Kamis, 13 September 2018

Sukseskan Imunisasi, Dinkes Jateng Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Terlibat

Kepala Dinkes Jateng dr Yulianto Prabowo, M.Kes minta semua pihak
ikut terlibat di dalam menyukseskan program imunisasi. 
Semarang-Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah dr. Yulianto Prabowo, M.Kes mengatakan imunisasi menjadi salah satu cara, untuk mencegah anak-anak sejak dini tidak sampai terkena penyakit berbahaya atau menular.

Dibutuhkan keterlibatan dari lintas sektor yang ada, jelas Yulianto, baik pemerintah maupun masyarakat demi suksesnya program imunisasi.

Menurutnya, unsur pemerintah dari daerah sampai desa dilibatkan dan menggerakkan elemen masyarakat, agar program imunisasi yang tengah dijalankan bisa berhasil.

Yulianto menjelaskan, sangat penting untuk memberikan pemahaman bersama tentang program vaksinasi. Sehingga, tidak ada kelompok masyarakat yang melakukan penolakan terhadap imunisasi.

"Sukses imunisasi itu tidak terlepas dari keterlibatan lintas sektor. Lintas sektor itu banyak banget, mulai dari pemerintah daerah sampai desa. Kalau sasarannya anak sekolah ya kepala sekolah, Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama, agar semua punya pemahaman yang sama. Kan sekarang ini peran media sosial sangat masif ya, ada yang antivaksin," kata Yulianto, Kamis (13/9).

Yulianto lebih lanjut menjelaskan, salah satu elemen masyarakat yang dibutuhkan peran sertanya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI) di 35 kabupaten/kota di Jateng. (K-08) 

Pengembang Perumahan Bersiap Naikkan Harga Properti Jika Dollar Terus Naik

Pengembang rumah akan naikkan harga properti jika nilai tukar Rupiah
terus merosot terhadap Dollar. 
Semarang-Sejumlah pengembang perumahan yang ada di Jawa Tengah, saat ini tengah bersiap untuk menaikkan harga properti jualannya. Alasannya, beberapa komponen bahan bangunan yang kandungannya masih impor, terimbas dengan kenaikan nilai tukar mata uang Dollar Amerika Serikat.

Ketua Property Expo Semarang Dibya Hidayat mengatakan para pengembang perumahan di provinsi ini, mulai menyikapi dampak dari terus melemahnya Rupiah terhadap Dollar. Bahkan, sejumlah pengembang sudah berancang-ancang untuk menaikkan harga properti yang dijualnya.

Menurut Dibya, ada beberapa faktor yang kemudian menjadikan para pengembang berencana untuk menaikkan harga rumah. Yakni naiknya harga besi dan semen, karena ada kandungan bahan impor di dalamnya. Padahal, keduanya merupakan bahan pokok di dalam pembangunan sebuah rumah.

"Biasanya bahan-bahan bangunan yang terkait dengan Dollar akan ikut naik apalagi yang ada kandungan impornya. Misalnya besi dan semen itu kan ada kandungan impornya, nah itu pasti akan naik. Kita lihat responnya market terhadap mata uang, dan minim kenaikannya lima persen," kata Dibya, Kamis (13/9).

Dibya lebih lanjut menjelaskan, sebenarnya keputusan untuk menaikkan harga rumah bukan hal mudah. Sebab, akan berimbas pada penjualan properti sendiri. Karena, pasar properti sekarang juga sedang lesu.

"Ini dilema juga bagi kami para pengembang. Di satu sisi kami diancam dengan kenaikan bahan baku, sisi lainnya ada pasar yang bakal tambah sepi karena harga terkoreksi," ujarnya.

Dibya berharap, bahan baku lokal juga tidak ikut terpengaruh dengan kenaikan harga besi dan semen. (K-08)

Satgas Waspada Investasi Bekukan Puluhan Entitas Bodong

Kepala Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menjelaskan soal
penutupan puluhan entitas bodong sampai Agustus 2018 kemarin. 
Semarang-Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengatakan hingga Agustus 2018 kemarin, pihaknya sudah membekukan 98 entitas atau perusahaan investasi abal-abal yang merugikan masyarakat karena melakukan kegiatan usaha tanpa izin.

Tongam menjelaskan, ke-98 entitas bodong yang dibekukan usahanya itu di antaranya adalah Global Horizon, PT Rimba Hijau Investasi (Solusi Tunai) dan BPR Darwan Yogyakarta.

Menurutnya, penghimpunan dana masyarakat berkedok investasi yang tidak memiliki izin dari otoritas berwenang masih terjadi. Padahal, kegiatan tersebut bisa merugikan masyarakat.

"Satgas Waspada Investasi terus bekerja keras untuk memantau dan menghentikan kegiatan investasi yang ilegal. Kan kita lihat dari 2007-2017, kerugian akibat investasi ilegal mencapai Rp105,8 triliun, itu yang baru terdeteksi. Oleh karena itu, potensi-potensi ini perlu kita waspadai. Jadi, sampai Agustus 2018 sudah 98 entitas dihentikan kegiatannya," kata Tongam, belum lama ini.

Tongam lebih lanjut menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan investasi bodong masih banyak ditemukan. Padahal, pihaknya sudah melakukan penghentian terhadap entitas abal-abal tersebut.

"Dari sisi lain, kemajuan teknologi informasi membuat orang mudah menawarkn investasi bodong melalui website, media sosial dan lainnya. Kondisi inilah yang membuat para pelaku banyak melakukan kegiatan itu," ujarnya.

Saat ini, jelas Tongam, investasi bodong banyak ditemukan di kota-kota besar yang merupakan tempatnya transaksi dalam jumlah besar. Misalnya Jabodetabek, Surabaya dan Bandung.

"Masyarakat harus waspada dan selalu berhati-hati, jangan mudah tergiur dengan iming-iming imbalan yang besar. Karena, tawaran investasi yang datang ini bisa dari mana saja," tandasnya. (K-08)

Polri Akan Tindak Tegas Spekulan Yang Manfaatkan Kenaikan Dollar Untuk Cari Untung

Kepala Satgas Pangan Polri Irjen Pol Setyo Wasisto (kanan) saat me-
nyaksikan pengambilan gambar film "Pohon Terkenal" di kompleks
Akpol, kemarin. 
Semarang-Kepala Satgas Pangan Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan dampak dari kenaikan nilai tukar Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah yang melemah, menyebabkan beberapa produk impor mengalami kenaikan harga. Produk-produk impor yang ada di Indonesia dan dibutuhkan masyarakat, terjadi fluktuasi harga cukup tajam.

Namun, jelas Setyo, khusus untuk produk impor yang mengalami kenaikan harga dianggap wajar, karena memang kondisinya demikian. Hanya saja, kondisi tersebut jangan dimanfaatkan para spekulan dengan mengeruk keuntungan dan membebani masyarakat.

Menurutnya, untuk menekan aksi spekulan itu, Mabes Polri sudah memerintahkan kepala satuan wilayah, agar memantau pergerakan harga komoditas di wilayahnya masing-masing. Tujuannya, jika ada upaya spekulan dan diketahui petugas, bisa langsung diambil tindakan tegas.

"Mereka saya minta untuk terus aktif melakukan pemantauan. Jadi, saya pikir kalau ada yang coba-coba spekulan dengan menimbun atau menaikkn harga luar biasa pasti ketahuan dan kita tindak tegas. Intinya adalah, Satgas Pangan ingin produsen mendapat keuntungan, rantai distribusi berjalan lancar dan masyarakat juga mampu membeli dengan daya beli yang cukup," kata Setyo, kemarin.

Setyo yang juga Kadiv Humas Polri menjelaskan, masyarakat juga diimbau tidak banyak tergantung pada produk atau komoditas impor. Terutama bahan pangan.

"Masyarakat bisa menggunakan komoditas pangan dalam negeri, misalnya membeli buah-buahan lokal. Selain itu, mulai dengan membeli produk dalam negeri yang kualitasnya tidak kalah dengan impor," ujarnya.

Terkait dengan beberapa komoditas pangan yang harganya mengalami kenaikan, lanjut Setyo, pihaknya akan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan. Di antaranya Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. (K-08)

Kebakaran Gunung di Jateng, BPBD Harap Pawang Hujan Ikut Turun Tangan

Sarwa Pramana
Kalakhar BPBD Jateng
Semarang-Tiga gunung yang ada di Jawa Tengah, dalam sepekan ini mengalami kebakaran. Yakni lereng Gunung Sumbing, Sindoro dan Lawu.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Sarwa Pramana mengatakan luasan areal lahan yang terbakar di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro, mencapai 542 hektare, sedangkan lereng Gunung Lawu hanya 5,5 hektare lahan terbakar.

Menurutnya, sampai dengan saat ini upaya pemadaman masih terus berlangsung dengan cara manual dan melokalisir api agar tidak meluas sampai ke permukiman penduduk.

Sarwa menjelaskan, karena sulitnya memadamkan api menggunakan cara tradisional dan tidak bisa menggunakan water boombing, maka pihaknya mengimbau BPBD di daerah sekitar ketiga gunung tersebut, memanfaatkan keahlian pawang hujan setempat. Tujuannya, jika mampu mendatangkan hujan dan hujan turun dengan durasi satu sampai dua jam, maka kebakaran di lereng gunung bisa teratasi.

"Kondisi saat ini memang belum bisa dipadamkan, tentunya yang kita antisipasi kalau siang jangan sampai masuk ke rumah penduduk. Yang saya bisa dorong adalah memerintahkan kalak di Karanganyar, Temanggung, Wonosobo dan Kabupaten Maagelang coba menggunakan kearifan lokal menghadirkan pawang hujan. Karena kalau pakai water boombing yang pesawat itu, engga mungkin sebab tidak ada kanal-kanal air yang dekat dengan debit air cukup," kata Sarwa, Kamis (13/9).

Sarwa lebih lanjut menjelaskan, dengan merangkul atau menggunakan kearifan lokal melalui jasa pawang hujan, diharapkan upaya pemadaman kebakaran di lereng gunung bisa berhasil. 

"Kalau pakai pesawat yang menyiramkan air tu susah, karena lokasi di sekitar gunung tidak ada kanal untuk mengambil air. Ambil dari waduk juga tidak mungkin, debitnya yang kurang," tandasnya. (K-08)