Sabtu, 26 Mei 2018

DGCI Semarang Bagikan Seribu Takjil Gratis di Bulan Ramadan

Sejumlah anggota DGCI Semarang membagikan takjil di Jalan DI Pan-
jaitan Kampung Kali Semarang, Sabtu (26/5).
Semarang-Bulan Ramadan identik kegiatan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Salah satunya berbagi takjil gratis di bulan puasa kepada masyarakat luas.

Komunitas DGCI Semarang secara spontan, selama bulan puasa ini membagikan seribu takjil gratis kepada sejumlah pengguna jalan yang kebetulan melintas di titik pembagian. Satu di antaranya berada di Jalan DI Panjaitan depan SMPN 3 Semarang, Sabtu (26/5).

Koordinator aksi Putu Panda mengatakan, kegiatan tersebut murni karena inisiatif dari anggota yang ingin di bulan penuh berkah ini.

Menurutnya, tidak ada paksaan kepada setiap anggota untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembagian takjil gratis.

"Ada yang menyumbang kue kering, gorengan, roti maupun minuman. Yang memberikan uang tunai juga ada, nanti kita belanjakan sesuai kebutuhan," kata wakil ketua DGCI Semarang itu.

Lebih lanjut Putu menjelaskan, setelah berbagi takjil di sejumlah ruas jalan di Kota Semarang, acara diakhiri dengan buka puasa bersama para anggota. 

"Kebetulan bertepatan dengan kegiatan rutin arisan bulanan ibu-ibu, jadi ya sekalian saja," ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana tugas Ketua DGCI Semarang Andi Seti menambahkan, kegiatan bagi takjil gratis memang sudah rutin dilakukan setiap datang bulan Ramadan.

Lokasi pembagian, jelas Andi, selalu berpindah dan merata. Baik di kawasan timur, selatan maupun bagian barat Kota Semarang.

"Sudah jadi agenda rutin tahunan komunitas kami di bulan puasa. Selain bagi takjil, kegiatan sosial di bulan Ramadan juga sudah kami susun bersama anggota lainnya," ucap Andi. (K-08)

Kapolda Ingatkan Masyarakat Waspadai Kejahatan Jalanan Jelang Lebaran

Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono memeriksa personel yang akan
membantu pemudik saat melintas di wilayah Jateng. 
Semarang-Kejahatan jalanan diperkirakan akan meningkat menjelang Lebaran, mulai dari pemalakan, penjambretan atau pencopetan di tempat-tempat keramaian dan juga perampokan nasabah atau toko emas. Oleh karena itu, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono mengimbau kepada masyarakat, agar berhati-hati terhadap aksi kejahatan jalanan atau street crime.

Menurutnya, kejahatan jalanan bisa terjadi karena kebutuhan masyarakat menjelang hari raya mengalami peningkatan. Sehingga, bukan tidak mungkin jika banyak pelaku kriminal memanfaatkan situasi tersebut.

Kapolda menjelaskan, pihaknya berkomitmen untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat Jateng yang akan merayakan Lebaran. Termasuk, para pemudik yang memasuki wilayah Jateng.

Upaya yang dilakukan, lanjut Condro, dengan cara menambah personel pengamanan di tempat-tempat vital bertransaksi. Misalnya di toko emas, pusat perbelanjaan atau di kantor bank untuk memberikan pengawalan terhadap nasabah yang mengambil uang dalam jumlah banyak.

"Kejahatan-kejahatan street crime atau kejahatan jalanan, misalnya toko-toko emas dan kemudian perbankan pada saat mengambil uang, tentunya dengan modus yang berbeda-beda. Selain itu, narkoba dan penjambretan seperti itu yang kita antisipasi," kata kapolda.

Lebih lanjut Condro menjelaskan, menjelang dan pada saat Lebaran pihak kepolisian akan meningkatkan patroli rutin untuk mendeteksi dan mencegah aksi kejahatan yang dilakukan para pelaku kriminal. 

Diwartakan sebelumnya, untuk memberi rasa aman saat Lebaran, Polda Jateng menerjunkan 21 ribu personel. Petugas kepolisian disebar di sejumlah tempat, untuk mengantisipasi terjadinya aksi kejahatan yang mengganggu masyarakat atau pemudik. (K-08)

Go-Jek Ajak Penggunanya Bersedekah Lewat Program #CariPahala

Senior Brand Manager Go-Jek Intan Asmara Dewi (kanan) bersama VP
Central Java Go-Jek Delly Nugraha (kanan) menunjukkan aplikasi Go-
Jek edisi Ramadan. 
Semarang-Selama bulan Ramadan ini, penyedia aplikasi transportasi dalam jaring, Go-Jek mengadakan program Ramadan berbagi lewat #CariPahala. Program tersebut memberikan kemudahan kepada para penggunanya, mulai dari berbagi dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Senior Brand Manager Go-Jek Intan Asmara Dewi mengatakan program yang sedang dikenalkan kepada pengguna, bersedekah secara digital menggunakan Go-Pay. Sebab, dari awal kemunculan Go-Jek di Indonesia para pengguna aplikasi kerap memberikan tips kepada mitra Go-Jek. Sehingga, tidak ada salahnya jika pihaknya memfasilitasi pengguna mendonasikan dananya di Go-Pay, dan nantinya dana yang terkumpul akan disalurkan ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Menurutnya, bersedekah digital cukup dengan memindai QR Code Baznas yang bisa ditemui di sejumlah areal publik. Di antaranya adalah stasiun dan booth-booth milik Baznas.

Intan menjelaskan, dalam program Ramadan tahun ini Go-Jek juga memberikan apresiasi kepada para mitranya melalui Rantai Kebaikan. Yakni program Bikin Teduh, yaitu pembenahan tempat kumpul para mitra Go-Jek dan berbuka puasa bersama serta program mudik untuk mitra dan keluarganya. 

"Program ini cukup relevan di bulan Ramadan. Misalnya sedekah melalui Go-Pay yang mendapat apresiasi dari pengguna karena cukup mudah," kata Intan di Semarang, Jumat (25/5).

Lebih lanjut Intan menjelaskan, selama Ramadan ini juga ada promo khusus saat pengguna memakai aplikasi Go-Food. Yakni, promo ongkos kirim sebesar Rp2 ribu saat pemesanan makanan untuk berbuka puasa.

"Yang paling laris adalah layanan Go-Food saat berbuka karena ada promo ongkir Rp2 ribu," ujarnya.

Sementara, VP Central Java Region Go-Jek Delly Nugraha menambahkan, ada program spesial lain yang bisa dimanfaatkan para pengguna. Yakni layanan Go-Ride yang akan mengantarkan konsumen ke masjid terdekat untuk menjalankan ibadah salat tepat waktu.

"Pada pekan pertama Ramadan ini, ternyata permintaan pesanan Go-Ride ke masjid sangat banyak. Inilah yang menjadi dasar bagi kami untuk menghadirkan layanan inisiatif yang bisa dimanfaatkan pengguna di bulan Ramadan," ucapnya. (K-08)

Ponpes di Kebumen Ajari Santrinya Keterampilan Buat Peci, Produksinya Dijual ke Seluruh Negeri

Tri Sulistyo menunjukkan peci hasil produksi para santri dari Ponpes
Nurul Hidayah Kebumen, di sebuah acara pameran di Semarang. 
Semarang-Umumnya sebuah pondok pesantren, yang diajarkan kepada santrinya adalah membaca berbagai macam kitab. Mulai dari Alquran sampai kitab kuning, dan juga belajar tentang fiqih serta ilmu agama lain. Namun, tidak demikian dengan Pondok Pesantren Nurul Hidayah di Desa Bandung, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen.

Ponpes tersebut dalam dekade terakhir ini, mengajarkan para santrinya belajar cara membuat peci. Pengasuh ponpes tersebut membekali santrinya keterampilan berwirausaha, sebagai bekal di masa depan agar bisa mandiri.

Salah satu santri yang dituakan di Ponpes Nurul Hidayah, Tri Sulistyo ketika ditemui di Semarang mengatakan usaha pembuatan peci itu memang sudah lama digeluti pengasuh pondok, dan diajarkan kepada para santrinya.

Menurutnya, hasil produksi peci para santri sudah dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia. 

Tri Sulistyo menjelaskan, pada masa Ramadan sekarang ini permintaan akan peci sudah mulai meningkat sejak awal bulan puasa. Sehingga, para santri di tengah pelajaran mengajinya juga diselingi dengan membuat peci pesanan. Biasanya, proses pembuatan peci dilakukan para santri mulai pagi sampai tengah hari dan dilanjut hingga sore menjelang salat ashar.

Peci hasil produksi santri Ponpes Nurul Hidayah Kebumen dipamerkan
di sebuah acara pameran di Semarang. 
Soal harga peci yang dihasilkan para santri, masih terjangkau dan kualitasnya tidak kalah dengan produksi dari Gresik, Jawa Timur.

"Musim-musim kayak gini kan lagi ramai-ramainya. Harga peci yang bordir Rp60 ribu dan yang biasa Rp50 ribu. Kalau penjualannya kami sudah menyebar ke wilayah Jawa Tengah, Sumatera dan kalau Kalimantan baru mau merambah. Kalau produksi dalam sebulan rerata 50an kodi sampai 75 kodi. Kalau bulan normal itu paling 30 kodi," kata Tri Sulistyo.

Lebih lanjut Tri Sulistyo menjelaskan, dari hasil penjualan peci-peci itu para santri diberikan upah tiap bulannya. Namun, setiap santri penghasilannya dibedakan, berdasarkan produktivitasnya. 

"Ada santri yang dapat Rp1 juta ada yang Rp750 ribu, tapi ada juga Rp350ribu. Upah itu kadang dititipkan pengasuh dan akan diambil ketika santri mau pulang ke kampung," pungkasnya. (K-08)