Kamis, 29 Agustus 2019

BEI Semarang Catat Ada Penambahan 16 Ribu Investor Baru di Semester I 2019

Seorang investor muda sedang melihat pergerakan saham di lantai
bursa efek.
Semarang-Hingga Juli 2019 kemarin, tercatat ada 16 ribu investor baru di wilayah Jawa Tengah. Jumlah itu melebihi target yang ditetapkan Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Semarang, dan lebih tinggi dari capaian tahun sebelumnya.

Kepala BEI Semarang Fanny Fifqi mengatakan pada 2018 kemarin, penambahan investor baru hanya 11 ribu saja. Padahal, di semester pertama 2019 ini pihaknya hanya menargetkan penambahan sembilan ribu investor baru.

Fanny menjelaskan, dengan penambahan investor baru yang melebihi target itu mengindikasikan jika masyarakat di Jateng mulai melek investasi. Sehingga, dampaknya berpengaruh pada penambahan jumlah investor baru.

Menurutnya, program dan sosialisasi tentang menabung saham yang selama ini dilakukan sudah membuahkan hasil.

"Jadi, kalau dihitung dari tahun 2018 akhir sampai awal Juli 2019 ada sekitar penambahan 16 ribu investor di Jawa Tengah. Sebelumnya di Jawa Tengah itu ada 81.400 investor, yang tersebar di 32 kabupaten/kota. Jadi, Januari sampai Juli 2019 kita dapat 16 ribu investor baru. Jadi, naik menjadi 97.500 investor," kata Fanny, Kamis (29/8).

Lebih lanjut Fanny menjelaskan, selama ini pembukaan sekolah pasar modal dan keberadaan galeri investasi yang ada di sejumlah perguruan tinggi di Semarang dan sekitarnya turut memberi andil terhadap penambahan jumlah investor baru.

"Tiap bulan kami menggelar sekolah pasar modal, agar jumlah investor baru terus bertambah," ujarnya.

Sementara, lanjut Fanny, saat ini di wilayah Jateng baru ada 24 sekuritas dengan jumlah transaksi berbeda. Dengan penambahan investor baru, diharapkan jumlah transaksi di setiap sekuritas juga semakin meningkat. (Bud)

Jateng Masuk Musim Hujan Diperkirakan Pada Awal Oktober 2019

Seorang prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Semarang menunjuk-
kan potensi awal masuk musim hujan di wilayah Jateng.
Semarang-BMKG memerkirakan, musim hujan di wilayah Jawa Tengah baru dimulai pada Oktober 2019. Dengan kata lain, musim hujan mengalami pemunduran waktu antara 1-2 dasarian atau 20 hari karena pengaruh suhu perairan.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Semarang Tuban Wiyoso mengatakan musim hujan pada tahun ini, memang diprediksi mengalami pergeseran. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisa data serta perkembangan kondisi fisis atmosfer regional maupun global, memengaruhi kondisi iklim di wilayah Jateng.

Tuban menjelaskan, awal musim hujan paling awal diperkirakan terjadi pada Oktober 2019 dasarian I. Hanya saja, hujan baru turun merata di seluruh wilayah Jateng pada November 2019.

Menurutnya, wilayah Jateng yang memasuki musim hujan paling akhir adalah sebagian wilayah Kabupaten Jepara dan sebagian wilayah Demak hingga Kudus.

"Hujannya mundur sekitar 1-2 dasarian. Dari sifatnya, umumnya normal. Normal itu artinya curah hujannya sama, atau hampir sama dengan rata-ratanya. Ada yang di bawah normal, tapi tidak terlalu banyak hanya sebagian. Jadi, sebagian besar normal. Pada 2018 juga umumnya, tapi juga ada yang di bawah normal," kata Tuban, Kamis (29/8).

Tuban lebih lanjut menjelaskan, untuk sifat hujan di wilayah Jateng diperkirakan normal. Yakni, antara 85-115 persen terhadap reratanya. Namun, ada juga wilayah di Jateng yang sifat hujannya di bawah normal sekira 21,8 persen terhadap reratanya.

"Kalau puncak musim hujannya, diperkirakan baru terjadi pada Desember 2019. Tapi masih sebagian kecil di wilayah selatan Cilacap. Sementara lainnya, puncak musim hujan baru terjadi antara Januari-Februari 2020," jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Tuban, pihaknya mengimbau kepada masyarakat Jateng untuk mewaspadai potensi angin kencang dengan disertai petir saat hujan lebat. (K-08)

Kenalkan Program Kegiatan Diplomat, Kemenlu Gelar Diplofest di Semarang

Perwakilan dari Kemenlu memaparkan Diplomacy Festival yang diada-
kan di Semarang.
Semarang-Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menggelar Diplomacy Festival atau Diplofest di Semarang, Kamis-Jumat (29-30/8). Tujuannya, untuk menginspirasi generasi muda mengenal dan menjadi bagian dari Diplomasi Indonesia.

Direktur Informasi dan Media Kemenlu, Listiana Operananta mengatakan ada sejumlah materi dan kegiatan tentang diplomasi luar negeri di antaranya public lecture, Edu Fair & Friends of Indonesia dan talkshow bersama menteri luar negeri. Khusus untuk public lecture, sejumlah pejabat eselon I di Kemenlu atau setingkat direktur jenderal akan memberikan kuliah umum di sejumlah perguruan tinggi di Kota Semarang dan sekitarnya.

Menurutnya, kegiatan Diplofest ini menyasar pada generasi muda usia pelajar hingga mahasiswa untuk bisa mengenal dan terlibat aktif untuk menyelami diplomasi Indonesia secara langsung.

Listiana menjelaskan, yang menarik di acara Diplofest ini adanya simulasi sidang di Dewan Keamanan PBB di areal soft skill. Sehingga, para pelajar dan mahasiswa bisa ikut merasakan menjadi wakil Indonesia membahas isu perdamaian dunia. 

"Pertama memang memberikan pemahaman mengenai kegiatan Kementerian Luar Negeri. Terus juga tentang kerja diplomat, dan kegiatan seperti ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk ketemu dengan pelaku. Jadi, harapan kami diplomasi yang membumi menjadi prinsip kami bisa dilaksanakan," kata Listiana, kemarin.

Lebih lanjut Listiana menjelaskan, di Diplofest yang digelar juga diselenggarakan workshop keprotokolan luar negeri se-Jateng dan diikuti seluruh protokol dari 35 kabupaten/kota. Tujuannya, untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait sejumlah hal tentang diplomasi dan tata cara menerima tamu internasional.

"Peserta diajak memahami tata cara menerima tamu dari negara sahabat, sehingga tahu bagaimana berkomunikasi," jelasnya.

Diketahui, Diplofest sebelumnya diadakan di Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Padang dan Makassar. Semarang menjadi kota terakhir, penyelenggaraan Diplofest tahun ini. (K-08)