dalam skala daerah, dan diusulkan kabupaten/kota, kemudian kita fasilitasi sekolahnya, asramanya dan semuanya. BPPLOP memiliki tugas untuk memberikan kesempatan kepesertaan, bagi mereka untuk latih tanding, dalam event daerah dan nasional. Serta, memberikan fasilitas peralatan secara bertahap," kata Sinoeng, Sabtu (4/5).

Sinoeng lebih lanjut menjelaskan, pihaknya terus mendorong prestasi generasi muda Jateng di bidang olahraga dengan memberi kesempatan ikut latih tanding dan event olahraga lainnya. Termasuk, peningkatan fasilitas olahraga secara bertahap.

"Dua hal yang kita akomodir, yaitu anaknya berminat dan prestasinya bisa dikembangkan. Ini yang akan terus didorong," jelasnya.

Diketahui, alet dari Jateng kembali menorehkan prestasi tingkat nasional, setelah menjadi juara umum sepak takraw tingkat pelajar 2019 di Sulawesi Barat. Kemudian di tingkat internasional, menyabet dua medali emas di kejuaraan pencak silat 2019 di Brusell.

Saat ini, Dinporapar Jateng sedang memersiapkan atlet pelajar untuk ikut kejuaraan dunia estafet di Yokohama, Jepang pada 12 Mei 2019 nanti. (K-08)

BI: Harga Bawang Putih Turun Jika Impor Sudah Sampai Jateng

Soekowardojo
Kepala KPw BI Jateng
Semarang-Kementerian Pertanian menyatakan, jika 100 ribu ton bawang putih impor sudah masuk Indonesia. Ditargetkan, kuota impor bawang putih itu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Lebaran berakhir.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan untuk menekan terus naiknya harga bawang putih, perlu dilakukan operasi pasar. Namun, pihaknya masih menunggu masuknya impor bawang putih dan sampai ke Jateng.

Menurutnya, komoditas bawang putih memang masuk kategori pangan yang langka. Sebab, pasokan yang ada di dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena, bawang putih bukan komoditas utama Indonesia dan tidak semua daerah memiliki luasan lahan yang cukup untuk menanam bawang putih.

Oleh karena itu, jelas Soekowardojo, pihaknya terus menunggu datangnya bawang putih impor untuk meredam gejolak harga dan guna memenuhi kebutuhan masyarakat di bulan puasa.

"Jangka pendeknya adalah menunggu impor bawang putih masuk. Sehingga, manajemen impor bawang putih itu harus bagus. Pemerintah kalau tidak salah mengizinkan impor 100 ribu ton bawang putih, dan itu hitung-hitungannya sebenarnya cukup. Persoalannya sekarang, apakah sudah datang semua atau belum? Kalau datangnya pas di bulan Ramadan, harusnya bisa menurunkan harga bawang putih," kata Soekowardojo di kantornya, Jumat (3/5).

Dimetahui, meskipun harga bawang putih naik cukup tinggi dalam dua bulan terakhir ini, namun Pemprov Jateng melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) belum melakukan operasi pasar secara besar-besaran. Saat ini, dari aplikasi Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHaTi) menunjukkan jika harga bawang putih di angka Rp60 ribuan per kilogramnya. (K-08)