Sabtu, 24 Maret 2018

Satlantas Polrestabes Semarang Jaring Pelanggar Potensial Kecelakaan 250 Pelanggar Tiap Hari

Wakasatlantas Polrestabes Semarang Kompol Sumiarta memakaikan
helm kepada seorang anak di Jalan Pemuda. 
Semarang-Operasi Keselamatan Berlalulintas Candi 2018 yang digelar sejak 5 Maret kemarin, mampu menekan angka kecelakaan di jalan. Terbukti, dalam sehari jajaran Satlantas Polrestabes Semarang bisa menjaring 250-300 pelanggar yang berpotensi kecelakaan setiap harinya.

Wakasatlantas Polrestabes Semarang Kompol Sumiarta mengatakan di dalam pelaksanaan Operasi Keselamatan Berlalulintas 2018, memang lebih menekankan pada aspek pengurangan angka kecelakaan berlalulintas.

Sasaran dari operasi tersebut, pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm atau berboncengan lebih dari satu orang. Serta kendaraan yang melawan arah, dan bisa membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

"Untuk pelanggaran yang memang berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas, kita lakukan penindakan dengan tilang. Kami bisa menilang dengan hasil rata-rata setiap di Kota Semarang antara 250-350 pelanggar. Itu untuk pelanggar yang memang berpotensi kecelakaan," kata Sumiarta di Semarang.

Lebih lanjut Sumiarta menjelaskan, pihaknya tidak bosan mengingatkan kepada para pengguna jalan agar selalu tertib berlalulintas.

"Kami terus turun ke jalan untuk melakukan sosialisasi keselamatan berlalulintas, atau menggunakan pengeras suara di traffic light mengingatkan pentingnya keselamatan berlalulintas," pungkasnya. (K-08)

Ngasbun: Banyak Guru Lupakan Fungsi Utamanya Sebagai Pendidik Karena Faktor Ini

Semarang-Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan, khususnya di lingkungan sekolah karena pihak sekolah atau guru hanya mengejar faktor kognitif atau ilmu pengetahuan saja.

Anggota Dewan Pendidikan Jawa Tengah Ngasbun Edgar mengatakan di dalam dunia pendidikan, bukan hanya faktor kognitif saja yang dikejar, tapi juga faktor sikap dan keterampilan.

Menurutnya, kecenderungan sekarang memang sekola lebih banyak menekankan pada aspek kognitif. Yakni, membuat anak mencerna semua mata pelajaran dan meraih nilai yang tinggi. Sehingga, nama baik sekolah menjadi meningkat karena menghasilkan lulusan dengan nilai bagus.

Padahal, peran sekolah atau guru tidak hanya mengajar saja, tetapi juga mendidik. Yaitu melalui pendidikan karakter, sehingga anak bisa lebih sopan dan santun kepada guru maupun dengan siswa yang lain.

Fungsi mendidik ini di kalangan guru memudar, jelas Ngasbun, karena guru terlalu banyak dibebani dengan tugas administratif. Yakni merencanakan pembelajaran, menyiapkan materi pelajaran dan media pembelajaran serta evaluasinya.

"Saya memang melihat ada kecenderungan guru sekarang agak kerepotan ketika menjalankan tugas itu (mendidik). Kecenderungannya mereka terlalu banyak dibebani dengan tugas administratif, sehingga para guru sulit mengatur waktu untuk konsentrasi di bidang pendidikannya. Mestinya memang guru tidak dibebani tugas-tugas administratif yang terlalu berat, sehingga bisa fokus untuk mendidik para siswanya," kata Ngasbun di Semarang.

Lebih lanjut Ngasbun menjelaskan, pendidikan karakter yang dibangun sekolah atau guru seharusnya lebih diutamakan. Sehingga, siswa tidak hanya pintar dalam mata pelajaran tetapi juga memiliki budi pekerti.

Oleh karena itu, ia mengusulkan agar tugas-tugas administratif guru bisa dikurangi dan lebih fokus pada peran utamanya mendidik siswa tidak hanya sekadar memberikan pelajaran. (K-08)