Senin, 06 Mei 2019

REI Minta Pemerintah Beri Subsidi Kredit Untuk Pengembang Rumah Murah

Soelaeman Soemawinata
Ketua DPP REI
Semarang-Pengembang rumah murah kerap mengeluh, tidak mendapat perhatian dari pemerintah terkait pengajuan kredit ke perbankan. Selama ini, yang diberikan kemudahan hanya dari pihak konsumen saja.

Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan pemerintah diharapkan bisa memberikan subsidi atau kemudahan kepada para pengembang rumah murah, terutama yang mengajukan kredit konsumsi di sektor properti. 

Menurutnya, selama ini pengembang rumah murah hanya mendapat keringanan sebesar satu persen pajak penghasilan (PPh).

Soelaeman menjelaskan, dengan adanya pemberian subsidi bagi pengembang rumah murah akan menciptakan semangat di dalam membangun rumah dan tidak dibebani bunga yang tinggi. Minimal, pemerintah bisa memberikan subsidi kredit sebesar tiga persen lebih murah dari bunga komersial.

"Kita berharap bahwa pengembang yang membangun rumah subsidi, diberi subsidi kredit konsumsi tiga persen lebih rendah dibanding bunga komersial. Karena, selama ini perbankan menganut hukum ekonomi. Jadi, yang kredit konsumsinya kecil bunganya besar, atau sebaliknya. Kami minta ada keberpihakan dari stakeholder yang membangun rumah subsidi," kata Soelaeman belum lama ini di Semarang.

Lebih lanjut Soelaeman menjelaskan, dengan banyak stakeholder yang berpihak kepada pengembang rumah subsidi, maka akan sangat membantu. Sebab, pengembang rumah subsidi mendapat margin terbatas dan dibebani bunga besar.

"Di seluruh Indonesia, dari data REI ada sekitar lima ribu pengembang rumah subsidi. Mereka-mereka ini butuh bantuan," jelasnya.

REI, jelas Soelaeman, pada tahun kemarin menargetkan pembangunan rumah subsidi di seluruh Indonesia sebanyak 230 ribu rumah dan baru tercapai 214 ribu rumah. (K-08)

Dinkes: Ramadan Yang Diabetes dan Maag Harus Jaga Pola Makan

Yulianto Prabowo
Kepala Dinkes Jateng
Semarang-Pada saat bulan puasa, akan terjadi perubahan kebiasaan pola makan. Hal ini harus dipahami para penderita diabetes dan maag.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan pada saat puasa ini yang berpengaruh pada pola makan, harus diperhatikan bagi para penderita diabetes dan maag. Sehingga, makanan yang dikonsumsi pada saat puasa tidak membuat penyakitnya mengganggu ibadah puasa.

Menurutnya, para penderita diabetes dan maag harus bisa pandai menjaga makanan yang akan disantap. Termasuk, mengelola kebiasaan makan di saat sahur dan berbuka.

Yulianto menjelaskan, makanan yang disantap harus bisa disesuaikan dengan kondisi badan. Bagi para penderita diabetes, harus mampu mengurangi konsumsi makanan mengandung gula tinggi. Terutama makanan kolak ataupun makanan mengandung gula yang manis-manis. 

Penderita maag juga bisa mengatur makannya, agar ibadah puasa bisa lancar dan tidak terganggu.

"Kolak ini mengandung santan dan manis, bagi penderita diabetes harus hati-hati. Penderita maag juga harus bisa mengelola kebiasaan makan saat puasa. Untuk itu, saya imbau dalam memilih bahan makanan dan mengolah makanan harus benar-benar baik dan berkualitas," kata Yulianto belum lama ini.

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, selama menjalankan puasa juga disarankan untuk banyak minum air putih minimal dua liter setiap hari. Yakni ketika sahur, berbuka puasa hingga malam hari sebelum tidur.

"Kebutuhan air di dalam tubuh tetap harus diperhatikan, minimal dua liter per hari. Olahraga juga jangan lupa dilakukan, dan banyak makan buah dan sayur," pungkasnya. (K-08)

Dinporapar Jateng Akan Fasilitasi Siswa Yang Berprestasi di Bidang Olahraga Masuk ke Perguruan Tinggi Atau Sekolah Profesi

Kepala Dinporapar Jateng Sinoeng Rachmadi menerima piala dari dua
atlet yang berprestasi di halaman kantornya, Senin (6/5).
Semarang-Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah Sinoeng N Rachmadi mengatakan banyaknya siswa yang menjadi atlet dan kemudian menorehkan nama harum untuk provinsi ini, patut mendapat apresiasi dari pemerintah. Hal itu dikatakannya ketika menerima piala dari sejumlah atlet berprestasi di halaman kantornya, Senin (6/5).

Sinoeng menjelaskan, dengan makin banyaknya siswa di provinsi yang berprestasi di bidang olahraga, maka menjadi indikator upaya pemerintah untuk terus melakukan pembinaan terhadap atlet di Jateng. Sehingga, untuk bisa memunculkan bibit-bibit atlet baru yang berprestasi, maka harus didorong untuk terus terlibat di setiap turnamen atau latih tanding di setiap event berskala nasional, regional ataupun internasional.

Menurutnya, dengan semakin rutin mengikuti latih tanding dan berlaga di turnamen maka kualitas atlet Jateng juga akan semakin meningkat.

Pihaknya, jelas Sinoeng, juga akan terus memberikan pembinaan kepada pelajar yang memiliki prestasi di bidang olahraga. Yakni, dengan fasilitasi peralatan olahraga guna mendukung peningkatan stamina dan keterampilan.

"Kalau bonus, karena ini pelajar kita berikan fasilitas rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Fasilitas yang lain adalah rekomendasi soal dispensasi mereka tidak mengikuti pelajaran, dan mereka juga bisa mengikuti ujian susulan. Jadi, kalau bonus kami berikan sesuai dengan kapasitas pelajarnya. Kita tidak tahu apakah anak-anak ini setelah memeroleh juara itu mau melanjutkan pendidikan, atau mau meneruskan ke profesi. Kalau profesi, kita akan dorong. Tapi kalau sekolah yang lebih tingg, tentu universitas mana yang akan dipilih kita fasilitasi," kata Sinoeng.

Lebih lanjut Sinoeng menjelaskan, pihaknya juga akan memfasilitasi kepada pelajar yang menginginkan sekolah khusus, misalnya sekolah polisi atau tentara. Yakni, dengan berkoordinasi Polda Jateng dan Kodam IV/Diponegoro. (K-08)

Ramadan, BI Imbau Masyarakat Tak Belanja Berlebihan

Soekowardojo
Kepala KPw BI Jateng
Semarang-Memasuki bulan puasa, masyarakat akan memersiapkan kebutuhan sehari-hari. Terutama untuk santap sahur, dan menu berbuka puasa.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan meskipun menjalankan ibadah puasa, namun mengonsumsi barang kebutuhan pokok tidak perlu berlebihan. 

Soekowardojo mengajak masyarakat, untuk membeli barang kebutuhan sewajarnya dan tidak perlu berlebihan. Sehingga, pasokan barang yang dibutuhkan masyarakat di pasar tetap tersedia dan tidak terjadi kenaikan harga. 

"Terkait dengan pola belanja ini, kami ingin mengimbau kepada masyarakat silakan berbelanjalah. Kita engga melarang bikin kolak atau apa. Tadinya engga bikin kolak engga bikin kacang ijo, sekarang bikin. Jadi, memang pengeluarannya meningkat. Kita mengimbau, silakan saja yang penting secukupnya tidak perlu borong-borong barang karena persediaannya ada. Kalau borong belanja, maka jatuhnya panic buying, yang tadinya cukup jadi tidak cukup," kata Soekowardojo belum lama ini.

Lebih lanjut Soekowardojo menjelaskan, pihaknya pernah membahas tentang pola belanja masyarakat Indonesia dengan IMF. Sebab, IMF pernah merasa kebingungan dengan laju inflasi saat bulan puasa.

"Saya pernah berdiskusi dengan IMF mengenai inflasi Ramadan, dan orang barat itu bingung karena inflasinya naik. Bukannya puasa, tapi kok meningkat pengeluarannya. Mungkin mereka tidak tahu suasana ketika bulan puasa," jelasnya.

Namun demikian, lanjut Soekowardojo, pihaknya meminta kepada pemerintah daerah untuk mengimbau masyarakatnya berperilaku hidup hemat saat Ramadan. Termasuk, bisa menyakinkan jika pasokan barang kebutuhan pokok tetap terpenuhi dan tidak mengalami gangguan.

"Selama masyarakat bisa belanja dengan wajar dan seperlunya, maka barang tetap tersedia. Kalau biasanya belanja telur cukup sekilo saja tapi pas puasa belanjanya tiga kilo dan semua melakukan hal yang sama, maka telur pasokannya bisa terganggu juga," pungkasnya. (K-08)

Gubernur Ajak Masyarakat Sambung Tali Silaturahim Selama Ramadan

Gubernur Ganjar Pranowo (kanan) dan Wali Kota Hendrar Prihadi ber-
maafan sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Semarang-Madd captionomentum bulan puasa bisa menjadi sarana, untuk rekonsiliasi dan melupakan perbedaan ketika pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) kemarin. Sehingga, di Ramadan ini tidak ada lagi perbedaan di tengah masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan pada momentum Ramadan ini, setidaknya bisa dimanfaatkan untuk kembali menjalin tali silaturahim. Kembali membangun komunikasi dan menjalin persaudaraan sebagai sesama muslim

menurutnya, pada masa bulan suci Ramadan ini semua hal bisa dilakukan bersama. Mulai dari buka puasa bersama, dan ibadah salat tarawih bersama.

"Memasuki Ramadan, pikiran dan perkataan sama hatinya semuanya harus bersih. Bersih ucapannya dan perkataannya. Setidaknya ini adalah awal yang nanti akan membikin masyarakat di Kota Semarang dan Jawa Tengah serta Indonesia, ayem tentrem. Mari kita memaknai Ramadan untuk berbuat baik, dan kita sambung lagi tali silaturahim engga usah miki pilpres dan pileg. Maka tugas kita sekarang menggandeng masyarakat, yuk kita buka piasa bersama dan salat tarawih bersama," kata Ganjar, Senin (6/5).

Ganjar lebih lanjut menjelaskan, perbedaan saat pemilu kemarin tidak perlu diungkit lagi. Sehingga, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk berjabat tangan dan berangkulan saling berkasih sayang.

"Yang masak kolak dibanyakin, tetangganya dikasih ajak buka bareng. Saya bayangkan juga para caleg dan tim sukses yang kemarin beda pilihan berdiri dalam satu shaf salat tarawih, duduk bareng berdampingan mendengarkan ceramah. Suasananya jadi adem dan bahagia," pungkasnya. (K-08)

Polda Jateng Petakan Kerawanan Laka Lantas di Tol Trans Jawa Saat Lebaran

Anggota Ditlantas Polda Jateng bersiap mengamankan jalur mudik di
ruas tol Trans Jawa.
Semarang-Meski musim arus mudik dan balik Lebaran masih lama, namun Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Tengah sudah melakukan pemetaan kerawanan kecelakaan lalu lintas di wilayahnya. Terutama, untuk ruas tol Trans Jawa yang melintas di wilayah Jateng.

Dirlantas Polda Jateng Kombes Pol Rudi Antariksawan mengatakan pemetaan kerawanan kecelakaan lalu lintas di ruas jalan tol Trans Jawa itu, diakibatkan karena kelalaian dari pengemudi. Yakni, tidak mengindahkan batas aman kecepatan dalam berkendara.

Menurutnya, batas aman kecepatan dalam berkendara di jalan tol Trans Jawa adalah 100 kilometer per jam maksimal dan minimalnya 80 kilometer per jam.

Rudi menjelaskan, kontur jalan tol Trans Jawa yang dominan lurus dan lebar akan memicu adrenalin pengguna jalan memacu kecepatan kendaraannya di atas batas maksimal. Sehingga, akan menimbulkan kerawanan kecelakaan karena faktor human error.

"Tol ini sudah jadi, dari Brebes-Solo-Sragen sekitar 320 kilometer yang di tempat kami ini mengandung kerawanan. Kerawanan apa? Karena lancar, masyarakat pengguna jalan ini akan tergoda untuk memacu kecepatan mengingat jalannya enak, lurus dan lebar. Tentunya, para pengguna jalan ini perlu kita beri pemahaman, agar jangan ngebut dan hati-hati. Selain itu, kita juga arahkan untuk istirahat di rest area yang sudah kita sediakan," kata Rudi, Senin (6/5).

Rudi lebih lanjut menjelaskan, bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jarak jauh diimbau untuk selalu menjaga kondisi badan tetap fit. Yakni, dengan beristirahat yang cukup di rest area sepanjang jalan tol Trans Jawa.

"Kita imbau pengendara istirahat yang cukup di rest area. Karena jumlah rest area juga belum banyak dan terbatas kapasitasnya, kita juga imbau istirahat seperlunya biar tidak terjadi kepadatan di rest area," jelasnya.

Guna mengantisipasi dan mencegah kecelakaan di ruas jalan tol Trans Jawa, lanjut Rudi, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya dan Polda Jawa Barat. (K-08)