Selasa, 16 Juli 2019

Yang Mau Lihat Obor ASG XI, Cek Rute Arak-arakannya

Sinoeng Rachmadi
Kadinporapar Jateng
Semarang-Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah Sinoeng Rachmadi mengatakan api obor ASEAN School Games (ASG) XI 2019 akan mengambil dari sumber api abadi Mrapen di Kabupaten Grobogan. Setelah pengambilan api abadi, obor ASG XI akan diarak menuju Balaikota Semarang, dan diinapkan semalam, Rabu (17/7). Prosesi penyalaan api obor ASG XI, direncanakan melibatkan sejumlah atlet pelajar dan pejabat.

Menurutnya, setelah diinapkan semalam di Balaikota Semarang, obor akan kembali diarak menuju Stadion Holy Terang Bangsa School pada Kamis (18/7) siang. 

Sinoeng menjelaskan, sejumlah menteri dari negara ASEAN yang merupakan peserta ASG XI dijadwalkan hadir. Pembukaan ASG XI 2019 akan dihadiri empat ribu orang pelajar di Kota Semarang, 1.600 orang atlet dan official sebagai peserta dan 200 orang delegasi dari negara ASEAN serta tamu undangan lainnya. 

"Rute arak-arakan obor dengan kendaraan dimulai dari Mrapen, melewati Gubug-Mranggen-Pedurungan-Jalan Brigjen Katamso-Jalan Jendral A Yani-kawasan Simpanglima-Jalan Pandanaran-Balaikota Semarang. Masyarakat dan pelajar kami harap bisa ikut memeriahkan arak-arakan tersebut," kata Sinoeng, Selasa (16/7).

Lebih lanjut Sinoeng menjelaskan, pembukaan ASG XI akan dimeriahkan sejumlah artis Tanah Air. Di antaranya Kikan mantan vokalis band Cokelat, Virza jebolan Indonesian Idol, Kunto dan penyanyi cilik Carrisa, penyandang tuna netra.

"Masyarakat bisa menyaksikan kemeriahan pembukaan ASG live di TVRI. Kami juga berharap, para pelajar dan masyarakat di Kota Semarang ikut memberikan dukungan kepada para atlet dengan menonton pertandingan di setiap venue. Gratis, tidak dipungut biaya," jelasnya.

Diwartakan, ASG XI 2019 diikuti 10 negara anggota ASEAN. ASG XI 2019 akan memertandingkan sembilan cabang olahraga, dengan venue di Kota Semarang. (K-08)

JNE Terapkan Single Tarif Untuk Pengiriman Satu Wilayah

JNE menerapkan single tarif untuk pengiriman barang yang masih satu
wilayah.
Semarang-JNE memberlakukan single tarif untuk pengiriman dalam satu wilayah. Penyesuaian tarif itu berlaku sejak 1 Juli 2019 kemarin, dan bisa dinikmati bagi para pelanggan dan masyarakat umum.

Branch Manager JNE Solo Bambang Widiatmoko mengatakan penyesuaian tarif untuk semua pelanggan setianya, hanya berlaku untuk satu harga pengiriman di dalam satu wilayah. 

Menurutnya, kebijakan single tarif ini berlaku untuk pengiriman paket yang masuk satu wilayah eks Karesidenan Surakarta atau Solo Raya. Yakni Kota Surakarta, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar dan Sragen. 

Bambang menjelaskan, ongkos kirim servis reguler untuk wilayah eks Karesidenan Surakarta yang awalnya Rp8000 disesuaikan menjadi Rp6000. Sedangkan ongkos kirim servis YES dari semula Rp14 ribu-Rp18 ribu, kini menjadi Rp12 ribu. 

"Keputusan pemberlakuan single tarif ini karena melihat kuantitas pengiriman di dalam wilayah Solo dan sekitarnya cukup tinggi. Hal ini membuat kami mengadakan evaluasi kembali, mengenai kebijakan penentuan tarif agar kebutuhan para pelanggan bisa terakomodir semakin baik," kata Bambang, kemarin.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, dengan tingginya kuantitas pengiriman barang di wilayah eks Karesidenan Surakarta ini membuat pihaknya mengevaluasi kebijakan tarif. Sehingga, dengan penyesuaian ongkos kirim ini bisa lebih terjangkau bagi masyarakat. (K-08)

Ganjar: Menjadi Tantangan Bagi Sekolah Dalam Mendidik Siswa Baru

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ditemani Kepala Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan Jumeri saat berkunjung ke SMA Negeri 1 Semarang.
Semarang-Penerapan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA negeri, menjadi upaya pemerintah untuk menyamakan kualitas pendidikan di Tanah Air. Sehingga, di dalam PPDB tingkat SMA tahun ini bukan hanya nilai sebagai acuan tetapi difokuskan pada jarak tempat tinggal siswa atau zonasi.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan menjadi sangat penting bagi orang tua dan sekolah untuk saling berkolaborasi, untuk bisa memoles potensi siswa. Baik dengan latar belakang siswa nilai rendah, maupun siswa memiliki nilai tinggi.

Menurutnya, tantangan sekolah pada tahun ajaran ini sangat berat untuk bisa mengangkat prestasi siswa dan meningkatkan kecerdasan para siswa didiknya.

oleh karena itu, jelas Ganjar, pelabelan siswa pintar dan siswa bodoh harus dihapus. Karena, tidak ada siswa bodoh dan yang ada adalah siswa malas.

"Untuk di SMA 1 Semarang ini menarik, karena ada yang punya nilai 17 dan bisa masuk. Lalu mereka bergabung dengan teman-teman yang lain. Di SMA 1 Semarang ini varian nilainya banyak. Menjadi tantangan bagi sekolah, untuk membawa anak-anak bisa berprestasi. Orang tuanya saya titipi, bahwa anak-anak mau mungkin tidak pintar di soal akademik tapi pintar di seni dan olahraga serta sebagainya," kata Ganjar saat berkunjung ke SMA Negeri 1 Semarang, kemarin.

Ganjar lebih lanjut menjelaskan, di SMA Negeri 1 Semarang siswa yang diterima sebanyak 432 siswa dan 259 siswa di antaranya masuk dari zonasi.

DPRD Jateng Ingin Tahun Depan Penilaian Prestasi Berdasar Kemampuan Individu

Sejumlah siswa baru sedang mengikuti masa pengenalan lingkungan
sekolah.
Semarang-Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Yudi Indras mengatakan untuk sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) pada tahun depan, diharapkan ada perbaikan evaluasinya. Terutama, pada mekanisme penghitungan nilai prestasi.

Menurutnya, pada PPDB tingkat SMA tahun ini sistem penilaian prestasi cenderung merugikan calon siswa baru.

Yudi menyatakan, calon siswa baru yang memiliki prestasi olahraga atau seni secara individu dikalahkan dengan prestasi kolosal. Misalnya paduan suara atau cheerleader. Seharusnya ada pembeda, antara prestasi individu dengan kolosal.

"Untuk nilai-nilai prestasi yang sifatnya kolosal, agar ditinjau ulang. Misal prestasi drum band, cheerleader dan paduan suara. Walau prestasi nasional atau internasional, tidak bisa jadi acuan kemampuannya sama. Penilaiannya ini harus dievaluasi, tidak bisa disamakan dengan prestasi personal atau individu. Jadi, ini tidak mencerminkan sebuah kemampuan individu yang pantas untuk diadu di sebuah kompetisi nilai," kata Yudi belum lama ini.

Yudi lebih lanjut menjelaskan, bila ada perubahan sistem penghitungan nilai prestasi individu dengan kolosal, maka kompetisi masuk ke sekolah negeri bisa lebih tertata. Sehingga, siswa berprestasi dengan kemampuan individu bisa bersaing secara sehat bersama siswa lainnya bukan prestasi kelompok.

Sementara, untuk sistem zonasi, jelas Yudi, pihaknya mendukung dengan catatan tertentu. Yakni, perlu sosialisasi lebih matang kepada masyarakat dan tidak semata mengejar sekolah favorit. (K-08)

Musim Kemarau, Waspadai Penyakit Lingkungan

Sejumlah warga harus antre untuk mendapatkan air bersih.
Semarang-Anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah Messy Widiastuti mengatakan Dinas Kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota di provinsi ini, harus segera turun ke lapangan untuk selalu memantau kesehatan warga yang terdampak kekeringan di musim kemarau. Karena, kebutuhan dasar masyarakat di musim kemarau adalah pasokan air bersih yang cukup.

Menurutnya, jika di musim kemarau warga kekurangan air bersih, maka akan membawa dampak pada kesehatan lingkungan.

Oleh karena itu, jelas Messy, menghadapi musim kemarau sekarang ini, pemerintah daerah setempat harus bisa tanggap terhadap kondisi yang ada. Terutama, soal kebutuhan air bersih bagi warga yang lingkungannya kekurangan pasokan air.

"Yang lebih urgent adalah kesehatan, sehingga droping air bersih itu kami berharap bisa dilakukan di seluruh kabupaten di Jawa Tengah yang membutuhkan. Kalau kurang air bersih dan mengonsumsi air tidak bersih, bisa menimbulkan penyakit. Ini tentu saja merugikan rakyat kita. Kita tahu kasus yang ada di Pacitan Jawa Timur, satu kecamatan warganya kena hepatitis A," kata Messy belum lama ini.

Lebih lanjut Messy menjelaskan, musim kemarau dengan pasokan air bersih yang terbatas atau bahkan tidak ada akan menyebabkan timbul penyakit lainnya. Misalnya disentri dan kolera.

Oleh karenanya, pemerintah daerah juga perlu antisipatif dengan kemunculan penyakitan lingkungan yang diakibatkan karena kekurangan air bersih.

"Penyakit yang berkaitan dengan air bersih atau dampak lingkungan kotor ada beberapa macam. Salah satunya adalah hepatitis A, dan kasus ini muncul di Pacitan Jawa Timur," tandasnya. (K-08)