|

Paham Radikalisme Pakai Jalur Pendidikan, Pemprov Gandeng Ormas Keagamaan Ikut Pantau Proses Pembelajaran

Gubernur Ganjar Pranowo menyatakan ada kepala sekolah di Jateng
yang terpapar paham radikalisme.
Semarang-Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan bagi para kepala sekolah yang terpapar paham radikalisme akan dibina untuk mau kembali, dan pihaknya akan terus memantau perkembangannya. Sedangkan yang sudah tidak bisa dibina, maka akan diambil tindakan sembari berkoordinasi dengan aparat kepolisian.

Ganjar menjelaskan, ada dua hal yang menjadi fokus dalam meluruskan ideologi keliru. Salah satunya, dengan mengajak semua organisasi keagamaan untuk meluruskan ideologi yang melenceng.

"Beberapa sudah melapor ke saya, bagaimana pelajaran agama itu diberikan. Dari beberapa riset menyebut, bahwa jalur pendidikan itu dipakai. Maka, pelajaran-pelajaran agama yang disampaikan itu perlu kita perhatikan juga, agar tidak diselewengkan. Kita harus kembalikan ke jalan yang benar, dan kita ajak organisasi keagamaan," kata Ganjar, belum lama ini.

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan, partisipasi dari masyarakat ikut memantau paham radikalisme juga perlu dilibatkan. Karena, hal itu bagian dari kepedulian kepada bangsa dan negaranya.


Rektor UPGRIS, Muhdi saat memasukkan uang di
celengan kreasi mahasiswanya, Selasa (17/9).
Sementara, Rektor UPGRIS Muhdi menyatakan lembaganya sebagai pencetak calon guru juga mempunyai peran dalam membentengi dari paham radikalisme. Salah satunya, dengan penanaman pendidikan karakter kepada para mahasiswa.

Pendidikan karakter diberikan kepada mahasiswa sejak kali pertama masuk di bangku perkuliahan, jelas Muhdi, untuk membekali mahasiswa dengan pendidikan karakter yang kuat.

Menurutnya, dengan pendidikan karakter yang berbasis pada religius nasionalis dan nasionalis religius ini diharapkan mahasiswa nantinya tidak mudah terpapar terhadap paham radikalisme.  

"Religius yang nasionalis dan nasionalis yang religius. Berangkat dari ini, UPGRIS menerjemahkan dalam bentuk pendidikan karakter. Pendidikan karakternya adalah nasionalis yang religius. Hal itu dimasukkan dalam perkulihan atau kehidupan sehari-hari. Sehingga, tidak terjebak pada paham radikalisme," ujar Muhdi, Selasa (17/9).

Muhdi lebih lanjut menjelaskan, pihaknya juga terus memberikan edukasi kepada para mahasiswanya sikap saling toleransi terhadap sesama. Sebab, di kampus UPGRIS juga banyak mahasiswa dari beragam latar belakang suku dan agama.

Pakar psikologi dari Undip, Hastaning Sakti menambahkan, memasukkan paham radikalisme paling mudah melalui sistem pendidikan. 

Hastaning menjelaskan, para pelaku atau jaringan paham radikalisme dengan mudah menyampaikannya lewat pelajaran di sekolah atau pendidikan formal lainnya. Sebab, para peserta didik lebih mudah menerima apapun yang diberikan dari para pendidik atau gurunya.

"Karena dunia pendidikan adalah dunianya anak-anak, untuk menanamkan sebuah konsep. Konsep yang mereka pakai adalah konsep yang sesuai dengan perkembangan anak. Yaitu konsep yang konkret. Maka, pendidikanlah yang mudah untuk menjadi contoh dan alat untuk memasukkan," ucap Hastaning, Selasa (17/9).

Lebih lanjut Hastaning menjelaskan, ada banyak faktor yang kemudian membuat paham radikalisme itu mudah diterima dari disebarkan lewat pelajaran. Salah satunya, karena sudah luntur pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang menjadi warisan nenek moyang.

"Biasanya, paling mudah anak-anak ini gampang dipengaruhi dan ditanamkan paham itu. Secara psikologis, anak-anak mudah menerima apa saja yang diberikan gurunya," pungkasnya. (K-08)

Posted by kilas9.com on Selasa, September 17, 2019. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Paham Radikalisme Pakai Jalur Pendidikan, Pemprov Gandeng Ormas Keagamaan Ikut Pantau Proses Pembelajaran"

Leave a reply

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added