Selasa, 10 September 2019

Rumah Mewah di Semarang Mulai Cari Pembeli

Dua pengunjung di Mal Paragon sedang mengamati maket dari Citra
Grand Semarang.
Semarang-Rumah mewah sekarang bukan menjadi barang mahal, tapi sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat di Semarang. Bahkan, pengembang sekarang juga mulai melirik wilayah timur bagian selatan sebagai lokasi yang strategis.

General Manager CitraGrand Semarang Yuliarso Christiono mengatakan Kota Semarang di bagian timur sebelah selatan, sekarang mulai berbenah dan segmentasi perumahan juga mengalami perubahan. Dalam pengembangan kawasan kota, memang wilayah timur bagian selatan cenderung banyak segmentasi untuk perumahan tipe menengah ke bawah.

Namun, jelas Yuliarso, dalam dua tahun terakhir ini terjadi pergeseran pasar penjualan rumah di wilayah timur Kota Semarang bagian selatan. Produk-produk properti yang ditawarkan para pengembang, mulai bergeser ke pasar menengah atas dan bermain di kisaran harga di atas Rp1 miliar lebih. Bahkan, produk rumah dengan harga Rp2 miliar cukup laris di wilayah timur bagian selatan Kota Semarang itu.

"Semester kedua ini masih cukup optimislah, masih cukup baik. Kita akan bikin produk yang harganya di atas Rp2 miliar sampai Rp3 miliar. Itu adalah tipe paling premium yang pernah dijual. Segmen kita adalah yang paling atas, atau masyarakat menengah ke atas. Kita bikin rumah yang dengan kelebihan dan kemewahan," kata Yuliarso, Selasa (10/9).

Lebih lanjut Yuliarso menjelaskan, keberadaan sejumlah pusat perbelanjaan dan fasilitas pendidikan yang memadai juga memberikan andil terhadap penjualan rumah dengan harga di atas Rp2 miliar. Ditambah lagi, dukungan infrastruktur yang memadai juga mendorong pertumbuhan penjualan properti di wilayah timur bagian selatan itu. 

"Kita lihat sekarang, Jalan Kedungmundu sudah lebar kanan kirinya dari arah MT Haryono maupun dari Sambiroto. Jalan Sambiroto sekarang juga sudah lebar, ini nilai positif bagi pengembang yang ada di wilayah timur bagian selatan," pungkasnya. (K-08)


Produk Impor Tak Kantongi Izin Langsung Dimusnahkan

Produk mainan impor asal Tiongkok yang akan dimusnahkan karena di
anggap menyalahi aturan masuk.
Semarang-Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono mengatakan ada banyak ribuan produk impor, yang diduga menyalahi aturan dan masuk ke Indonesia. Sehingga, pihaknya terpaksa memusnahkan barang-barang impor yang masuk Indonesia tanpa dilengkapi dokumen resmi.

Menurutnya, barang-barang impor yang dimusnahkan itu merupakan hasil temuan kegiatan pengawasan pada periode Januari-Agustus 2019 di wilayah Jateng.

Veri menjelaskan, barang-barang yang dimusnahkan itu terdiri dari mainan anak-anak dan bahan baku plastik serta sepeda roda dua. 

"Ini kita temukan pelanggaran dan penyalahgunaan, yang dilakukan para importir yang tidak melengkapi dokumen-dokumen. Barang-barang yang dimusnahkan itu, kebanyakan dari China. Nanti, dalam pendalaman dan pemeriksaan apabila terbukti mereka melakukan kesengajaan, mereka akan kami tindak sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Yang melanggar aturan-aturan sudah berkali-kali, itu dapat diduga melanggar Undang-Undang Perdagangan," kata Veri.

Lebih lanjut Veri menjelaskan, akibat masuknya produk impor ilegal di dalam negeri, kerugian negara diperkirakan mencapai Rp5 miliar sampai Rp6 miliar.

Menurutnya, mekanisme pengawasan post border terdiri dari pemeriksaan kesesuaian antara izin impor milik pelaku usaha yang dikeluarkan Kemendag dengan barang impor. 

"Kami akan menindak tegas para importir nakal, yang sengaja melanggar aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau aturan lainnya dalam proses importasi," tandasnya. (K-08)

Lebih Dari Seribu Embung Sudah Terbangun di Jateng

Pembangunan seribu embung di Jateng sudah melebihi target yang di-
tetapkan.
Semarang-Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Jawa Tengah Eko Yunianto mengatakan saat ini pembuatan seribu embung, sudah melebihi target yang ditetapkan. Dari seribu lebih embung yang terbangun itu, pihaknya mengelola embung dengan luasan satu hektare dengan volume ekuivalen antara 8-10 ribu meter kubik.

Menurutnya, seribu lebih embung yang terbangun itu fungsinya disesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing. Misalnya untuk pengairan lahan pertanian, maupun untuk penanggulangan banjir.

Eko menjelaskan, pembangunan embung itu memanfaatkan ruang-ruang sisa yang ada di setiap kabupaten/kota. 

"Sebenarnya seribu embung bukan dimaknai jumlahnya seribu, itu adalah sebagai gerakan yang dicanangkan pak gubernur. Selama kepemimpinan pak gubernur periode pertama dan di tahun pertama periode kedua ini, embung-embung yang dikerjakan teman-teman dari Distanbun, LHK dan balai besar serta kabupaten/kota yang terinventarisir ada 1.190an embung," kata Eko, Selasa (10/9).

Eko lebih lanjut menjelaskan, khusus untuk PSN di bidang sumber air yang ada di Jateng beberapa sudah selesai dikerjakan. Yakni Bendung Logung di Kudus, dan Bendung Kondang di Karanganyar.

"Masih ada juga yang sedang on going, itu ada bendung di Wonogiri dan Jlantah di Karanganyar. Kemudian ada juga Bendung Randu Gunting di Blora, Waduk Bener di Purworejo dan Jragung di Kabupaten Semarang dengan Demak," pungkasnya. (K-08)

Musim Kemarau, Banyak Waduk di Jateng Kekeringan

Waduk Gunung Rowo di Kabupaten Pati dengan debit air yang menga-
lami penyusutan di musim kemarau. Foto: ISTIMEWA
Semarang-Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Jateng Eko Yunianto mengatakan musim kemarau tahun ini, dirasakan cukup panjang dan berdampak pada penurunan elevasi air di waduk atau bendungan di provinsi ini. Beberapa di antaranya, bahkan ada yang kosong atau kekeringan.

Dari semua waduk yang ada di Jateng, jelas Eko, hampir semuanya mengalami penurunan volume air yang bervariasi. Hanya ada dua waduk besar yang kondisi atau debit airnya masih stabil, yaitu Cacaban di Tegal dan Jatibarang Semarang di atas rencana.

"Berdasarkan volume waduk ini bisa kita hitung. Artinya, rekomendasi ke daerah irigasi itu sudah terstruktur. Di dalam MT-1, MT-2 dan MT-3 dan sekarang kita berada di MT-3. Masa tanam 3 itu pasti di dalam konsep irigasi, tidak ada yang padi tapi tanam polowijo. Hanya kenyataan di lapangan, kadang-kadang masih ada yang tanam padi," kata Eko, Selasa (10/9).

Lebih lanjut Eko menjelaskan, berdasarkan pantauan yang dilakukan dari 41 bendungan di provinsi ini sampai akhir Agustus dan pekan pertama September 2019 kondisinya memang mengalami penyusutan. Bahkan, untuk waduk kecil dalam keadaan kering atau tidak ada air sama sekali. Yaitu Waduk Tempuran Blora, Waduk Sangeh Purwodadi, Waduk Ngancar Wonogiri dan Waduk Botok Sragen.

"Kami juga meminta kepada warga, terutama kelompok tani, untuk ikut memantau aliran air waduk. Tujuannya, untuk memastikan aliran air bisa merata ke areal persawahan," pungkasnya. (K-08)

Puncak Musim Kemarau, Daerah Terdampak Kekeringan Bertambah

Sudaryanto
Kalahar BPBD Jateng
Semarang-Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Sudaryanto mengatakan tercatat sudah ada 896 desa, yang terdampak kekeringan pada tahun ini.

Menurutnya, sudah ada 30 kabupaten/kota yang melakukan droping air bersih dan beberapa di antaranya juga meminta bantuan ke pemprov.

"Sampai hari ini sudah ada 28 kabupaten, yang melakukan droping air bersih. Ada tujuh kabupaten yang minta ke provinsi untuk bantuan air bersih yaitu Temanggung, Pati, Wonogiri, Grobogan, Kendal dan Banjarnegara. Sedangkan Purbalingga itu paling banyak, ada 1.500an tangki lebih. Sedangkan data desa yang terdampak kekeringan, dari prediksi 1.259 desa itu hanya 800an desa," kata Sudaryanto, kemarin.

Sudaryanto lebih lanjut menjelaskan, untuk mengatasi kekeringan yang ada di Jateng digelontorkan 11.898 tangki air bersih atau setara dengan 57,5 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat. Pemprov, menganggarkan Rp320 juta, untuk droping air bersih guna mengatasi kekeringan tahun ini.

"Kami juga akan berkoordinasi dengan BNPB, jika memang dana droping air bersih provinsi menipis. Namun, sejauh ini masih bisa dilakukan pemprov," tandasnya. (K-08)