Rabu, 08 Januari 2020

BPJS Kesehatan Jateng-DIY Siap Bantu Peserta JKN Yang Mau Turun Kelas

Semarang-PPS Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Jawa Tengah dan DIY Lucky Hefriat mengatakan keluarnya Perpres Nomor 75 Tahun 2019, maka diberlakukan penyesuaian kenaikan iuran untuk peserta bukan penerima upah atau peserta mandiri. Dampaknya, banyak peserta mandiri yang menurunkan kepesertaannya dari kelas satu menjadi kelas dua dan bahkan ke kelas tiga.

Lucky menjelaskan, pihaknya saat ini hanya bisa menyampaikan data penurunan kelas secara nasional. Secara nasional, penurunan kelas dari kelas satu menjadi kelas dua sebanyak 96.735 jiwa. Kemudian, peserta dari kelas satu ke kelas tiga ada 188.088 jiwa. Dan dari kelas dua ke kelas tiga, ada 508.885 jiwa.

Sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah, jelas Lucky, pihaknya tidak bisa mengeluarkan data secara detil seperti nasional. Namun, dari kunjungan saja, ada data yang melakukan perubahan kelas. Sebelum keluar perpres, reata sekira 600 peserta per bulan. Setelah keluar perpres, untuk Desember 2019 kemarin saja ada 21.800 peserta.

"Sekitar 3,7 juta jiwa peserta mandiri, melakukan perubahan penurunan kelas sebanyak 21.824 jiwa. Ini yang berkunjung ke kantor-kantor cabang kami. Ini hanya data dari kunjungan ke kantor, kebetulan itu yang kami record saja. Sedangkan yang dari mobile JKN dan lain-lainnya, tentu saja harus kami olah datanya terlebih dulu," kata Lucky, Rabu (8/1).

Lebih lanjut Lucky menjelaskan, dengan adanya penyesuaian iuran pihaknya tetap berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan kepada peserta JKN-KIS. Di antaranya BPJS Satu, yakni karyawan BPJS Kesehatan yang ada di rumah sakit menangani permasalahan-permasalahan administratif.

"Kami juga ada Program praktis, membantu masyarakat yang memang keberatan dengan kenaikan iuran dan ingin turun kelas. Tanpa persyaratan sebagaimana mestinya
persyaratan normalnya jika ingin melakukan perubahan kelas minimal menjadi peserta JKN-KIS selama setahun," pungkasnya.

Kampung Gebang Anom Genuk Terendam Banjir

Sebuah truk melintas di genangan banjir di Kampung Gebang Anom
Raya, Genuk, Rabu (8/1).
Semarang-Sejumlah kawasan di wilayah Kecamatan Genuk tergenang banjir, akibat hujan yang mengguyur sejak Selasa (7/1) siang hingga malam hari. Salah satunya adalah Kampung Gebang Anom Raya, karena memang kontur daerahnya lebih rendah dari jalan raya Semarang-Demak.

Salah seorang warga, Boga mengatakan jika hujan deras memang mengguyur di wilayah Semarang bagian timur hampir seharian. Akibatnya, air di saluran-saluran di sekitar kampung meluap.  

Menurutnya, saluran-saluran air tidak bisa mengalirkan air ke sungai yang besar. Dugaannya, saluran air itu tersumbat sampah.

Boga menyebutkan, hal itu terlihat dari beberapa sampah yang mengapung di sekitar saluran air. 

"Kemarin itu hujan dari siang menjelang sore sampai malam sekitar jam 10an, dan hujannya itu intensitasnya enggak menurun. Jadi, hujan deras terus. Baru tahu banjir itu pas mau berangkat kuliah. Memang di sini kawasan langganan banjir. Ketinggian air dari depan rumah saya sampai ke jalan raya hampir selutut, ya kira-kira 40 sentimeter. Ada beberapa rumah warga yang terendam banjir, karena ada gang yang banjirnya lebih dalam," kata Yoga, Rabu (8/1).

Boga berharap, banjir di kampungnya bisa segera surut dan tidak turun hujan kembali dengan intensitas sedang hingga lebat.

Sementara, Gubernur Ganjar Pranowo sempat melakukan pemantauan banjir di wilayah Kaligawe, Selasa (8/1). Dari pemantauan diketahui, jika beberapa pompa air tidak bisa bekerja maksimal akibat tersumbat sampah.

"Rumah Pompa Kaligawe ada yang tidak bisa maksimal bekerja, karena tersumbat sampah. Penjaga sudah saya minta untuk dibersihkan, agar bisa maksimal nyedot airnya," ujar Ganjar. (K-08)

Penduduk Bertambah Banyak,Pengembang di Jateng Berupaya Sediakan Rumah

Pameran perumahan di Kota Semarang menjadi jawaban bagi warga
yang belum memiliki rumah untuk menentukan pilihan hunian terbaik.
Semarang-Bertambahnya penduduk di suatu wilayah, membuat kebutuhan akan rumah terus mengalami peningkatan. Terutama di kota-kota besar di Jawa Tengah, di antaranya Kota Semarang dan Kota Surakarta.

Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Jateng MR Prijanto mengatakan bertambahnya jumlah penduduk dan banyaknya pasangan baru menikah, memengaruhi kebutuhan rumah di tengah masyarakat. Karena permintaan yang cukup banyak, membuat pengembang kesulitan untuk memenuhi hunian pada saat sekarang ini.

Prijanto menjelaskan, pada tahun kemarin saja kebutuhan rumah di Jateng tercatat 800 ribu unit. Sedangkan pengembang yang sedianya akan membangun sejuta unit rumah tidak bisa terlaksana, karena terganjal dengan ketersediaan lahan perumahan.

Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan dan kebutuhan rumah mengalami peningkatan akan berakibat backlog rumah semakin tinggi. Ditambah lagi, adanya pergerakan perpindahan penduduk dari desa ke kota yang juga membutuhkan tempat tinggal.

"Hampir menyeluruh, ya. Makanya bisa kelihatan, bahwa baclog itu tersebar di kota besar maupun di daerah atau kota kecil. Tapi kalau kota kecil atau di daerah, masih bisa teratasi karena lahan masih tersedia. Tapi kalau di Kota Semarang, angka backlognya masih cukup tinggi. Kita dan pemerintah akan terus berupaya, agar kebutuhan masyarakat mengenai rumah bisa terpenuhi," kata Prijanto, Rabu (8/1).

Prijanto lebih lanjut menjelaskan, para pengembang di Jateng akan bekerja sama dengan pemerintah dalam menyediakan rumah subsidi maupun rumah sewa berupa hunian vertikal. (K-08)

Pengembang Rumah Berharap Penuh di 2020 Penjualan Bisa Naik

Dibya Hidayat
Ketua Property Expo Semarang
Semarang-Property Expo Semarang kembali digelar, guna kebutuhan tempat tinggal bagi masyarakat. Terutama, untuk rumah-rumah tipe komersial dengan harga di atas Rp500 juta.

Ketua Property Expo Semarang Dibya Hidayat mengatakan di awal tahun ini, pihaknya kembali menggelar pameran perumahan di Atrium Mal Paragon mulai 8-19 Januari 2020. Pameran perumahan itu diikuti sembilan pengembang rumah, yang akan menawarkan produk-produk siap huni kepada masyarakat.

Dibya menjelaskan, pada awal tahun ini diharapkan bisa menjadi awal yang bagus bagi para pengembang dalam menggaet calon pembeli. Terlebih lagi, angin segar dari perbankan juga telah dihembuskan.

"Kalau harapan kami ya, kalau kita lihat tren yang ada bahwa suku bunga KPR sekarang sudah stabil. Cenderung menurun ya. Sekarang ada yang di bawah tujuh persen, dan bahkan sampai 6,75 persen tepatnya dengan fix tiga tahun. Saya rasa ini adalah penawaran terbaik dari perbankan. Semoga, tidak ada aturan-aturan baru yang aneh-aneh dari pemerintah yang kadang-kadang tidak pro dengan penjualan," kata Dibya, Rabu (8/1).

Lebih lanjut Dibya menjelaskan, selain suku bunga KPR yang stabil ada beberapa kebijakan perbankan pro penjualan rumah. Yakni uang muka yang ringan, dan Loan to Value (LTV) mulai lunak. (K-08)

Ganjar Cek Banjir di Kaligawe

Gubernur Ganjar Pranowo memantau langsung kondisi banjir yang ada
di jalan raya Kaligawe, Semarang, Selasa (7/1) malam.
Semarang-Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengecek banjir di Kaligawe, Semarang usai melakukan lawatan ke wilayah Tegal dan Pemalang, Selasa (7/1) malam. 

Mengenakan mantel dan sepatu boot, Ganjar melihat langsung beberapa titik genangan air di wilayah Kaligawe penghubung Kota Semarang dengan Kabupaten Demak. 

Ganjar Pranowo mengatakan dari tempatnya berdiri, genangan air banjir sudah mencapai betis orang dewasa. Namun, beberapa langkah di depan genangan air mencapai sepaha.

Akibat dari genangan banjir itu, lanjut Ganjar, kondisi lalu lintas dari Terboyo ke Genuk dan sebaliknya tersendat. 

Menurutnya, dari ketinggian air itu perlu dicek rumah pompa. Ternyata, aliran dari pipa saluran air tidak optimal. 

"Jika curah hujan tidak terlalu lebat, maka penanganan banjir di Semarang masih bisa dikendalikan. Namun jika tinggi intensitasnya, masyarakat bisa bersabar karena genangannya tidak akan lebih dari satu jam. Ini memang harus kita kelola dengan baik, karena hukum alamnya memang begitu," kata Ganjar.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, tidak hanya Rumah Pompa Kaligawe yang dicek tapi juga Rumah Pompa Sringin dan Waru. Karena, masih terdapat tiga pompa yang rusak dan tidak berfungsi dengan optimal. 

"Di dekat pompa situ masih ada genangan di bawah jembatan tol, depan Sultan Agung dan sekitar Polsek Genuk. Kemarin ada dua mobile portabel, ini bisa dioptimalkan," pungkasnya. (K-08)