Minggu, 13 Oktober 2019

Jateng Juara Jamnas Relawan BNPB 2019

Kepala BNPB Doni Monardo menyerahkan piala ke perwakilan relawan
dari Jateng yang menjadi juara umum di Jamnas Relawan Penanggula
ngan Bencana, kemarin.
Semarang-Tim relawan Jawa Tengah berhasil menjadi juara dalam Jambore Nasional (Jamnas) Relawan Penanggulangan Bencana yang digelar di Kabupaten Belitung, 9-12 Oktober 2019 kemarin. Dari lima lomba yang diselenggarakan, Jateng berhasil menjadi juara di lomba cerdas cermat, lomba penulisan medsos dan lomba desk relawan. 

Salah satu anggota tim, Abdul Aziz mengatakan Jateng menjadi yang terbaik dari berbagai macam lomba yang diselenggarakan BNPB. Namun demikian, ada dua lomba yang pencapaiannya belum maksimal. Yakni pembuatan jalur evakuasi dan lomba yel-yel.

Aziz menjelaskan, kegiatan semacam ini sangat penting sebagai sarana upgrading bagi relawan kebencanaan di seluruh Indonesia.

"Mengingat hampir semua provinsi di Indonesia, tidak ada satu daerah yang luput dari ancaman kebencanaan," kata Aziz, kemarin.

Lebih lanjut Aziz menjelaskan, dalam forum ini relawan bisa saling belajar tentang kondisi antar-daerah di Indonesia.

Kasi Logistik BPBD Jateng Sudarsono menambahkan, jamnas ini merupakan ajang asah keterampilan dan uji koordinasi bagi relawan. Ajang ini bisa menjadi sarana latihan untuk relawan, sehingga mampu memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat.

"Kemenangan yang diraih Jateng, tidak lain karena modal soliditas dan semangat belajar yang tinggi. Serta, mengedepankan kearifan lokal," ucap Sudarsono. (K-08)

Ranitidin Berbahaya, BPOM Semarang Tarik Produk Berbahaya Itu

Pegawai laboratorium PT Phapros sedang memisahkan produk obat
yang sudah diolah.
Semarang-Kepala BPOM Semarang Safriansyah mengatakan pihaknya telah menarik 1.270 botol dan 306.773 ampul Ranitidin, yang terlanjur beredar di sejumlah sarana kefarmasian. Penarikan Ranatidin yang terkandung dalam obag maag itu, karena adanya kandungan yang bisa memicu kanker.

Menurutnya, penarikan Ranitidin itu dilakukan hingga 80 hari ke depan terhitung sejak 4 Oktober 2019 kemarin. 

Safriansyah menjelaskan, penarikan Ranitidin dilakukan dua produsen yang ada di Kota Semarang. Yakni PT Phapros dan PT Global Multi Pharmalab.

"Jadi, berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan yang terus berubah. Sekarang, coba kita bandingkan dengan kadar yang sangat kecil. Nanogram per 1.000 miligram. Teknologi sudah bisa mendeteksi adanya NDMA. Dulunya dengan teknologi lama tidak bisa menjangkau," kata Safriansyah, kemarin.

Corporate Secretary PT Phapros Zahmilia Akbar menyatakan, pihaknya sudah merespon informasi dari BPOM terkait perintah penarikan kembali dan menghentikan produksi obat yang mengandung bahan aktif Ranitidin. Penarikan dilakukan seluruh outlet yang ada di Indonesia, termasuk ke apotek dan instalasi rumah sakit, klinik dokter dan puskesmas.

"Recall ini merupakan tindak lanjut dari penghentian distribusi dan produksi, yang merupakan perintah dari BPOM terkait adanya cemaran NDMA dalam Ranitidin. Langkah ini kami ambil sebagai niat baik dan gerak cepat, untuk kepentingan masyarakat," ujar Zahmilia. (K-08)

Menaker: Industri Fesyen Dalam Negeri Sumbang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Menaker Hanif Dhakiri (kiri) membuka Fashion Paradise 2019 di Kota
Semarang, kemarin.
Semarang-Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan industri fesyen dalam negeri berpeluang terus tumbuh, seiring dengan kekayaan budaya lokal. Kekayaan lokal yang bisa mendorong pertumbuhan industri fesyen adalah batik, karena kekayaan batik dalam negeri banyak dan beragam. Pernyataan itu dikatakannya ketika membuka Fashion Paradise 2019 di BBPLK Semarang, Sabtu (12/10).

Pemerintah, jelas Hanif, menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa menyentuh angka tujuh persen hingga akhir tahun ini. Sehingga, zeluruh potensi yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri terus digenjot. Salah satunya adalah industri kreatif di bidang fesyen.

Menurunya, pekerjaan yang bisa bertahan adalah pekerjaan yang mengandalkan kreativitas dan ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah industri kreatif, dan fesyen satu di antaranya.

Hanif menjelaskan, potensi sumber daya manusia yang dimiliki bangsa Indonesia di bidang fesyen tidak kalah dengan bangsa lain. Bahkan, industri fesyen juga sudah menembus pameran fesyen di Paris, Perancis. 

"Saya kira ini jadi momentum yang baik bagi kita, untuk terus menggerakkan industri kreatif kita khususnya di bidang fesyen. Kebetulan pemerintah juga sudah dua tahun terakhir ini, terus melakukan upgrading terhadap balai-balai latihan kerja di bidang fesyen. Sehingga, industri kreatif khususnya di bidang fesyen ini bisa terus berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian kita. Industri fesyen ini adalah penyumbang terbesar kedua dari subsektor ekonomi kreatif. Nomor satunya adalah kuliner," kata Dhakiri.

Lebih lanjut Hanif menjelaskan, tugas pemerintah saat ini membuka jalan yang lebar bagi pelaku industri fesyen untuk bisa terus berkiprah di dunia internasional.

"Ke depan, saya kira ekonomi kreatif berpotensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tidak hanya fesyen, tapi subsektor ekonomi lainnya juga didorong untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri," tandasnya. (K-08)

BI Jateng Fasilitasi UMKM Go Global

Seorang kurator sedang menilai kualitas dari hasil produk UMKM.
Semarang-Kepala Kantor Bank Indonesia Jawa Tengah Soekowardojo mengatakan pihaknya terus berupaya, untuk meningkatkan perekonomian di sejumlah daerah. Utamanya, untuk pemberdayaan pelaku UMKM. 

Soekowardojo menjelaskan, 97 persen masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya pada sektor UMKM. 

Oleh karena itu, jelas Soekowardojo, BI Jateng akan menggelar pameran UMKM dengan mengambil tema Pameran UMKM Jawa Tengah: Go Global, Go Digital yang direncanakan pada 1-3 November 2019 di Museum Lawang Sewu, Semarang. Diharapkan, kegiatan itu bisa dimanfaatkan pelaku UMKM di Jateng naik kelas.

"Kita secara jelas mengarahkan, UMKM kita untuk go global dan go digital. Kenapa? Karena UMKM kita harus naik kelas. Tidak mungkin kita membina UMKM terus. Jadi, mereka potensial-potensial tapi setelah potensial mereka harus sukses dan setelah sukses mereka harus paham digital. Setelah sukses digital, harus sukses global," kata Soekowardojo, Jumat (11/10).

Lebih lanjut Soekowardojo menjelaskan, saat ini cukup banyak pelaku UMKM yang berorientasi pasar ekspor namun mempunyai kendala bersaing di pasar internasional. Salah satu kendala bagi para pelaku UMKM, tidak banyak akses digital yang bisa dimanfaatkan secara optimal bagi pelaku UMKM untuk menembus pasar ekspor.

"Untuk memberi kesempatan kepada para pelaku UMKM terlibat di pameran tersebut, kami lakukan kurasi produk sebelumnya. Dari 150 UMKM yang mengikuti kurasi produk, akan dipilih 50 pelaku UMKM," pungkasnya. (K-08)