Sabtu, 11 Mei 2019

Akhirnya, KPU Jateng Selesaikan Rekapitulasi Perolehan Suara Pemilu 2019

Saksi dari partai politik melihat hasil rekapitulasi perolehan suara di
kantor KPU Jateng, Sabtu (11/5).
Semarang-Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, KPU Jawa Tengah akhirnya menyelesaikan rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pemilu 2019, Sabtu (11/5). Kabupaten Brebes menjadi kabupaten terakhir, yang dilakukan rekapitulasi berbarengan dengan kumandang adzan Duhur.

Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat mengatakan mengaku berbahagia, karena pekerjaan selama lima hari telah terselesaikan. 

Meski selama proses penghitungan perolehan suara diwarnai sejumlah koreksi, jelas Yulianto, hal itu dianggap sebagai dinamika politik di era demokrasi pemilu.

Menurutnya, sesuai jadwal sebenarnya pada Jumat (10/5) malam proses rekapitulasi penghitungan perolehan suara pemilu sudah bisa diselesaikan hingga Sabtu (11/5) dini hari. Namun, banyak saksi yang menginginkan proses ditunda untuk istirahat dan dilanjutkan pagi harinya.

"Sebenarnya kemarin mau kita tuntaskan sampai selesai, tapi saksi menghendaki untuk istirahat dan dilanjut besok harinya. Ya sudah, kita menghormati itu. Sebenarnya KPU dan Bawaslu siap untuk membacakan sampai tuntas hingga dini hari, sehingga paginya tinggal dibacakan rekapitulasi tingkat provinsinya," kata Yulianto.

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, setelah ini nanti akan dibacakan seluruh perolehan suara untuk pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif provinsi dan pusat serta DPD.

"Penandatanganan dokumen, kita perkirakan nanti malam dan dihadiri forkopimda Jateng. Setelah itu, kita baru kirim ke KPU RI," jelasnya.

Yulianto menjelaskan, tahapan rekapitulasi yang direncanakan pada 6-10 Mei 2019 itu sebenarnya bisa dikatakan sesuai jadwal. Mundurnya proses rekapitulasi hingga satu hari, sebenarnya juga tidak menyalahi aturan.

"Aturan dari KPU RI itu rekapitulasi di tingkat provinsi sampai 12 Mei, kita hari ini sudah selesai. Artinya, tidak mengganggu tahapan yang ada di atas," pungkasnya. (K-08)

Menengok Sejarah Masjid Jami Pekojan Semarang di Bulan Ramadan

Gerbang Masjid Jami Pekojan Semarang dengan menara setinggi 18
meter siap menyambut pengunjung.
Semarang-Setiap datang bulan suci Ramadan, tidak ada salahnya mengunjungi sejumlah masjid tua yang ada di Kota Semarang. Salah satunya adalah Masjid Jami Pekojan yang ada di Jalan Petolongan, Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah dan masih satu kompleks dengan kawasan Pecinan.

Konon, masjid yang berdiri di atas tanah wakaf pemberian saudagar dari Gujarat India bernama Muhammad Azhari Akwan itu sudah berusia sekira 150 tahun. Memasuki masjid akan disambut dengan menara kokoh setinggi 18 meter, dan ornamen masjid kental bernuasan khas Pakistan dan India.

Ketua Takmir Masjid Jami Pekojan, Ali Baharun mengatakan pada awalnya bangunan masjid hanya seluas 16 meter persegi dan dikelilingi makam. Namun, setelah mengalami perluasan dan renovasi, sekarang luasan masjid dan lingkungannya menjadi 3.300 lebih meter persegi.

Menurutnya, pada masa bulan Ramadan ini masjid selalu ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah. Setiap masuk waktu salat, jamaahnya selalu ramai hingga menjelang salat tarawih.

Sejumlah orang sedang beribadah di dalam Masjid Jami Pekojan.
Keistimewaan lainnya, jelas Ali, setiap menjelang waktu berbuka puasa selalu tersaji bubur India yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Sehingga, momentum waktu berbuka puasa selalu dinantikan masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya.

"Di sini kan masjid yang sering dikunjungi masyarakat, bahkan ada yang datang dari India dan Timur Tengah. Konon, masjid ini dibangun orang-orang yang datang dari Gujarat saat singgah di Semarang," kata Ali saat ditemui menjelang salat Duhur, Sabtu (11/5).

Lebih lanjut Ali menjelaskan, Masjid Jami Pekojan yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak 4 Februari 1992 itu sampai saat ini masih terjaga keaslian bangunan utamanya.

Bahkan, beberapa peninggalan di dalam masjid juga masih bisa ditemui. Misalnya tongkat panjang berkepala burung dan di dalamnya terdapat pisau panjang. Tongkat itu, dulunya digunakan untuk melawan penjajah. 
"Yang masih dipertahankan adalah serambi masjid hingga ke dalam. Mimbar juga masih asli, serta tempat imam juga sama bentuknya sejak pertama. Terus ada pohon bidara yang didatangkan asli dari Timur Tengah," jelas Ali.

Keistimewaan lainnya yang ada di Masjid Jami Pekojan adalah adanya makam seorang perempuan yang dipercaya sebagai keturunan Rasulullah SAW, yaitu Syarifah Fatimah. Semasa hidupnya, Syarifah dikenal mempunyai kemampuan menyembuhkan bermacam penyakit.

Selain itu, di samping masjid juga tumbuh pohon Bidara yang diyakini dibawa langsung dari Timur Tengah dan mempunyai khaisat sebagai obat. (K-08)

Mau Beli Takjil Es Buah di Pinggir Jalan, Jangan Terkecoh Warnanya Merah Menarik

Seorang petugas BBPOM di Semarang melakukan uji sampel terhadap
takjil yang dijual di Jalan Pahlawan, Jumat (10/5).
Semarang-Para pedagang takjil untuk tidak mengolah dan menjual pangan, yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan dilarang. Karena, takjil merupakan sajian yang biasa disantap saat berbuka puasa dan biasanya masyarakat mencari makanan atau minuman berciri khas manis. Misalnya kolak, es buah dan makanan ringan lainnya.

Namun, tetap harus hati-hati di dalam memilih menu takjil untuk disantap saat berbuka puasa bersama keluarga tercinta.

Kepala BBPOM di Semarang Safriansyah mengatakan pihaknya mempunyai kewajiban, untuk melindungi masyarakat dari pangan takjil yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Biasanya, di masa bulan Ramadan ini banyak pedagang nakal yang ingin meraup untung banyak dan mengabaikan aspek kesehatan masyarakat.

Menurutnya, untuk menjaga keamanan pangan takjil layak konsumsi masyarakat, pihaknya terus melakukan pemantauan di titik-titik penjualan takjil di Kota Semarang. Di antaranya Masjid Kauman dan Jalan Pahlawan.

Safriansyah meminta kepada masyarakat, untuk bisa memilih takjil yang sehat dan layak konsumsi bukan hanya melihat tampilan fisiknya saja.

"Jadi, pertama kita memilih takjil yang dijual di tempat-tempat yang bersih. Penyajiannya juga bersih. Biasanya justru yang menyebabkan keracunan itu karena higienitasnya rendah, sehingga orang mengalami diare, mual dan muntah. Kemudian dari penampilan fisik produk, kalau pangan yang cenderung berwarna kuat dan cerah itu patut dicurigai dan diwaspadai kemungkinan menggunakan pewarna tekstil. Sebab, pewarna tekstil itu mempunyai kecenderungan mewarnai sangat kuat dan warnanya menarik. Jadi, amannya pilih yang tidak berwarna," kata Safriansyah di sela pemeriksaan takjil di Jalan Pahlawan, Jumat (10/5) sore kemarin.

Lebih lanjut Safriansyah menjelaskan, biasanya bahan berbahaya yang terdapat di takjil berupa kolak berisi kolang kaling adalah formalin. Bahan kimia formalin itu diberikan ke kolang kaling, agar pangan itu terlihat kenyal. Selain itu, pewarna tekstil juga digunakan pada es buah yang berwarna merah.

"Kalau yang mengandung bahan kimia itu, biasanya mengakibatkan sakit dalam waktu lama karena terakumulasi dulu. Misalnya penyakit kanker dan lain sebagainya," pungkasnya. (K-08)


Yulianto: KPU Lembaga Terbuka dan Siap Terima Kritikan

Yulianto Sudrajat
Ketua KPU Jawa Tengah
Semarang-Banyaknya anggapan dan tudingan yang menyebut KPU bertindak curang, tidak menyurutkan komisioner KPU Jawa Tengah terus bekerja menyelesaikan proses rekapitulasi pengitungan perolehan suara pemilu hingga Sabtu (11/5) dini hari. Hal itu ditegaskan Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat, menanggapi aksi yang dilakukan ratusan orang dari Gerakan Rakyat Mengawal Suara Rakyat, Jumat (10/5) siang.

Yulianto mengatakan pihaknya terus berupaya, untuk bisa menyelesaiakan penghitungan perolehan suara pemilu dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Sehingga, tenggat waktu yang diberikan KPU RI bisa terpenuhi dan segera dikirim ke pusat.

Menurut Yulianto, adanya anggapan dan tudingan KPU berlaku curang dari elemen atau kelompok masyarakat merupakan hal biasa. 
Yulianto menjelaskan, seluruh komisioner KPU Jateng tidak terlalu memikirkan hal itu dan menerima seluruh pendapat dari masyarakat.  
"Tentu itu pendapat dari elemen masyarakat, kami dengar pendapat mereka. Itu kan masukan dari elemen masyarakat. Prinsipnya itu kan KPU adalah lembaga yang terbuka, dan kalau ada kritik ada masukan tetap kita terima. Apapun pendapat mereka, apapun saran dan masukan dan kritik mereka kita terima. Kami ini lembaga terbuka, dan kami tidak antikritik. Intinya, kami terus fokus pada proses ini. Kami tunduk pada konstitusi dan aturan, maka itulah yang kami pegang," kata Yulianto di sela rapat pleno rekapitulasi penghitungan perolehan suara, Sabtu (11/5) malam.

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, pemilu tidak hanya dikerjakan KPU saja tapi ada pengawas dari Bawaslu dan ada saksi dari peserta pemilu. Termasuk ada pengawasan dari pemantau pemilu, media dan masyarakat.

"Semua terlibat dalam proses agenda besar ini. Silakan konfirmasi ke Bawaslu, apakah KPU melakukan kecurangan seperti yang dituduhkan atau tidak," jelasnya.

Diketahui, Gerakan Rakyat Mengawal Suara Rakyat melakukan unjuk rasa dan memberikan kartu merah kepada penyelenggara pemilu. Yakni KPU dan Bawaslu Jateng.

Koordinator Gerakan Rakyat Mengawal Suara Rakyat Zulkifli menyatakan, filosofi kartu merah itu karena ada 7.132 pelanggaran. Oleh karena itu, KPU harus bersikap adil dan jujur.

"Banyaknya kejujuran tersebut, kami meminta komisioner KPU dan Bawaslu untuk mundur," jelas Zulkifli. (K-08)

KPU Jateng Siagakan Tim Kesehatan Selama Proses Rekapitulasi Pemilu 2019

Proses rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pemilu 2019 di aula
kantor KPU Jateng, Jumat (10/5) malam.
Semarang-KPU Jawa Tengah sejak 6-10 Mei 2019 melakukan rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pemilu 2019 untuk DPRD Jateng, DPR RI, DPD Jateng dan pilpres. Selama proses rekapitulasi penghitungan perolehan suara itu, KPU Jateng menyiagakan tim kesehatan kerja sama dengan Dinas Kesehatan provinsi dan rumah sakit terdekat untuk mendirikan posko kesehatan di lantai satu gedung KPU.

Ketua KPU Jateng Yulianto Sudrajat mengatakan selama masa proses rekapitulasi, pihaknya harus berpikir positif dan optimistis mampu menyelesaikan semuanya. Selama lima hari itu, tentunya membutuhkan energi yang tidak sedikit dari para komisioner dan juga saksi serta petugas keamanan.

Menurutnya, keberadaan petugas medis di posko kesehatan sangat dibutuhkan untuk memantau kondisi dan kesehatan seluruh peserta rapat pleno rekapitulasi yang ada di KPU Jateng.

"Kita ada tim medis yang disiapkan di lantai satu, dan itu sudah sejak awal dari mulai penghitungan di PPK. Tujuannya, agar kesehatan selalu dikontrol. Kami perintahkan kepada KPU kabupaten/kota agar berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat dan rumah sakit terdekat, untuk menyediakan posko kesehatan. Ini kan tingkat kecapekannya luar biasa dan butuh energi ekstra. Komisioner tidur paling lama satu jam sehari, dan maksimal dua jam," kata Yulianto, Jumat (10/5) malam.

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, sampai dengan saat ini seluruh komisioner masih dalam kondisi yang sehat. Namun, demikian untuk berjaga-jaga beberapa peserta sempat melakukan cek tekanan darah sebelum mengikuti proses rekapitulasi. 

"Kami yang tidak bisa ditipu adalah mata, kalau sudah ngantuk ya kelopak mata berat. Seharusnya sudah waktunya istirahat, tapi terus kami paksa terjaga," jelasnya.

Diketahui, KPU Jateng mengebut menyelesaikan penghitungan perolehan suara pemilu untuk tiga kabupaten di provinsi ini. Yakni Kabupaten Kebumen, Sukoharjo dan Brebes. Sedangkan pembacaan hasil rekapitulasi penghitungan perolehan suara tingkat provinsi, akan dilakukan Sabtu (11/5) pagi. (K-08)