Kamis, 14 Desember 2017

Wapres JK di Acara HUT IAI Sindir Setnov

Jusuf Kalla
Wapres RI
Semarang-Menjadi seorang akuntan, baik akuntan publik ataupun akuntan perusahaan harus bisa mencari kesalahan. Artinya, kesalahan untuk menunjukkan sebuah kebenaran dari keuangan yang sedang diperiksa. Pernyataan itu dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), ketika membuka seminar "Kejayaan Akuntan Profesional Kejayaan Negeri" dalam rangka peringatan HUT ke-60 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) di Crowne Plaza Hotel, Kamis (14/12).

Menurut JK, profesi akuntan sangat dibutuhkan semua sektor. Bahkan, negara pun juga membutuhkan peran akuntan untuk mengetahui keuangan pemerintah sehat atau tidak.

Dengan terlibat secara aktif, jelas JK, maka akuntan bisa menciptakan transparansi dan akuntabilitas di Tanah Air. 

Namun demikian, lanjut politikus senior Partai Golkar itu, akuntan yang tidak baik dan memberikan contoh buruk juga bisa ditemukan di negeri ini. Salah satunya adalah seorang akuntan yang dalam beberapa pekan terakhir ini, menjadi trending topic media.

Ucapan JK tersebut, tidak lain menyindir Setya Novanto (Setnov) yang memang diketahui lulusan akuntansi.

"Ada juga akuntan yang tidak baik. Orang dicari minggu-minggu ini, yang kelihatannya sakit. Dia akuntan. Tapi saya kira bukan anggota Anda (IAI)," kata JK yang disambut tawa sejumlah tamu undangan.

Lebih lanjut JK berharap, IAI bisa menyiapkan bibit-bibit untuk menjadi akuntan profesional di masa depan. Salah satunya, melalui gebyar beasiswa Ujian Sertifikasi Ahli Akuntansi Pemerintahan yang diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman para pengelola laporan keuangan. (K-08)

Daop 4 Siapkan 2 KA Tambahan Untuk Hadapi Nataru 2017

Manager Humas Daop 4 Semarang Edy Kuswoyo saat
memberikan keterangan pers terkait kesiapan Natal dan
Tahun Baru 2017/2018. 
Semarang-Menghadapi musim liburan akhir tahun yang berbarengan dengan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang telah menyiapkan sarana prasarana dan sumber daya manusianya.

Masa angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) akan dimulai pada 22 Desember 2017 hingga 7 Januari 2018 mendatang. Masa operasi Nataru 2017/2018 berlangsung selama 17 hari ke depan.

Manager Humas Daop 4 Semarang Edy Kuswoyo mengatakan selama masa angkutan Nataru, pihaknya menyediakan 43.168 seat per hari atau 654.262 total seat selama 17 hari. Baik untuk KA reguler, KA tambahan dan KA lokal. 

Pihaknya, jelas Edy, juga menyediakan KA Argo bnromo Sindoro dan KA Argo Muria. Keduanya merupakan kereta api relasi Semarang-Jakarta PP.

"Kita sudah siapkan seperti tahun-tahun lalu. Ada posko keamanan, posko operasi dan pelayanan. Untuk pelayanan kereta api di Nataru 2017/2018 ada dua kereta api tambahan dari Daop 4," kata Edy.

Edy menjelaskan, selain dua kereta api tambahan yang disiapkan Daop 4 Semarang juga ada kereta api tambahan dari daop lain yang melintas. Yakni ada 12 perjalanan kereta api tambahan. Sehingga, jika ditotal dengan perjalanan kereta api reguler dan lokal yang melintas ada 74 perjalanan kereta api.

Sementara itu, lanjut Edy, untuk puncak perjalanan di liburan Natal akan terjadi pada 24-25 Desember 2017. Sedangkan untuk liburan Tahun Baru, puncaknya terjadi pada 29 Desember 2017 sampai 1 Januari 2018.

"Prediksi kami, peningkatan volume penumpang sebesar lima persen dibanding Nataru tahun kemarin," pungkasnya. (K-08)

Ganjar: Difteri Biar Satu Pasien Itu Sudah KLB

Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah 
Semarang-Kasus difteri di Jawa Tengah merenggut nyawa seorang warga di Kabupaten Kendal, saat dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang. Pasien yang baru berumur empat tahun itu, saat dirujuk ke RSUP dr Kariadi dalam kondisi sudah komplikasi. Yakni sesak nafas berat, pembesaran kelenjar dan diduga komplikasi jantung.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan kasus difteri di provinsi ini, memang tidak sebanyak di wilayah lainnya. Sehingga, pemerintah pusat tidak memasukkan wilayah Jawa Tengah sebagai daerah kejadian luar biasa (KLB). 

Namun demikian, jelas Ganjar, meskipun ada satu pasien difteri tetap dikategorikan KLB. Karena, penyakit difteri masuk klasifikasi langka di Indonesia.

Oleh karenanya, dibutuhkan kesadaran dan kewaspadaan dari masyarakat terhadaap penyakit difteri yang mulai merebak di Tanah Air belakangan ini. Bahkan, pemkab/pemkot diminta mendata warganya, agar kasus difteri tidak muncul lagi di Jawa Tengah.

Mudah-mudahan tidak nambah lagi (pasien difteri). Di Jateng ada dua yang sudah sembuh, dan ada dua lagi yang dirawat. Tapi, satu kasus difteri saja itu sudah KLB," kata Ganjar.

Lebih lanjut politikus PDIP itu menjelaskan, tidak hanya Dinas Kesehatan yang bekerja dan turun mengantisipasi merebaknya penyakit yang disebabkan bakteri "corynebacter diptheriae" tersebut. Para kader PKK dan aktivis kesehatan juga diminta ikut bergerak, untuk mengantisipasi kasus difteri di wilayahnya.

Diketahui, hingga awal Desember 2017 terdapat 116 kasus difteri dengan jumlah kematian mencapai 13 orang di seluruh Indonesia. (K-08)

Pemprov Pantau 2 Komoditas Utama di Akhir Tahun ini

Pedagang cabai di Relokasi Pasar Johar di MAJT menunjukkan stok
cabai yang dimiliki. 
Semarang-Menjelang akhir tahun, sejumlah komoditas di Jawa Tengah mengalami kenaikan harga. Hal itu terjadi, karena faktor psikologis yang memengaruhi konsumsi masyarakat. Sehingga, berpengaruh pada kenaikan harga komoditas.

Guna meredam gejolak harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah menggelar operasi pasar di sejumlah daerah. Setidaknya ada 58 titik digelar operasi pasar di Jawa Tengah.

Operasi pasar yang digelar, dilakukan serentak selama 30 hari ke depan. Komoditas yang dijual terdiri dari beras, gula pasir dan minyak goreng. Bahkan, di beberapa wilayah tertentu menjual daging beku dan bawang merah.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap memfokuskan pada dua komoditas, yang dianggap berpengaruh pada daya beli konsumen. Yakni, bawang merah dan cabai merah.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan pada akhir tahun ini, dua komoditas tersebut mendapat pemantauan. Sebab, dari aplikasi sistem informasi harga dan produksi komoditi (SiHaTi) menunjukkan kenaikan harga pada cabai merah, dan penurunan harga bawang merah.

Peningkatan harga cabai merah dan penurunan harga bawang merah, jelas Ganjar, dianggap bisa berdampak pada daya beli masyarakat Jawa Tengah. Sehingga, harus segera diambil tindakan untuk mengatasinya.

"Dua produk komoditas yang dipantau betul-betul adalah cabai merah yang harganya naik tinggi dan turunnya harga bawang putih. Sekarang TPID sedang mencoba menyikapinya, karena dua komoditas itu dijual bebas. Kita tidak nyetok untuk itu. Saat ini sedang dicari cara apakah kemudian dibuat gerakan bareng-bareng, agar harganya sesuai," kata Ganjar.

Ganjar menjelaskan, terkait kebutuhan masyarakat menghadapi liburan akhir tahun telah disiapkan bersama stakeholder yang terlibat. Sehingga, masyarakat tidak perlu khawatir karena pemprov menjamin pasokan pangan.

"Diharapkan, segala upaya yang dilakukan TPID Jateng akan berhasil mengawal kestabilan harga pangan strategis. Sehingga, inflasi di Jateng tetap terjaga di level yang rendah dan berada dalam sasarannya," tandasnya. (K-08)

Bulog Akui Penyerapan Beras Tahun Ini Tak Capai Target

Warga saat mengikuti pasar murah dan membeli beras yang disediakan. 
Semarang-Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah mengaku, memiliki stok beras hingga 130 ribu ton. Stok yang dimiliki tersebut, diklaim mampu bertahan dan memenuhi kebutuhan warga Jateng hingga Februari 2018 mendatang.

Namun, meski memiliki cadangan stok beras hingga Februari 2018, penyerapan beras tahun ini tidak mencapai target yang diharapkan.

Kepala Perum Bulog Divre Jateng Djoni Nur Ashari mengatakan pada tahun ini, pihaknya menargetkan penyerapan beras hingga 602 ribu ton. Namun, penyerapannya baru mencapai kurang lebih 376 ribu ton hingga Desember 2017.

Jumlah penyerapan beras tahun ini, jelas Djoni, jauh dibanding pada tahun sebelumnya. Karena, pada 2016 kemarin penyerapan berasnya yang bisa direalisasikan sebesar 597.738 ton. 

Pencapaian pada tahun kemarin itu, lanjut Djoni, diakui bisa melampaui target sebesar 117,38 persen. Yakni sebanyak 505 ribu ton dari target yang ditetapkan.

"Total penyerapannya beras tahun ini kurang lebih 376 ribu ton sampai Desember 2017. Masih di bawah target yang ditetapkan. Kendalanya ada pada harga di tingkat petani yang sudah lebih tinggi. Harga gabahnya di tingkat petani sudah Rp5 ribu sampai Rp5.500 per kilogram. Memang, serapan tahun ini jauh dibanding tahun kemarin," kata Djoni.

Lebih lanjut Djoni menjelaskan, untuk ke depannya pihaknya akan berupaya mencapai target yang ditetapkan. Terutama, di dalam pengadaan dan penyerapan beras di tingkat petani. (K-08)