Minggu, 01 September 2019

Capaian Kinerja Kesehatan Jateng Hampir Sesuai Target

Kadinkes Jateng Yulianto Prabowo menyebut jika capaian kinerja indi-
kator kesehatan hampir tercapai di semestet pertama 2019.
Semarang-Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan sesuai dengan Undang-Undang 36 Tahun 2009, kesehatan adalah hak fundamental bagi setiap warga negara. Sehingga, semua orang berhak memeroleh perlindungan terhadap kesehatannya. 

Yulianto menjelaskan, pada tahun ini keberhasilan kinerja pembangunan kesehatan di Jateng diukur menggunakan capaian indikator Rencana Pembangunan Kesehatan Jangka Menengah (RPJMD). Saat ini, capaian kinerja pada semester pertama 2019 hampir semua indikator telah mencapai target.

Namun demikian, lanjut Yulianto, meski beberapa indikator bisa dikatakan mencapai target. Tetapi, Jateng masih memiliki masalah prioritas kesehatan yang perlu digenjot lagi. Yakni penurunan AKI, AKB dan stunting.

"Kita evaluasi ini adalah sampai sejauh mana capaian indikator kinerja kita, baik output maupun outcome-nya. Sehingga, nanti diharapkan apabila ini tercapai kita pertahankan dan kita tingkatkan. Tapi, apabila belum tercapai akan kita kejar. Jadi, ada banyak indikator yang apabila ditangkum intinya itu terkait dengan kesakitan. Baik penyakit menular dan tidak menular, maupun angka kematian yang terkait dengan angka kematian ibu, bayi dan penyebab lainnya," kata Yulianto di sela pertemuan Evaluasi Tengah Tahun Pembangunan Kesehatan 2019 di Paragon Hotel Solo, Kamis (29/8). 

Yulianto lebih lanjut menjelaskan, upaya menekan dan menurunkan angka kesakitan dan kematian terhadap penyakit menular (PM) maupun penyakit tidak menular (PTM) akan terus dilakukan jajarannya di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Terutama, untuk beberapa jenis penyakit yang menjadi fokus perhatian. Misalnya TBC dan angka kematian ibu dan bayi.

"Peningkatan derajat kesehatan masyarakat, tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan dan rumah sakit pemerintah tetapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak. Oleh karena itu, koordinasi dan evaluasi perlu dilakukan untuk menuntaskan permasalahan kesehatan di Jawa Tengah," pungkasnya. (K-08)

Ini Kata Disperindag Jateng Soal Sanksi Administratif Bagi Pengguna Elpiji Subsidi Yang Tidak Berhak

Unit Manager Comm & CSR MOR IV Andar Titi Lestari menyebutkan
kelangkaan elpiji bersubsidi karena tidak tepat sasaran.
Semarang-Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Mochamad Santoso mengatakan kasus kelangkaan elpiji bersubsidi tiga kilogram di tengah masyarakat, disinyalir karena adanya pendistribusian yang tidak tepat sasaran. Banyak pihak yang seharusnya tidak memakai elpiji bersubsidi, tetapi masih nekat menggunakannya.

Menurutnya, dari sejumlah temuan yang dilakukan saat digelar inspeksi mendadak memang diketahui elpiji bersubsidi banyak dipakai pelaku usaha menengah. Salah satunya adalah pemilik rumah makan berskala besar, maupun pemilik usaha laundry.

Santoso menjelaskan, para pemilik rumah makan berskala besar ataupun usaha laundry bukan sasaran dari pendistribusian elpiji bersubsidi tersebut. Namun, pihaknya baru sebatas memberikan teguran terhadap pelaku usaha yang terbukti menggunakan elpiji bersubsidi. Sedangkan pemberian sanksi yang sifatnya administrasi, diserahkan kepada Disperindag masing-masing kabupaten/kota. Karena, kabupaten/kota yang memberikan izin usaha terhadap para pelaku usaha tersebut.

"Misalnya untuk usaha mikro dan rumah tangga prasejahtera, ini adalah kelompok masyarakat yang berhak. Tapi yang tidak berhak tetap menggunakan, ya tentunya akan diberi sanksi teguran dulu. Setelah diberi teguran, tentunya diberi sanksi-sanksi administrasi. Masih sebatas itu sanksinya. Tapi, sanksi  administrasi menjadi ranah kabupaten/kota karena mereka yang bisa memberikan. Misal pembatasan izin atau pencabutan izin, karena kabupaten/kota yang mengeluarkan," kata Santoso di sela menjadi pembicara dalam diskusi mekanisme pendistribusian elpiji bersubsidi di Hotel Java Heritage Purwokerto, Jumat (30/8).

Unit Manager Communication & CSR Pertamina MOR IV Andar Titi Lestari menambahkan, pihaknya terus menyebarluaskan dan mengedukasi masyarakat mengenai penyaluran elpiji bersubsidi tepat sasaran. 

Pendistribusian elpiji bersubsidi, jelas Andar, hanya diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan usaha mikro. Oleh karenanya, Pertamina akan terus berkoordinasi dan bersinergi dengan seluruh stakeholder yang berkaitan dengan penyaluran elpiji bersubsidi.

"Tentunya, kami memohon bantuan kepada para stakeholder untuk bersama-sama mengawasi penyaluran elpiji bersubsidi itu bisa tepat sasaran. Sehingga, tidak ada lagi keluhan tentang kelangkaan elpiji," ujar Andar. (K-08)

Tarik Wisatawan Datang, Pemprov Ingin Pasar Tradisional Dibuat Destinasi Wisata Menarik

Aktivitas jual beli di Pasar Lembah Merapi di Kabupaten Magelang.
Foto: ISTIMEWA
Semarang-Sejumlah pasar tradisional yang di wilayah Jawa Tengah, layak untuk dikembangkan menjadi destinasi pariwisata unik. Tidak menutup kemungkinan, jika pasar tradisional yang ditata menjadi destinasi wisata itu akan menggerakkan roda perekonomian wilayah setempat.

Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan pasar-pasar tradisional yang ada di Jateng, jika dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan konsep dan penataannya unik akan menjadi obyek wisata menarik. Salah satu yang bisa ditiru adalah Pasar Tradisional Lembah Merapi di Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun di Kabupaten Magelang.

Menurutnya, Pasar Tradisional Lembah Merapi menerapkan sistem pembayaran yang cukup unik.

Ganjar menjelaskan, di pasar itu orang yang berbelanja tidak boleh menggunakan uang Rupiah atau Dollar sebagai alat pembayaran yang sah. Melainkan, hanya boleh menggunakan koin dari bambu.

"Minimal di ujung-ujung kampung atau di ujung daerah terpencil ini ekonomi kreatifnya bisa muncul. Dan sumber daya yang dibutuhkan, disuplai langsung masyarakat di sekitarnya. Menurut saya bagus, dan tinggal penataan agar lebih cantik. Umpamanya saat ini kemarau dan banyak debu, maka perlu penataan lingkungan. Mungkin tanahnya dibuat susunan batu-batu, ini akan menjadi menarik. Kemudian, dibuat taman yang indah," kata Ganjar belum lama ini.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, masyarakat di sekitar Pasar Tradisional Lembah Merapi menjajakan aneka penganan jadul tempo dulu. Misalnya gethuk, dawet, sego megono, iwak wader, serabi, jamu dan aneka kuliner yang jarang ditemui di restoran-restoran.

Dengan latar pemandangan Gunung Merapi, lanjut Ganjar, tempat ini menjadi sangat menarik. Oleh karenanya, konsep pasar tradisional dengan potensi wisata dan ekonomi perlu terus dikembangkan di sejumlah wilayah di Jateng.

"Geliat kampung-kampung yang memunculkan ekonomi kreatif akan terus didukung. Sehingga, ekonomi masyarakat bisa terangkat," pungkasnya. (K-08)