Kamis, 31 Oktober 2019

Bandara Ngloram dan Dewandaru Terus Dikebut Pengembangannya

Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Semarang-Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah Satriyo Hidayat mengatakan pemerintah terus mengembangkan sarana transportasi udara, agar bisa melayani mobilitas masyarakat. Sehingga, bandara-bandara kecil yang ada di Jateng terus dikebut pengembangannya.

Satriyo menjelaskan, beberapa bandara kecil yang sedang dikembangkan adalah Bandara Ngloram di Kabupaten Blora, Bandara Dewandaru di Karimunjawa dan Bandara Wirasaba di Purbalingga. Ketiga bandara itu, mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dan pemprov dalam upaya mendukung transportasi udara.  

"Bandara Ngloram itu di 2019 akhir, ini nanti panjangnya sudah 1.200 meter dan itu bisa digunakan flight charter untuk ATR-42 atau ATR-72 terbatas. Nanti, di 2020 rencananya kami akan bekerja sama dengan pemerintah pusat kita membebaskan lahan dan pusat yang membangun. Sehingga, bandara di tahap pertama nanti dibangun 1.600 meter. Kalau panjang landasan 1.600 meter bisa untuk penuh kapasita ATR-72. ATR-72 populasinya banyak di Jawa," kata Satriyo, Kamis (31/10).

Lebih lanjut Satriyo menjelaskan, untuk pengembangan Bandara Dewandaru di Karimunjawa sampai akhir tahun ini panjang landasan ditargetkan bisa mencapai 1.400 meter. Sedangkan pengembangan maksimalnya hingga 1.600 meter, ditargetkan bisa terealisasi pada 2020/2021 mendatang. (K-08)

Pemprov Siapkan Dana Tak Terduga Untuk Bantu Perbaikan Rumah Rusak Karena Angin Kencang

Sudaryanto
Kalahar BPBD Jateng
Semarang-Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Sudaryanto mengatakan pemprov sudah menyediakan dana tak terduga, untuk membantu korban bencana angin kencang, beberapa hari kemarin. Dana tak terduga yang disiapkan itu sebesar Rp1,4 miliar, untuk membantu masyarakat karena rumahnya roboh akibat diterjang angin kencang.

Sudaryanto menjelaskan, bencana angin kencang yang terjadi beberapa hari terakhir ini melanda di delapan kabupaten di Jateng. Dampaknya, 126 rumah mengalami kerusakan cukup berat.

Menurutnya, untuk membantu masyarakat yang menjadi korban bencana angin kencang sudah disiapkan bantuan keuangan dari provinsi maupun kabupaten/kota. 

"Kemarin ketika terjadi angin kencang, itu ada di delapan kabupaten. Dari itu semua, ada sekitar tiga ribu rumah yang menjadi korban. Baik rusak berat, roboh, sedang atau ringan. Setelah kami hitung, ada kerugian sekitar Rp5 miliar. Setelah dicermati dari rumah roboh dan rusak berat itu, sekitar Rp1,4 miliar akan dibantu dari biaya tidak terduga provinsi. Kalau yang sedang dan ringan, menjadi tanggung jawab kabupaten/kota," kata Sudaryanto, Kamis (31/10).

Lebih lanjut Sudaryanto menjelaskan, pemprov juga sudah menyiapkan anggaran senilai Rp23 miliar guna mitigasi bencana di musim hujan nanti. Karena, musim hujan diperkirakan terjadi pada November 2019 dan musim hujan diperkirakan antara Januari-Februari 2020 mendatang.

"Kalau pas musim hujan nanti, yang perlu diwaspadai adalah bencana banjir dan tanah longsor," tandasnya. (K-08)

Jateng Gelar Bisnis Forum di Jakarta Coba Serap Investasi Rp75 Triliun

Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Jateng Ratna Kawuri saat
menjelaskan rencana penyelenggaraan bisnis forum di Jakarta besok.
Semarang-Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Tengah Ratna Kawuri mengatakan pemprov akan menggelar Central Java Investment Business Forum dan Central Java Business Expo 2019, yang akan diadakan di Jakarta pada 5 November mendatang. Pemprov berharap ada pemasukan investasi dari ajang tersebut sebesar Rp75 triliun dengan menggaet 400 peserta.

Ratna menyebutkan, pihaknya akan menawarkan lima aspek sektor investasi unggulan Di antaranya adalah pariwisata dan infrastruktur. 

Ratna menjelaskan, sektor pariwisata menawarkan investasi senilai Rp414,69 miliar dan sektor manufaktur sebesar Rp550,02 miliar serta sektor properti sebanyak Rp124,48 miliar. Selain itu, untuk sektor infrastruktur nilai investasinya mencapai Rp45,50 miliar dan di sektor agrikultur investasinya sebesar Rp11,93 miliar.

Menurutnya, para calon investor yang dibidik menanamkan investasinya di Jateng tidak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. 
"Menjadi target kami yang bisa berpartisipasi dan juga memanfaatkan peluang itu adalah dari investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Target kami keseluruhan adalah 400 peserta, baik dari investor maupun dari asosiasi pelaku usaha dan semua rekan dari BUMN/BUMD yang mempunyai proyek-proyek atau peluang investasi yang sekiranya layak dan siap ditawarkan pada event tersebut," kata Ratna, Rabu (30/10).

Lebih lanjut Ratna menjelaskan, sampai dengan saat ini tercatat sudah ada 330 investor yang mendaftar untuk mengikuti ajang bisnis forum tersebut. Termasuk, 50 pengusaha asal Tiongkok dari sektor industri kayu dan furnitur. (K-08)

1.100 Hektare Lahan di Jateng Terbakar

Tiga personel berupaya memadamkan api di padang ilalang yang telah
mengering di Semarang.
Semarang-Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah Teguh Dwi Paryono mengatakan kebakaran hutan maupun di sekitar lereng gunung yang ada di provinsi ini sepanjang musim kemarau luasannya mencapai 1.100 hektare. Tersebar di sejumlah wilayah, dan paling banyak terjadi di savana yang mengering.

Dari seluruh luasan hutan yang terbakar itu, jelas Teguh, hampir 90 persen karena faktor kesengajaan atau dari manusia. Baik karena sengaja membakar hutan untuk membuka lahan, ataupun membuang puntung rokok dan meninggalkan jejak api unggun yang belum padam.

Menurutnya, api yang cepat membesar itu disebabkan karena tiupan angin kencang di musim kemarai dan tidak terpantau petugas pengawas lapangan.

Teguh menjelaskan, beberapa lereng gunung di Jateng yang terbakar itu di antaranya adalah Gunung Merbabu. Luasan lahan yang terbakar di lereng Gunung Merbabu sudah mencapai 468 hektare, dan cukup sulit untuk dipadamkan. 

"Dan Jawa itu sebetulnya yang terjadi bukan karena alam, tapi karena faktor kelalaian dari manusia. Tanaman yang terbakar itu musiman, dan yang perlu diingat yang terbakar memang sebagian besar adalah savana atau padang rumput yang kering dan mudah terbakar. Dan memang, ada sebagian hutan pinus. Kenapa terbakarnya lama? Karena pinus punya sifat menghasilkan minyak Gondorukem," kata Teguh, kemarin.

Dari kejadian kebakaran hutan di Jateng, lanjut Teguh, seorang warga meninggal dunia karena terjebak kobaran api. Warga di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten itu tewas di pekarangan rumahnya karena tidak bisa menyelamatkan diri saat kawasan perbatasan hutan terbakar. (K-08)